Gone Girl : Sebuah Diskusi

Awal tahun 2015 ini saya mulai dengan membaca buku Gone Girl (GG). Alasannya sederhana : saya adalah movie geek dengan tim penasihat dari Rotten Tomatoes. Ketika saya melihat sebuah film dengan rating tinggi di Rotten, maka saya akan sangat penasaran untuk menonton filmnya.

dan Gone Girl, memiliki skor yang tinggi di Rotten selama beberapa minggu. Bad News, GG tidak tayang di Indonesia. Kabarnya, gara gara ada satu scene naked Ben Affleck yang tidak boleh disensor oleh Badan Sensor Nasional. Lembaga sensor ngotot mau nyensor; yang bikin film ga mau disensor. Jadilah film tersebut batal tayang di Indonesia.

Tapi saya terlanjur penasaran, dan waktunya tepat bgt ketika suatu waktu saya bengong bengong di SHIA menunggu boarding, lalu tertarik ke Periplus, dan keluar membawa itu buku : Gone Girl by Gillian Flynn.

The Book.

First, let me tell you briefly about what story this book about.

Ceritanya tentang kehidupan pernikahan Nick dan Amy ketika menginjak tahun ke 5.

Di buku, secara mendetil dituliskan gambaran psikologis Any dan Nick dan apa yang mereka pikirkan mengenai kehidupan pernikahan mereka.

Dari yang saya baca, terkesan Each of them has trauma. Nick digambarkan sebagai seorang pria yang sangat dekat dengan ibunya; ia memiliki ayah yang sama sekali tidak dapat dijadikan panutan (karena sering berkata kasar dengan ibunya dan bertingkah laku yang kurang pantas terhadap wanita). Nick berusaha keras dan menjadi agak paranoid dengan kemungkinan ia akan menjadi seperti ayahnya. Pekerjaan Nick semula adalah penulis, namun belakangan ia kehilangan pekerjaan. kemudian menggantungkan diri pada usaha barnya yang bernama THE BAR yang dimodali oleh istrinya.

Amy seorang gadis New York serba sempurna. Ibu dan ayahnya menulis tentang dirinya dalam buku anak anak bertajuk Amazing Amy yang sangat terkenal. Karena image Amy di buku tersebut, Amy dituntut untuk selalu menjadi Amazing dimanapun ia berada dan ini seolah menenggelamkan pribadi yang sesungguhnya. I kaya, memiliki banyak uang, ia memodali The Bar, tapi tidak pernah bisa menjadi dirinya sendiri.

Di hari Anniversary pernikahan mereka yang ke 5. Nick menemukan Amy hilang dengan meninggalkan rumah yang berantakan seolah telah terjadi suatu perlawanan, penyiksaan (ada bekas darah yang dihapus dilantai dapur), dan berbagai petunjuk lainnya seolah olah Amy hilang karena disiksa lalu dibunuh.

Semua petunjuk mengarah dan memberatka pada Nick.

My Opinion

Buku ini bisa jadi berbeda bila dibaca oleh orang dengan status berbeda.

yang single kemungkinan besar akan bertanya-tanya apakah kehidupan pernikahan sangat demikian rumitnya dan menakutkan sehingga bisa jadi enggan untuk menikah.

yang sudah menikah dan pernikahannya bahagia, akan heran menonton film ini dan berfikir bahwa this is just another crap movie; film psikopat dengan pesan moral yang sangat dangkal; bahkan tidak mengerti sama sekali mengapa ia membaca buku ini for the first time.

yang sudah menikah dan pernikahannya tidak bahagia, akan memiliki pikiran untuk berbuat sama seperti Amy; berharap suami atau istrinya mati. Tapi setelah dipikir pikir lagi tampaknya ia tidak berani jika harus berbuat segila atau se-psikopat Amy, hingga lalu gagasan ini akan disimpan di hati saja.

What’s going on in Marriage?

saya tidak akan menguliahi. pengalaman saya baru berada di tahun ke 6 perkawinan. Saya hanya ingin berkata. Don’t take Gone Girl seriously.

Ketika kita sudah menjadi baik (dan biasanya akan diberi jodoh yang baik pula) maka kehidupan perkawinan tidak akan menjadi separah perkawinan Nick dan Amy. Meskipun tidak bisa menjadi mudah juga.

Nick is mild psychopath. he got that from his dad.

Amy is worst psychopath. she grew pretending she was the real amazing amy; that she’s not. She never found joy being herself. She doesn’t recognize who she really is. She’s crazy.

Satu yang pasti : kehidupan pernikahan MEMANG tidak mudah dan tidak akan pernah menjadi lebih mudah bagi siapa saja yang menjalaninya. Kecuali ia ikhlas dan selalu berserah diri kepada yang maha kuasa.

setiap orang pasti memiliki kekurangan. Pasangan kita bukan malaikat. Kita bukan malaikat. Kita tidak bisa mengharapkan pasangan kita untuk menjadi sempurna; demikian sebaliknya. Ketika kita merasa jengkel dan frustasi mengenai pasangan kita; maka sesungguhnya ia juga merasa sangat lelah beradaptasi dan juga frustasi dengan kita.

Ibarat tanaman, kita adalah dua bibit yang ditanam dan dibesarkan dalam pot yang berbeda. ketika dijadikan satu, kita berharap semuanya akan sama : tanah, air,udara, cahaya. Tapi kita harus kecewa karena semuanya (ternyata) terasa berbeda. Dan kita harus beradaptasi dengan segala perbedaan tersebut.

But we love each other? nonsense.

beberapa tahun menikah, baru akan teruji manusia seperti apakah kita.

Apakah kita manusia yang baik, menjadi terus setia dan menjauhi hal hal buruk simply just because we know that it’s not a good thing to do?

Apakah kita manusia yang asshole, selalu bisa berpaling ke lain hati ketika menemukan pria/wanita lain yang dirasa lebih menarik tanpa menghiraukan pasangan kita?

Menurut saya, jalan pernikahan boleh jadi berat; namun seberat apapun perjalanan hendaklah kita terus berpihak melakukan hal hal yang benar,karena antara benar dan salah tidak akan pernah bisa tertukar.

Dan dengan terus melakukan hal yang benar semoga tidak akan pernah timbul pertanyaan:
What are you thinking?
How are you feeling?
Who are you?
What have we done to each other?
What will we do?

Baca juga : Catatan Buku-Buku yang Ter (Pt.1)

 

 

Advertisements

Cool People Say :