Baby Blues Fear No More

mom_park_iStock_000016737528Medium
gambar dari themotherbabycenter dot org

Sebelum melahirkan saya sudah pernah dengar makhluk bernama baby blues, tapi saya abaikan. Rasanya gak masuk di akal; moso iya baru melahirkan dan punya anak pertama bisa depresi; kan seharusnya hepi. Sampe mikir jadi cewe jangan cengeng pokoknya ga ada itu yang namanya baby blues.

Hingga saya melahirkan anak pertama.

Sesudah melahirkan dunia saya rasanya sangat membingungkan *wih kalimatnya*. Saya bahagia punya anak (bahagia banget malah), tapi kebahagiaan ini ditutupi oleh emosi-emosi negatif yang ga tau datangnya dari mana. Saya mulai dominan subjektif; memandang sesuatu berdasarkan pemikiran saya yang pada waktu itu kebanyakan prasangka buruk daripada baiknya; kebanyakan negatif daripada positifnya.

Saya membuat keputusan besar. Saya resign. Makin depresilah saya karena tekanan pasca resign. Biasa bertemu banyak orang sekarang full time di rumah. Saya sama sekali tidak bahagia. Saya ratu drama. Tiap orang rasanya pingin saya ajak berantem. Perkataan dan perbuatan saya mungkin membuat beberapa orang tersinggung. Sok jagoan padahal tiap hari nangis sejadi-jadinya di kamar mandi. Kalaupun saya tertawa atau tersenyum sebenarnya hati sedang menjerit kencang.

Meskipun masih bisa mengurusi RFA dengan baik, tapi hati senang itu susah dicarinya. Saya tau ada yang salah dengan diri saya, tapi ga tau apa, gimana cara benerinnya.

Ternyata setelah melahirkan perubahan hormon benar-benar bikin saya up-side-down. Saya salut pada suami dan keluarga besar yang cukup sabar menghadapi saya di saat-saat itu. Depresi pasca melahirkan yang saya alami, tidak hilang dalam seminggu dua minggu, melainkan berbulan-bulan.

So, baby blues, what creature exactly are you?


BABY BLUES

Dilansir dari nhs.uk, Memasuki minggu pertama setelah melahirkan, banyak Ibu mengalami Baby Blues yaitu perasaan down dan depresi pada saat yang bersamaan. ‘Baby blues’ kemungkinan besar diakibatkan oleh perubahan hormon dan substansi kimia yang tiba-tiba berubah pasca sang ibu melahirkan bayinya.

Gejala-gejalanya meliputi :

  • Mudah emosi dan tersinggung
  • Menangis tanpa alasan yang jelas
  • Merasa tertekan
  • Merasa cemas tanpa alasan

Meskipun demikian, gejala-gejala di atas termasuk normal dan biasanya hanya bertahan dalam beberapa hari saja.

Apabila gejala ini tidak hilang dalam beberapa hari, maka ibu kemungkinan menderita :

Postnatal Depression

Postnatal Depression biasanya muncul dua hingga delapan minggu setelah melahirkan. Meskipun ada yang mengalaminya hingga setahun setelah melahirkan.

Gejala Postnatal Depression yang umum dijumpai :

  • loss of interest kepada bayi
  • Merasa tidak punya harapan
  • Sering menangis
  • Merasa tidak sanggup menjalani hidup
  • Merasa hidup tidak menyenangkan
  • Sulit untuk fokus/pelupa
  • Cemas yang berlebihan

Gejala-gejala lainnya meliputi :

  • Mudah panik
  • Sulit Tidur
  • Rasa lelah yang berlebihan
  • Tubuh selalu merasa sakit
  • Merasa keseluruhan badan tidak sehat
  • Cemas yang berlebihan
  • hilang nafsu makan

Postpartum Psychosis

Kondisi ini dikenal juga dengan nama puerperal psychosis. Kondisi ini meskipun jarang, namun masih ditemui pada 1 dari 1000 ibu yang melahirkan. Gejala yang umum ditemui adalah perubahan perilaku secara mayor, terkadang terlihat seperti penyakit mental. Penanganan yang lebih serius diperlukan.

