Review Film Room : Jika Dunia Hanya Sebesar Ruangan

Pasca Oscar 2016 kemarin, saya tertarik dengan satu nama : Brie Larson.

la-ca-mn-brie-larson-room-20151025
Brie Larson

Brie mendapatkan Oscar sebagai pemeran utama wanita terbaik atas perannya di film ‘Room’. Film yang (bagi saya) cenderung ga kedengeran bila dibandingkan dengan Spotlight, The Revenant, The Big Short ataupun Hateful Eight yang juga panen nominasi di Oscar kemarin.

Saya juga tidak noticed ‘Room’ di rotten (padahal scorenya 94%, how can I missed this?) atau di Cinemaxx atau di 21; entah ‘Room’ sebuah low profile movie; atau ini menegaskan kenyataan bahwa saya memang ga gaul :p

Penasaran sama filmnya, saya langsung cari DVDnya, dan langsung saya tonton di malam harinya.

So here the review of ‘Room’ with spoiler all around; so read on your own risk.

room


When I was small, I only knew small things. But now I’m five, I know everything!

Jack from ‘Room’

Bagaimana jika kamu terlahir dan mengetahui bahwa dunia hanya sebesar sebuah ruangan?

Bagaimana rasanya jika kamu berada di sebuah ruangan selama bertahun-tahun tanpa pernah keluar sama sekali?

Bagaimana jika selama hidup di dalam ruangan itu kamu berinteraksi HANYA dengan satu orang saja?

Adalah Joy (ibu, 24 yo) dan Jack (anak, 5 yo) yang mengalami hal tersebut di sebuah ruangan yang kumuh.

Ruangan itu cukup sempit, dipenuhi berbagai macam barang : Tempat tidur, meja makan, toilet, westafel, kursi, bath tub, lemari yang sudah reot, dll. Ruangan ini tidak memiliki jendela. Satu-satunya hal yang menunjukkan bahwa mereka masih di bumi adalah jendela kaca di atap, dimana Jack dan Joy kerap memandang langit dan bintang.

room_1
Pemandangan luar cuma dari atap
jacobtremblayfyc
Jack Mengira Dunia hanya sebesar ruangan

Namun meski tampaknya tidak manusiawi, mereka berdua sangat menikmati kegiatan yang dilakukan di dalam ruangan. Bernyanyi, membaca buku, berolahraga, bercerita, bermain. Mereka terlihat sangat bahagia; seolah mengabaikan kenyataan mengerikan yang mendasarinya.

room5
Olahraga di ruangan

Sang Ibu, Joy; adalah seorang korban penculikan 7 tahun yang lalu ketika ia masih berumur 17 tahun. Ia diculik, dikurung, lalu diperkosa oleh penculiknya. Joy hamil, melahirkan di dalam Room dan lahirlah Jack. Sejak diculi, Joy belum pernah keluar ruangan sama sekali. I apernah mencoba melarikan diri; namun sekonyong-konyong Old Nick (Penculiknya) mengetahuinya lalu menganiaya dirinya.

Lima tahun kemudian, Jack tumbuh menjadi anak laki-laki cerdas yang memiliki banyak pertanyaan tentang apa saja. Namun seumur hidupnya, sekalipun ia belum pernah keluar dari ruangan. Sedari lahir, Jack hanya melihat dunia luar dari sebuah televisi di ruangan. Yang Jack tahu dunia di televisi tidaklah nyata. Yang nyata hanyalah ia, ibunya, ruangan dan Old Nick (penculiknya)

Jack: Are we in another planet?

Ma: Same one. Just a different spot.


Suatu ketika Old Nick berkata kepada Joy kalau ia di PHK, sehingga kemungkinan tidak dapat menyediakan cukup makanan, buah, hingga vitamin yang biasa diantarkannya tiap minggu ke ruangan.

