Empat Genre untuk #Girlboss : Sophia Amoruso

Saya berjodoh dengan buku ini secara ga sengaja sik sebenernya, tapi apa daya hati jatuh cinta tetiba masuk ke Periplus Bandara. Dan kebetulan saya memang pernah baca sekilas mengenai Mbak Sophia ini di Kontan Online. Jadi ketika ngeliat bukunya, tambah besar magnet ketertarikan untuk membelinya. (Pembenaran)

Speaking about Sophia Amoruso, who is she, anyway?

Sophia Amoruso adalah CEO dari Nasty Gal Vintage, sebuah toko online baju vintage yang lahir di tahun 2006 dan berkembang dari e-bay.

Kalau di Indonesia, baju Vintage bisa diartikan sebagai baju dengan model jaman dulu. Nah di nasty gal vintage ini, Sophia menjual baju vintage – tapi yang bekas.

Saat ini, 8 tahun kemudian,  Nasty Gal yang berasal dari Los Angeles ini menjelma menjadi salah satu toko online dan offline terbesar di bidang fesyen beromzet US$ 100 juta per tahun  dan mempekerjakan 350 orang.

Diberi gelar sebagai “Fashion’s New Phenom” oleh Forbes, saat ini Sophia berumur 31 tahun.

ABOUT THE BOOK

IMG_20151030_073627

#Girlboss bisa jadi ditulis dan diperuntukkan untuk wanita muda macam saya (lalu ditimpuk massa), tapi ga ada yang larang juga kalau cowo-cowo ada yang ingin membaca, hehe.. (wise advice asal jangan di depan publik atau kasih sampul kopi biar covernya tersamar) 😀

Buku ini berjumlah 289 halaman, ga terlalu tebal bagi seorang avid reader. Bukunya kecil, 17 x 10.5 cm, nyaman digenggam, enteng dibawa kemana-mana. Terbagi menjadi 11 Bab, buku ini cukup unik, sehingga saya lumayan bingung menentukan genrenya.

  1. Buku Biografi

girlboss2

Di bab awal, buku ini banyak menceritakan mengenai Sophia dan masa kelamnya sebelum Nasty Gal Vintage lahir. Sehingga saya berfikir buku ini adalah buku biografi.

Hidupnya Sophia sebelum 2006 penuh dengan cerita ke-tidak sukses-an dalam pendidikan, tidak kuliah, suka mencuri, orang tua bercerai,  menderita hernia, tidak punya uang. Akhirnya kepepet karena butuh uang, ia menciptakan Nasty Gal Vintage di tahun 2006 yang kemudian sukses besar. Bak Cinderella, kehidupannya berubah from zero to hero karena the power of kepepet tadi, hehe.

Sophia bisa jadi bak seorang Cinderella dalam dunia bisnis Fashion Amerika. Tapi dia tidak mendapatkan kesuksesan lewat ibu peri baik hati. Instead, dia mendapatkannya dari komitmen kuat dan kerja keras. Karena ketika kamu bekerja keras, maka keajaiban akan terjadi, kata Sophia.

Sophia seolah mengajak pembacanya untuk jangan menghakimi diri sendiri as a loser ketika hidup saat ini rendah pencapaiannya, karena masa depan bisa jadi berbeda. Selama ada keinginan berubah menjadi lebih baik, selalu ada kesempatan untuk meraih kesuksesan.

Hidup mbak Sophia!

2. Buku Pengembangan Diri

IMG_20151106_071455

Di sepertiga buku, Sophia mencoba meyakinkan pembacanya untuk percaya pada diri sendiri, menerima diri apa adanya.

Lahir sebagai introvert, Sophia merasa tidak nyaman jika harus bekerja dengan orang banyak. Ia pernah bekerja di beberapa tempat, namun selalu berakhir dengan cerita mengundurkan diri hingga dipecat. Niatnya membentuk Nasty Gal vintage adalah supaya ia tidak perlu bekerja dengan banyak orang.

Jangan sedih jika kamu introvert dan merasa tidak femes. Sophia berkata ada perbedaan antara orang yang hanya pintar berbicara dengan orang yang pintar menciptakan ide. Just dont try to hard to fit in when you were born to stand out. Jika kamu ingin menjadi seorang #girlboss, hal pertama yang harus dilakukan adalah kamu harus menerima dirimu apa adanya.

Heyya stay weird!

3. Buku Bisnis (dan juga beberapa nasihat tentang keuangan)

63

Bergerak ke pertengahan buku, Sophia menulis bagaimana ia bekerja keras untuk Nasty Gal.