Postnatal Post-traumatic Stress Disorder (PTSD)

Postnatal post-traumatic stress disorder (PTSD) terjadi akibat proses melahirkan yang mengakibatkan trauma. (Trauma disini terjadi karena banyak hal. Bisa karena menahan sakit kontraksi berjam-jam tapi belum bisa melahirkan karena bukaan yang ga bertambah, kelahiran secara normal yang dipaksakan dll) Gejala yang umum terlihat adalah rasa ketakutan yang tinggi akan proses melahirkan itu sendiri

Gejala PTSD dapat terlihat segera setelah sang ibu melahirkan atau beberapa waktu setelahnya.

*sumber dari sini


baby_blues

DAMPAKNYA MENYERAMKAN

Ketika saya baby blues, orang terdekatlah yang paling merasakan dampak buruknya. Suami, keluarga besar, bahkan anak.

Dunia pernah mencatat bahwa dampak baby blues tidak bisa dianggap enteng; mulai dari buruk hingga luar biasa buruk; dari maunya berantem mulu hingga membunuh. Ingat Kasus Andrea, seorang ibu rumah tangga yang tega membunuh kelima anaknya atau kejadian di Bandung seorang Ibu membunuh tiga anaknya? konon itu karena akumulasi dari baby blues yang tidak tersembuhkan (untuk kasus Andrea bahkan sudah ditegaskan).

Astagfirulloh, semoga kita semua selalu dilindungi Alloh dari hal-hal sedemikian.

 

JADI HARUS BAGAIMANA?

Selain new mommy harus menguatkan diri sendiri, bantuan dari pihak terdekat juga sangat membantu. Peran suami saya rasakan PALING PENTING agar baby blues dapat teratasi, selain peran-peran dari keluarga besar. Secara poin dapat dituliskan :

  • Ketika hamil, sudah memiliki kesadaran penuh akan bahaya baby blues dan mengantisipasinya sejak dini; JANGAN MENGANGGAP ENTENG.
  • Perdekat diri dengan Ilahi, rajin mengaji dan salat malam.
  • Antisipasi dengan mengerjakan hal-hal yang kita sukai. Bisa dengan membeli banyak buku baru, DVD Korea baru, nonton Two Broke Girls edisi baru atau bisa juga mobil baru-meski dipelototin suami, hehe.
  • Banyak-banyak kena sinar matahari pagi karena ia dapat merangsang produksi hormon serotonin, sebuah neurotransmitter di otak yang mengatur suasana hati. Tingkat serotonin yang cukup tinggi dapat menghasilkan suasana hati yang lebih positif dan cara berpikir yang tenang dengan mental yang fokus.
  • Sinar matahari juga dapat mengurangi gejala depresi dengan cara melepaskan endorfin. Endorfin sendiri adalah suatu anti-depresan alami yang dimiliki tubuh dan sangat berguna dalam kasus-kasus depresi musiman.
  • Pegang kendali. Bila fikiran sudah ke arah negatif lawan dengan prasangka baik, fikiran positif dan banyak-banyak bersyukur.
  • Jangan mudah mengumbar kemarahan. Pikir dua kali sebelum marah-marah. Jangan mudah ‘menyakiti’ suami atau orang terdekat dengan perkataan yang akan disesali kemudian; bila marah lebih baik diam.
  • Kalau tetap ingin marah, atau frustasi, bisa beralih ke aplikasi note di  cellphone, ketik semua sumpah serapah atau kata-kata makian, lalu simpan. INGAT JANGAN DI SHARE.
  • Ketika sudah ‘dingin’ cari seseorang yang nyaman untuk jadi tempat curhat secara berkala. Bisa suami, Ibu atau sahabat yang tidak men-judge.
  • Jangan mengurung diri di rumah. Kalau sudah merasa sumpek minta suami untuk menemani sekedar jalan-jalan sore di taman bersama debay, atau belanja kebutuhan bayi dan shopping-shopping ke mal.
  • Sesekali hang-out dengan adik, kakak, atau sahabat. The baby bisa dititipkan dulu dengan orang tua atau mertua.
  • Jangan merasa bersalah ketika hang-out. This is for insanity. Sesekali keluar rumah sejam dua jam untuk ngopi-ngopi cantik itu normal. Yang tidak normal adalah mengurung diri di rumah dan tidak keluar berminggu-minggu.
  • For the husband, please be kind. Semakin suami mau bekerjasama dan mau mengerti maka semakin mudah bagi new mom untuk recover dari baby bluesnya.
  • For the husband, please aware. Ajak new mom banyak-banyak mengobrol. Pahami ia, banyak memaklumi, bantu ia mengurus bayinya, dan banyak memaafkan bila istri menjengkelkan. Jangan menambah depresi dengan mengajaknya berantem atau beradu argumen; misalnya. Jika sedang mengalami baby blues, istri anda sedang tidak menjadi dirinya sendiri.