Joy mulai gelisah; ia memikirkan kelangsungan hidup Jack. Bila Old Nick tidak bisa lagi menyediakan makanan, bagaimana nasib Jack kedepan?

Joy lalu merencanakan sebuah pelarian dan rencana ini harus berhasil.


 

Film terakhir yang saya ingat membuat hati saya ter-iris-iris *duile* adalah The Impossible. Saya nontonnya nangis sesunggukan sambil megangin RFA takut sangat kehilangan dia (waktu itu RFI belum lahir)

Nah ‘Room’ memberikan saya perasaan yang sama. Hati sedih, ke-iris-iris, mau nangis, sambil berharap kalau ceritanya bukan based on true story.

Room tidak menitik beratkan cerita pada kriminalitas penculikan yang dialami oleh Joy; melainkan bagaimana proses adaptasi kembali Joy dan Jack dengan kehidupan luar ‘Room’ yang tidak pernah mereka dapatkan selama bertahun-tahun.

Belum lagi ketergantungan luar biasa ibu dan anak yang terbentuk satu sama lain karena mereka tidak bersosialisasi dengan manusia lainnya. Joy sampai tidak mau mengakui kenyataan bahwa Jack adalah anak dari Old Nick. Baginya Jack adalah miliknya dan hanya miliknya.

Proses adaptasi Joy dan Jack dari ‘Room’ ke Kehidupan normal ini ternyata cukup membuat keduanya frustasi hingga pada satu titik, Joy dan Jack berharap mereka kembali ke dalam ‘Room’ dimana mereka saling memiliki dan hidup berbahagia di dalamnya, meskipun terkadang tersiksa oleh kehadiran Old Nick.

Namun lambat laun, Jack menyadari bahwa ‘Room’ yang dulu bukanlah ‘Room’ yang sekarang setelah ia mengenal dunia dan berinteraksi dengan orang-orang.

‘Room’ tidak terasa sama lagi. Jack dan Joy pelan-pelan merelakan kenangan akan ‘Room’ menjadi cerita indah meskipun sebenarnya menyakitkan.

Jack: Last line: Say bye to Room, Ma.

Ma: mouths silently: Bye, Room.

*yang nulis udah mau nangis lagi*

Film ini memang layak banget dapet Oscar dan Brie Larson bermain sangat spektakuler di film tersebut. Di media Brie mengaku bahwa memerankan Joy dalam film ini cukup ‘melelahkan’ secara emosional; yang entah bagaimana sangat saya rasakan juga ketika menontonnya. (enggak, nontonnya enggak sambil lari-lari.red) :p

Yang kurang di Oscar kemarin mungkin standing applause khusus untuk Jacob Tremblay yang memerankan Jack (yang bahkan masuk nominasi pun tidak). Menurut saya malah Jacob juga patut mendapatkan nominasi sebagai [peran pembantu pria terbaik].Karena tidak mudah memerankan seorang anak dengan perspektif ‘berbeda’ karena lahir, tumbuh dan berkembang hanya di sebuah ruangan. Jacob deserves an Oscar too, I Think.

Tapi meski tidak mendapatkan Oscar, Jacob mendapatkan penghargaan lain as the Best Actor di Canadian Award; penghargaan yang memang layak atas aktingnya yang sangat-sangat-sangat menyentuh hati itu *lalu nangis kejer*


 

So, that’s the Review of Room, sampai jumpa di review film selanjutnya yaa *lambai tangan sambil megang tissue mata sembab* :’)

Dont worry Jack, Everything is gonna be just fine from now on :’)

 

 

 

 

Advertisements

5 Comments

    1. Oomndut pie kabare Oom? biar aku tebak, pasti dari India terus ke Pagaralam hihihi. Weis, nanti2 juga gpp dibacanya. Tapi ntar kalau udah baca kasih komen lagi ya *mingkem* *fakir komentar* 😀

  1. Pingback: Everybody Can Sell! - Bona, Ada Apa?

Cool People Say :