Mau dibawa kemana UBER Indonesia?

Palembang, 2013

Saya melihat jam berkali-kali.

Gilak. Jarum jam bergerak ke angka 5 sore dan saya masih duduk di halte Transmusi di depan kampus. Saya sudah menunggu selama setengah jam namun tak kunjung ada tanda-tanda kapan Transmusi datang.

Mata saya tak lepas dari tikungan; sekira ada mobil besar datang jantung saya langsung berdegup kencang. Itu dia Transmusi yang saya tunggu! namun saya harus menelan kecewa lagi dan lagi.

Ibarat anak muda sekarang bilang, saya di PHP-in sama Transmusi.

Merasa kesal, saya membuka facebook lalu mengetik status :

Andaikan ada aplikasi di HP yang bisa menunjukkan keberadaan Transmusi, sehingga yang menunggu tidak seperti pungguk merindukan bulan.

Cerita sore itu ditutup dengan saya yang menyerah dan melepaskan harapan pada Transmusi. Saya menelefon Blue Bird Palembang (0711-361111) dan tak sampai lima menit kemudian sudah duduk nyaman di dalam taksi.

Legakah saya? tidak juga.

Diam-diam saya mengelus dompet; menghitung-hitung ongkos naik taksi yang lebih besar daripada duit jajan dua hari. Hiks.


Bandung, Maret 2016

Saya anak daerah yang tidak tahu apa-apa.

Pun ketika punya rezeki liburan di Bandung, Suami menghitung-hitung.

Naik apa kita kemana-mana ya? apa kita sewa mobil aja?

Sewa mobil kosong di Bandung Rp300.000/hari

Hitung-hitung lagi, kalau Naik taksi aja gimana?

Biaya naik taksi di Bandung selama beberapa hari nominalnya bikin hati pedih.

Lalu suami nyeletuk : Coba pakai Uber Yuk?


Jpeg

Selama 4 hari di Bandung kami benar-benar menggunakan Uber kemana-mana (eh kecuali pas ke D Javan Steak sempat naik angkot sekali deng). Rasanya naek UBER? wuih menyenangkan! serasa punya mobil pribadi terus ganti-ganti. Hahahaha.

Saya memang dengar dari tv nasional yang di rumah saya seringkali kalah rating dengan Disney Junior bahwa Uber sedang menjadi polemik pelik di Ibukota; pengusaha serta pengemudi taksi ketar-ketir dibuatnya.

Tapi sebagai konsumen daerah yang – baru kali ini naik uber – saya ingin menuliskan beberapa hal yang membuat saya langsung terpikat pada UBER.

 

Aplikasi. Aplikasi. Aplikasi.

Siapa disini yang tidur bahkan sambil pegang hape?

Kamu jomblo ya? *eh

Bahkan yang bukan jomblo pun saya yakin banyak yang tidur hapenya ga jauh dari jangkauan.

Kemudahan memesan kendaraan lewat aplikasi hape yang notabene dibawa orang kemana-mana itu sangat jenius. Orang-orang jadi bisa memesan kendaraan dari mana aja. Bahkan ketika yang bersangkutan sedang di wc sekalipun.

 

Lacak. Lacak. Lacak.

Mimpi saya mengenai Transmusi, yang bisa dilacak keberadaannya melalui hape, terwujud melalui uber.Β  Pun kalau tidak ada driver terdekat, saya langsung bisa pindah ke lain hati cari alternatif kendaraan lain – sehingga saya tidak rugi waktu terlalu banyak. Pergerakan kendaraan pun terpampang nyata lewat layar hape, sehingga SAYA GA BISA LAGI DI PHP-IN. HIH.

 

Biaya. Biaya. Biaya.

demandcurve

  • Entah di kota lain, di Palembang hotline taksi masih pake nomor lokal – yang artinya kalau saya telefon masih harus menggunakan pulsa.
  • Sedangkan kalau UBER yang pake aplikasi cuma makan data. Terus kalau taksi, saya ndak bisa lacak sudah sampai mana keberadaannya. Kecuali ya itu, saya telefon – ehyandalah keluar pulsa lagi.
  • Rate uber memang lebih rendah. Ini yang bikin banyak pengusaha taksi kebakaran jenggot. Rate taksi masih mahal. Beberapa taksi bandara malah nakal, ga mau nyalain argo kalau ada penumpang yang kelihatan lugu. Seperti pengalaman teman suami kemarin di Bandung.. Moso iya Bandara – Sheraton kena 200 ribu??
  • Rate yang transparan. Saya diceitakeun mengenai tarif Uber yang menggunakan sistem pengali dikala rush hour. Jadi kalau traffic sedang padat semisal Bandung di kala wiken atau Hujan, pengalinya bertambah sebagai kompensasi dari kemacetan dan sebagainya. Pengali 1.5 berarti mereka menaikkan rate sebesar 1.5x dari tarif normal, demikian seterusnya. Bila calon penumpang jeli, sebenarnya semuanya di informasikan di awal ketika calon penumpang menginput tujuan. Jadi penumpang masih bisa memilih tetap mau naik Uber atau tidak dan ga kaget juga karena bayarannya lebih mahal. Kata salah satu driver Uber yang saya temui, merekaΒ  mengatakan bahwa ada juga penumpang yang menolak setelah melihat tarif mereka terkena pengali besar. Beberapa calon penumpang memilih untuk menunggu hingga pengali tarif turun dan lebih kecil dari pengali tarif semula πŸ™‚
  • Naik gratis turun bayar, slogan di angkot. Kalau Uber bisa naik gratis turun ga bayar karena tagihan bisa langsung masuk CC terus sebelumnya kita sudah diberi estimasi perkiraan biaya jadi ga jantungan ketika nerima tagihan. Pun dengan cara ini sebenarnya UBER turut mensukseskan gerakan LESS CASH SOCIETY yang dicanangkan oleh BI yes πŸ˜€

