Parameter of Privacy : HAPUS ATAU AKU BANNED!

d46942_5e1d102251a2422c8d4dc26de2ebf0df
Gambar Dari forum xda developers dot com

Akhir-akhir ini di internet ramai dibicarakan mengenai bahaya memajang foto anak dan bahaya membicarakan terlalu detil kehidupan sehari-hari di socmed karena alasan keamanan.

Saya termasuk yang setuju bgt, karena socmed kan sudah bisa diakses siapa aja. Baik yang ganteng, maupun yang enggak; baik yang jomblo, maupun yang enggak (apah ini) ; baik yang punya niat baik maupun niat buruk.

Jadi saya memang mengantisipasi dengan banyak cara seperti pakai nama inisial untuk kedua anak saya di blog, lalu membuat dua instagram, yaitu xxx dan @bonadapa.

Yang bonadapa itu isinya gambar-gambar yang saya suka. Baik quote, pemberitahuan pos baru di blog, ataupun berbagai hasil jepretan saya yang editannya parah abis. Akunnya pun ga saya kunci.

Yang xxx khusus foto-foto mengenai anak-anak dan keluarga. Akunnya saya kunci, saya cuma mau apruv sanak keluarga handai taulan dan teman yang saya kenal 🙂

Ngomongin soal instagram, kebetulan saya pernah ketemu orang yang menurut saya agak keterlaluan. Bukan karena dia ga punya instagram; dia punya instagram, tapi ya ga ada foto diri dia, yang akhirnya saya tau sebabnya kenapa.

Suatu hari saya jalan ber 3 dengan dia dan teman satunya. Kami makan-makan, lalu foto di restoran. Karena excited, saya editlah foto kami ber3 dengan filter yang (dirasa) keren dengan editan yang (dirasa) cihuy. Lalu saya posting di ig. Ga lupa saya tag-in, terus pake caption yang lucuk-lucuk. Seneng deh pokoknya.

Besoknya, sekira hari Minggu, dia telpon saya.

Saya angkat dengan nada senang ‘haloooo’

eh dia langsung marah-marah.

NINA HAPUS FOTO AKU DARI INSTAGRAMMU. KALAU ENGGAK AKU LAPORIN KE IG SUPAYA AKUNMU DI BANNED!!

Lah saya kaget. Wait, wait, wait, dimana ada kebakaran?? eh salah. Which picture you talked about?

ITU FOTO KITA YANG BER3. FOTO AKU, KAMU SAMA SI ANU. HAPUS POKOKNYA. AKU GA MAU WAJAHKU BEREDAR DI INTERNET!!

saya bengong, berasa mau ngomong oh okay, but you gotta be kidding me, right?

belom saya ngomong dia nambahin

POKOKNYA LANGSUNG HAPUS KALAU KITA MASIH MAU TEMENAN DAN AKUNMU GA MAU DIBANNED!!

klik

telepon ditutup sepihak.

saya masih bengong.

Awkward momen itu adalah ketika kita pajang foto kebersamaan yang kita suka di ig terus temen kita marah besar.


Ya saya bisa mengerti bahwa tiap-tiap orang punya privacynya masing-masing.

Meski saya juga punya privacy karena itu foto yang ada saya-nya, saya ambil pake hape pribadi, dan saya publish di instagram pribadi, kog ngana segitu paniknya yak?

Tapi akhirnya memang fotonya saya hapus sih, bukan karena saya takut di banned. Tapi lebih karena sikap dia bikin saya Ilfil.

Niat saya pajang foto itu karena saya senang berteman dengannya, saya menghargai mereka, saya menghargai dirinya, saya senang dengan kebersamaan kami, saya ingin mengenang saat kebersamaan itu dengan memajangnya di IG. Ga ada maksud lain.

Tapi karena ia menyikapi dengan sangat paranoid terkait terpampang nyata wajah-nya di Instagram, saya jadinya males; ah ternyata orangnya ga easy going.

I think it was totally not fun kalau terkait satu foto di instagram aja udah ngancem saya sedemikian rupa. Saya jadi bertanya-tanya dia takut apa? masuk kabar-kabari? cek dan ricek? dikejer paparazzi?

Ih itu mah hak dia lah na, orang itu muka, muka dia.

Bener.

Tapi mbok ya kan bisa bilang baik-baik dengan nada yang ‘normal’ : Nina fotoku jangan dimasukkin ke ig ya, takut nanti jimatku luntur, kan beres :p


Gara-gara ini saya sempat parno beberapa saat kalau foto bareng temen terus mau posting di ig.

Sekali pernah sehabis foto rame-rame saya sampe nanya ‘eh lo semua ga masalah kan ya kalau foto tadi gue posting di ig?’

‘dih. emang ada yang masalah na?’ salah satu nyeletuk

‘pernah ada. dulu. makanya gue ga mau kejadian dua kali’

‘ih ga asik amat tuh orang’ celetuk teman yang lain.

Jadi demikianlah.