Namun bila hal-hal tersebut tidak bisa mengatasi depresi yang semakin parah (ada kecenderungan ingin menyakiti diri sendiri atau bayi) SEGERA CARI BANTUAN. Bicarakan dengan suami, dan mintalah rujukan ke psikolog atau ke psikiater.


Alhamdulillah pasca melahirkan anak kedua, saya sudah tidak mengalami baby blues. Saya merasakan tidak ada gejolak emosi atau depresi yang berarti, karena saya memang lebih ‘aware’ menghadapinya daripada pengalaman melahirkan yang pertama. Suami serta keluarga besar juga sangat membantu saya mengatasinya – oh not forget to mention berkeping-keping DVD Drama Korea yang sangat-sangat menghibur hati 😀

Last, Selamat menikmati peran menjadi Ibu baru ya new mommy. Jangan mau kalah dengan baby blues. Karena dengan melewati proses hamil, dan melahirkan, malaikatpun sudah tau siapa juaranya; jadi, berbahagialah 🙂

 

 

 

 

Advertisements

11 Comments

    1. Betul Shofi Fams, peran Suami memang sangat dominan bagi Istri. Suami yang sabar, pengertian dan mau membantu rasanya itulah pengobatan paling mujarab untuk baby blues 🙂

      NinaFajriah
    1. Iya Mas Al, sindrom itu memang ada dan dampaknya bisa sangat menyeramkan bila tidak diatasi dengan tuntas. But you still have a looong time to go. Nanti kalau sudah tiba saatnya Istrimu memiliki anak pertama, dampingi dia through the process yaa. Untuk sekarang gapapa bisa buat pengetahuan dulu, hehe 🙂

      NinaFajriah
  1. Aku juga anak pertama baby blues.. hampir dua minggu.. tungnya udah tau apa itu baby blues.. tapi tetep ajaa.. ahahaa..

    suami harus tau apa itu baby blues..hal pertama yg dilakukan suami besoknya langsung diajak jalan2 setelah dia sadar istrinya baby blues hahaha… langsung ilang perasaan ga karuan itu..
    bye bye mitos ga boleh keluar sebelum 40hari ituu ahahahah

    intan muqorobin
  2. Intaann… aku juga ngelabrak semua mitos-mitos pasca melahirkan tuh. Ga boleh potong rambut sebelum 40 hari? aku Jabanin! soalnya udah stress, depresi, rambut lepek bau karena berminggu-minggu ga keramas. Akhirnya nekat ke salon, creambath potong rambut! 😀

    Iyaaa sepakat…. penting bagi suami untuk tahu mengenai baby blues jadi bisa mengantisipasinya bersama-sama. Bisa jalan-jalan sama suami, sekedar shopping atau makan es krim berdua bisa menyembuhkan itu baby blues hahaha. Thank you for sharing Intan 🙂

    NinaFajriah
  3. Pingback: Hal-hal yang Saya Harap Saya Ketahui Ketika Hamil Anak Pertama - BONADAPA.COM

Cool People Say :