Dear Government, Sama halnya dengan GOJEK, Uber jangan diberangus, plis.

Itu kata saya sebagai konsumen. Lah gimana, wong UBER kasih banyak keuntungan dan kemudahan di saya sebagai konsumennya.

Bukan hanya konsumen deng, beberapa driver Uber juga mengaku sangat senang kerja di UBER.

Salah satu driver Uber yang saya tumpangi kemarin mengatakan ‘Kalau saya mau narik, saya tinggal nyalain aplikasi. Kalau ga mau narik saya matiin aplikasinya. Saya berasa punya perusahaan sendiri mbak!’ *berasa Chairul Tanjung gitu ya*

Beberapa driver Uber yang kami tumpangi malah tidak berasal dari Bandung. Bahkan ada yang berasal dari Palembang. ‘Di Palembang belom ada UBER mbak, jadi aku ke Bandung’ *Halesan Modus padahal pingin dapet cewe Bandung, ihihi*

Uber (ternyata) juga memantik peluang usaha baru ‘Jadi saya kerja sama bos saya yang punya lima mobil dan semuanya Nguber Mbak. Bos saya di rumah tinggal pantau pake aplikasi di hape’ *bosnya pake sistim MLM*

Wow.

Ketika ditanya tanggapan demo Uber yang sedang marak mereka hanya mengaku pasrah karena meski mereka merasa diuntungkan, mereka tidak menampik kalau Uber memang tidak mengikuti regulasi yang berlaku di Indonesia.


Jadi solusinya apa?

Saya ini emak-emak yang anaknya dua; jelas bukan pakar. *lha yg bilang sampean pakar sopo toh mbakyu*

Namun sebagai konsumen, harapan saya adalah dengan kehadiran Uber, jadi ketukan bagi banyak pihak terkait untuk mau berevolusi. Urgently.

Kata opa EinsteinΒ  : Tidak ada yang abadi di dunia kecuali perubahan.

Perubahan yang berlangsung melalui proses namanya evolusi.

Driver Taksi lokal harus berevolusi. Misalnya dengan meningkatkan layanan kepada penumpang dan menyalakan argo agar tidak ada lagi cerita taksi driver menolak menyalakan argo dan menetapkan biaya semena-mena (terlebih di Bandara). Ini bisa memulihkan kepercayaan konsumen terhadap taksi lokal.

Pengusaha taksi lokal dan pengusaha angkutan seperti Transmusi juga harus berevolusi. Misalnya dengan membuat inovasi dalam layanan, memperpendek waktu dari halte ke halte (untuk Transmusi) agar konsumen ga nunggu kelamaan. Atau bisa juga dengan mengalihkan sebagian dana capital expenditure untuk membuat aplikasi mobile serupa Uber.

Pemerintah harus berubah dengan melakukan evolusi pola pikir, kebijakan, dan kepentingan. Karena jika tidak, banyak peraturan akan patah akibat benturan disana-sini. Pola pikir generasi Y dan Z yang gemar berbagi harus diakomodasi, bukan malah dibendung.

Sementara Uber juga harus bijaksana. Dimana bumi dipijak, langit dijunjung. Minimal harus ‘salaman’ sama yang punya rumah jika berkunjung.

Duduk bareng, makan gorengan, sambil cari solusi bersama. Tidak usah takut; toh pada akhirnya konsumen lah yang memilih siapa yang paling bisa diandalkan dari ini semua.

Dan yang terakhir, menyuarakan pendapat boleh, tapi jangan anarkis atau marah-marah. Apalagi sampe nyuruh penumpang turun di tengah jalan atau bakar-bakaran. Yang ada kita sebagai konsumen bukannya simpati malah jadi apatis. Meymey tidak suka, Meymey tidak suka.

Semoga ada win-win solution untuk hal ini dalam beberapa waktu ke depan ya πŸ™‚


Uber di Palembang

Di searching query banyak yang tanya apakah uber sudah masuk ke Palembang atau belum?