Tiap orang punya parameter of privacy-nya masing-masing. Hanya di jaman sekarang, dimana teknologi internet makin dan makin nge-blend menjadi bagian dari hidup kita, sekedar satu atau dua foto wajah kita yang beredar di Internet rasanya masih terasa wajar dan ga harus bikin kita panik kayag anak keilangan emak di pasar.

Just take it easy, gals; and enjoy the show lah. (btw kalau blog ini di banned kita tahu penyebabnya apa ya, hihi)

 

Nah kalau menurut kamu, sikap temenku itu wajar ga? terus kalau parameter of privacy yang kamu terapkan di Internet gimana? boleh sharing dong kakaaa 🙂

 

12 Comment

  1. heu maaf, kemarin sempet tanya inisial nama2 mba nina. ini toh alasannya, baru tau 🙂
    salam kenal mba, saya titin di bandung.

    hatur nuhun udah follow. ^^

    1. Gapapa kog Titin, aku easy going kog (ealah hahaha) salam kenal juga, terima kasih sudah mampir ke sini ya ?

  2. Nina, aku ada pendapat tentang hal ini. Sejak tinggal di Belanda, aku jadi semakin menghargai yang namanya privacy. Belajar dari lingkungan keluarga, lingkungan kerja, maupun sewaktu di sekolah. Orang2 dilingkunganku yang aku kenal (orang2 Belanda) mereka ga terlalu aktif di media sosial. Contohnya suami, dia hanya punya twitter. Aku kalau mau posting foto yang ada foto orang lainnya, pasti aku minta ijin dulu dari yang bersangkutan. Misalnya didalam foto ada 5 orang, aku tanya satu2 berkeberatan ga kalau aku posting diblog misalnya. Kalau ada yg keberatan, ya ga aku tayangkan. Begitu juga sebaliknya, aku akan keberatan kalau misalkan ada fotoku yg muncul di media sosial kalau tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Tapi, aku akan menyampaikan keberatanku dengan kalimat yang baik, bukan dengan membentak2. Kembali lagi, mungkin temanmu keberatan karena menyangkut privacy, hanya cara menyampaikannya yang kurang elok. Jadi memang sebaiknya bertanya dahulu sebelum mengupload ke media sosial 🙂

    1. Sekarang saya ngerti memang idealnya harus begitu ya mbak Den. Sebelum posting memang harus tanya kiri kanan dulu, bersedia apa enggak wajahnya dipublish di internet. Kejadian ini juga kayag wake up call bagi saya terus sadar parameter privacy seseorang bisa jadi ga sama dengan parameter privacy saya. Hehehe, andaikan temen saya waktu itu bilangnya dengan nada baik2, saya pasti bisa nerima dengan legowo kog. Terima kasih buat komennya mbak Deny ?

  3. kalau aku IG yang di private tp kalau yg lain baisanya sharing seadanya aja Nina

    1. I Know, Winny juga pajang banyak foto di blognya – jadi ga perlu parno-parno banget ya kan win, hehe

  4. Saya ngerti privasi itu penting tapi ya disampaikan dengan baik-baik kan bisa.., gak perlu ngancam toh.. Eh jadi saya boleh follow akun IG-mu yg mana nih..?

    1. Hihihi, penyampaian temenku itu kayag ada masalah apa gitu ya Mbak, ngagetin soalnya hehehe. Dua-duanya boleh Mbak Em, nanti aku boleh follback Mbak ya 🙂

  5. Saya rasa agak berlebihan saja ya caranya, walau, saya pun termasuk orang yang jaga privacy. Jangankan foto orang, foto saya sendiri juga saya sortir untuk di publish. Atau, biasanya, saya publish untuk waktu tertentu biasanya. Karena, menurutku, itu bentuk apresiasi saya juga buat teman-teman yang berinteraksi di dumay ini ya, menunjukkan siapa saya, jadi tidak hanya bercerita tentang keseharian.

    (kemarin udah post komentar, koq nggak nongol ya)

    1. Iyes, betul salah satu bentuk apresiasi juga ya Mbak. Kalau baca blog kayagnya lebih enak kalau tahu orangnya ya, terus seru juga kalau ada foto2nya, jadi berasa dekat meskipun jauh 🙂

  6. TEMEN MBANINA GALAK 🙁 MASA MAU DI BANNED SEGALA IG NYA 🙁 YA ALLAH HUHUHU

    Walau dia gak mau ada fotonya, kan harusnya bisa ngomong baik2 gak nyolot di telfon yakan. Atau tag nya bisa di hide sama dia, atau mbanina gak usah ngetag dia. Atau apalah yang gak memberi info kalau itu adalah dia.

    Aku belum pernah nemuin yang begitu sih, kalau ada aku pasti marahin balik #gakmaukalah #yoweslah hahaha 😛

    1. Aku saking shock ga bisa marah balik ke dia fa, toh aku juga udah nganggep dia temen, toh memang aku yang teledor. Tapi beneran setelah kejadian itu aku males deket-deket 😀

Leave a Reply