Dari segi bisnis, seorang Sophia ndak tau ilmu bisnis, ndak tau apa itu margin, boro-boro break even point. Yang ia tahu adalah ia harus memberikan pelayanan terhadap pelanggan dengan sebaik-baiknya. Di awal-awal merintis usahanya Sophia berlaku sebagai Chief of Everything Officer dimana semua dikerjakan sendirian : Ia mencari baju, membuat foto, mengedit foto, memostingnya, menulis sebagai copy writer, seksi penjualan, menjawab email, keluhan dan lain lain, Tapi Pelanggannya selalu puas. Terjadilah word of mouth marketing, lalu Nasty Gal menjadi terkenal, dan Sophia menjadi CEO beneran.

Hebatnya Sophia, meskipun sekarang ia kaya, ia tidak lantas royal menghamburkan uang pergi mallwalking dan keluar menenteng tas Prada (emangnya Nina). Di bab 5 ia menuliskan bahwa Money Looks Better In the Bank Than on Your Feet. Ia juga menekankan bahwa seorang #Girlboss semestinya menyisihkan uang penghasilannya (setidaknya 10%) untuk investasi, dan ia sangat tidak menyarankan untuk menggunakan credit card bcoz cash is always the king (Sejujurnya bagian ini yang paling saya suka karena bisa diterapkan untuk diri sendiri, hehe)

4. Buku Dunia Kerja

Agak surprise ketika membaca bagian ini. Disini Sophia menjelaskan secara blak-blakkan sudut pandang seorang pekerja, dan seorang pemberi kerja. Bahkan, ia menyarankan apa yang seharusnya tidak dituliskan dalam surat lamaran kerja. Jadi buat para freshgraduates, buku ini bagus banget untuk mengetahui melihat bagaimana para HRD menilai calon pekerja yang cocok untuk perusahaan mereka.

Satu yang saya noticed adalah bahwa Sophia suka bekerja dengan orang-orang yang memiliki atitud yang baik. Ia menulis ‘Kalau kamu hanya baik dengan seseorang yang jabatannya di atasmu tapi ga baik dengan para pegawai kecil bahkan jahat dengan pegawai starbucks di lantai bawah, well, maka saya sebagai bosmu juga tidak akan merasa senang kepadamu”

*Nina lompat dipinggir lapangan sambil gerakkin pom pom*

——

So, kesimpulan saya, buku ini bagus dan asik dibaca, karena :

  • Ditujukan untuk semua wanita, terlebih untuk para freshgraduate yang sedang bingung mau dibawa kemana hubungan kita – maksudnya antara jadi pegawai atau membangun bisnis sendiri.
  • Buku ini sangat bagus untuk wanita YANG TELAH memilih bisnis sebagai jalan hidupnya, atau wanita YANG AKAN memilih bisnis sebagai jalan hidupnya.
  • Cara pandang Sophia yang kurang suka dengan pendidikan formal dan membangun bisnis dari bawah membuat ia menulis tanpa beban. Ia bahkan menulis dengan kata-kata ‘preman’ dan ga jaim meskipun sekarang ia adalah pemilik perusahaan besar. (Mungkin di Indonesia mirip Bpk.Alm.Bob Sadino yang juga ga jaim ketika berbicara atau menulis)
  • Saya ingat seorang teman yang bilang bahwa Nina kalau menulis keliatan banget semangat di awal, lesu di akhir. Dan saya pikir buku ini juga begitu. Pada bab-bab awal isinya sangat menarik namun di bab terakhir menjadi agak membosankan. At least saya benar-benar harus agak pushing myself untuk sampe ke finish line. hah. hah. *elap keringet di dahi*

Nah itu dia rangkuman saya mengenai #Girlboss. Semoga bisa memberikan pencerahan bagi yang penasaran akan bukunya ya 🙂

Advertisements

11 Comments

  1. bukunya bahasa inggris ya mbak ._. duh wkwkwk

    aku menandai point satu dan dua mbak. Ini berlaku buat cowok bisa kan ya :’ bahwa hasil nggak akan mengkhianati usaha ya mbak. dan satu lagi, buat orang introvert (kayak aku yang nggak pandai ngomong) masih banyak peluang buat sukses, jadi, optimis dan terima diri apa adanya dulu :)) sukaaa mbak 😀

  2. Pingback: Cerita Singkat Buku Lean In by Sheryl Sandberg | Bonadapa

  3. Pingback: Review The Intern (2015) – Bona, Ada Apa?

  4. Pingback: Ketika Saya Membaca – Bona, Ada Apa?

Leave a Reply