Jawabannya sudah. Per 27 April 2017 Uber sudah masuk ke Palembang. Gih buruan download di google play. Selamat menikmati Uber warga Palembang! πŸ™‚

 

 

Advertisements

19 Comments

  1. Mbak Nina, sempet baca pendapat tentang Uber yang bilang kalo usaha ini bukan bentuk usaha kerakyatan karena oh karena ini adalah bentuk venture capital yang mana nanti sewaktu-waktu yang punya uber bisa aja langsung hapus itu subsidi dan bilang gak bisa lagi kerjasama. Lalalalalililili. Hahahaha.
    Menurut saya, terlepas apakah ini venture capital atau bukan, gimanapun banyak yang merasakan manfaatnya kok. Dan kami konsumen menuntut yang terbaik dan termurah dong ya?

    1. Konsumen pasti maunya yang terbaik dan termurah pasti; Atau bisa yang terbaik meski bukan yang termurah (macam Garuda Indonesia). Whether Uber Venture Capital atau bukan itu kan baru sebatas dugaan; ntah iya ntah enggak (atau cuma dihembuskan untuk ‘menjatuhkan’ Uber). Cuma maksud saya gini Mas. Taksi lokal, daripada ribut-ribut karena mereka merasa rezekinya terancam, mending instropeksi perbaiki layanan. Kenapa masyarakat lebih mau naik Uber? Ada apa sih sama layanan Uber? contoh gini deh. Temen suami saya kemarin, mau naik taksi lokal dari Bandara Bandung sampe ke Sheraton (yang konon cuma 30 menit dari bandara); drivernya langsung nembak 200 ribu. Lah kalau temennya suami (pada akhirnya) terus milih Uber salah siapa coba?. Idealnya kehadiran Uber dan Gojek dijadiken sebagai media pembelajaran, proyek percontohan, dan bukan malah objek ancaman πŸ™‚

  2. penggemar Uber dan grab sudah banyak bangettttt, kayaknya pemerintah ngga bakalan nutup … banyak ruginya kalau menutup. kemajuan teknologi sulit dibendung, semua pebisnis harus bisa beradaptasi. Business model Uber dan Grab beda banget dengan taksi2 tradisional, makanya struktur biayanya bisa murah bangettt .. dan konsumen pasti suka yang murah, nyaman dan aman

  3. Waaaah ke Bandung kalau gak ada kendaraan emang ribet mba πŸ™ apalagi banyak tempat2 yang gak terjangkau kendaraan umum. Kaya tempat2 di daerah atas kota Bandung, susah gitu kalau pake umum.

    Eh aku juga minggu lalu pake uber sama mentemen. Pas weekend sempet agak mahal karena kena tambahan berapa % gitu. Tapi mayan lah, supirnya seru dan datengnya cepet πŸ˜€

    1. Yang aku tahu Uber itu memang ada sistim pengalinya Fa. Jadi kalau traffic sedang padat semisal Bandung di kala wiken atau Hujan, pengalinya bertambah. Pengali 1.5 berarti mereka menaikkan rate sebesar 1.5x dari tarif normal, demikian seterusnya. Bila penumpang jeli, sebenarnya semuanya di informasikan di awal jadi penumpang masih bisa memilih tetep mau naik Uber atau tidak. Jadi penumpang juga ga kaget karena bayarannya lebih mahal πŸ™‚

  4. Jadi pengen merasakan naik uber nih.

    ya bener juga sih sarannya, sebenernya gak cuma taksi toko pun iya. gak kebayang kalo seluruh toko di indonesia pada demo ke lazada, olx atau penyedia toko lainnya πŸ˜€

  5. Uber, Gocar, Grab jadi β€œmusuh” bagi taxi konvensional dan taxi β€œgelap”. lahan dimana mencari penumpang sudah β€œditandai” masing2. Jadi yg bukan lahan mereka, akan diusir. parahnya diancam sampai akan dibakar mobilnya. Duh!! ngeri lah.. kita calon penumpang cuma bisa memilih yg murah, aman dan nyaman. Tapi, itu semua tergantung dimana tempatnya. pemerintah seharusnya cepat merespon dan membuat peraturan tata kelola transportasi online ini. supaya semua driver sama-sama mencari rejeki dengan aman dan nyaman, tidak saling mengganggu dan terganggu. rejeki sudah ada yg mengatur oleh Di Atas. itu pun kalo buat yg percaya. Wallahu β€˜alam.

    1. Sejatinya memang rejeki tidak mungkin tertukar ya kak, itu aku setuju. Memang pemerintah harus kasih kebijakan yg pas sebagai solusi. Jadi bukan hanya ‘diredam’ (seperti sekarang) tapi juga diberi jalan keluar supaya ada win win solution bagi semua pihak.

  6. Buku β€œDisruption” yang lagi happening di gramed bisa sedikit membuka mata kita tentang bisnis Uber dan sejenisnya.. Mudah2an yg punya blog mau menulis intisari buku itu di tulisan berikutnya:)

Cool People Say :