Suatu Sore di Mikrolet M16

Keluar Kalibata Mal, lalu lintas padat menyapa saya, adik laki-laki saya dan sepupu kecil saya.

Saya sebut kecil karena usia sang sepupu yang baru menginjak 13 tahun. Dibandingkan dengan saya yang sudah kepala tiga, jelas umurnya masih kecil meski tingginya sudah hampir menyamai saya.

Saya melirik jam tangan, waktu menunjukkan Pukul 17.30.

‘Kak itu kak, disana’ ujar sepupu kecil menunjuk Mikrolet M16 yang berhenti tak jauh dari pintu gerbang mal.

Kami bertiga langsung naik dan mengambil posisi nyaman. Suasana didalam mikrolet sore itu sangat sepi. Kontras dengan suasana jalanan di luar yang padat. Apakah sepinya mikrolet karena terimbas taksi online? saya tidak bisa memastikannya.

Yang pasti ketika kami naik, hanya ada dua penumpang duduk menyamping persis di kursi belakang supir. Seorang ibu setengah baya dan anak laki-lakinya yang kurang lebih berumur 8 tahun.

Anak laki-laki ini kemudian mengingatkan saya akan RFA, anak sulung saya, yang berusia kurang lebih sama dengan anak laki-laki tersebut.

Saya mengambil posisi duduk berhadapan dengan mereka.


Mikrolet M16 lalu bergerak pelan dari Kalibata ke arah Pasar Minggu. Maklum, di Jakarta jalanan macet sudah menjadi pemandangan yang biasa. Kalau Jakarta lengang, itu baru luar biasa.

Sekira Mikrolet melintas di depan jajaran penjual durian di Kalibata, kami terkejut mendengar suara sang ibu yang membentak kencang anak laki-lakinya

‘Lu yang bener lu! Tangan jangan lu julurin keluar! Nanti kena mobil, putus tangan lu!’ Sang ibu marah besar.

Sang anak langsung terdiam.

Saya melihat kejadian yang sesungguhnya.

Sebenarnya ia tak menjulurkan tangan keluar jendela, ia hanya membuka jendela mikrolet yang terletak di belakangnya. Mungkin ia merasa sumpek dan panas sehingga ingin mendapatkan udara segar.

Sang anak terlihat muram. Namun ia masih duduk menempel dan memegang lengan ibunya, seolah ingin berkata

‘Ibu jangan marah, aku sayang ibu’

Suasana Mikrolet kembali tenang, ketika selang beberapa belas menit kemudian suara sang ibu kembali terdengar membentak anaknya.

‘Lu udah dibilang jangan gigit-gigit bibir lagi, nanti sariawan lagi, sakit lagi lu!’ bentak sang ibu, sebal ‘Nakal sih lu, awas ya, nanti ibu…..’ saya tak menyimak detilnya. Sang ibu mengomel lumayan lama.

Dimarahi demikian, sang anak menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca, lalu tak sengaja sempat menatap saya, lalu cepat-cepat mengalihkan pandangannya sambil menunduk, terlihat jelas bahwa ia menahan tangis dan juga malu.

Saya melihat ada harga diri yang terluka disana.

Saya kasihan padanya, saya teringat anak-anak saya. Meski sekesal-kesalnya saya, kok rasanya tak tega memarahi dan membentak anak sedemikian rupa.

Meski demikian benak saya tak mau buru-buru menghakimi sang ibu.

Memang terkadang, saking sayangnya kepada anaknya, ibu-ibu mudah panik lalu mengekspresikannya dengan perbuatan yang terkadang berlebihan dan tak pantas.

Sang ibu memarahi anaknya ketika sang anak membuka jendela, itu karena ibu tak mau anaknya terluka. Jalanan Jakarta sangat padat. Bagaimana jika ketika sang anak membuka jendela tanggannya tersambar mobil atau motor yang melintas?
Pun ketika sang ibu memarahi anaknya ketika anak menggigit bibirnya, itu karena ibu tak mau anaknya menanggung sakitnya sariawan yang bukan main. Karena kalau sudah sariawan, anak akan susah makan dan minum dan sembuhnya pun membutuhkan waktu berhari-hari.

Saya yakin sang ibu di dalam mikrolet tersebut menyayangi anaknya. Hanya terkadang kita, orang dewasa, lupa bahwa anak-anak juga memiliki perasaan. Jika kita bisa menegur atasan kita, atau orang lain yang kita hormati secara santun, mengapa kita tak bisa menegur anak-anak kita dengan cara yang sama? Apakah anak-anak kita, darah daging kita, tak berhak menerima sopan santun layaknya yang kita berikan ke orang lain yang notabene – bukan siapa-siapa?

Anak-anak juga punya hati, punya harga diri yang harus dijaga keutuhannya.


Demikian halnya dengan orang tua yang suka membandingkan kekurangan seorang anak dengan kelebihan seorang anak lainnya

‘Tuh, dia aja bisa rangking kelas, masak kamu enggak?’

‘Lihat deh, dia anaknya penurut, ga kayak kamu tuh, nakal!’

‘Dia juara loh gambarnya dapet piala, kok kamu dapetnya segini doang?’

‘Kamu ga tinggi-tinggi sih? temenmu aja sudah tinggi banget loh. Ayo minum susu yang banyak karena tumbuh itu ke atas bukan ke samping’

Hello?? What happen with us adult people?

Meski ya, saya tahu beberapa orang dewasa memang memiliki hati yang sudah kebas, bebal, kapalan, tak punya hati nurani, karena sudah terbiasa menyakiti perasaan satu sama lain – apalagi di kantor yang – doh, saling mengeluarkan kata-kata yang nyelekit bagi orang lain, woles saja tuh.

Tapi haruskah berkata demikian terhadap anak-anak?

Memang sih anak-anak tidak komplain, tidak menjawab balik dan diam saja. Tapi di balik diamnya anak, siapa tahu apa yang terjadi pada dirinya?

Plis deh, membandingkan kekurangan seorang anak dengan kelebihan seorang anak lainnya tak akan pernah apple to apple bahkan sampai kiamat tiba!


Maka ketika melihat Ibu dan anaknya di Mikrolet sayapun bisa mengerti, mengapa harga diri anak bisa hancur dimulai dari rumahnya sendiri. Bukan karena disengaja, melainkan karena orang tua salah caranya. Orang tua sebenarnya bermaksud baik, namun caranya mengekspresikan yang tidak tepat.

Pada satu titik inginnya saya memanggil anak laki-laki tersebut lalu berkata

‘Sini, duduk di samping tante saja biar kamu ndak kena marah ibumu lagi’

Tapi yang ada otak saya malah berputar, memeriksa berbagai myelin ingatan perilaku saya terhadap RFA dan RFI.

Sebagai orang tua jangan-jangan di suatu waktu saya juga pernah berlaku buruk pada anak, tanpa saya pernah menyadarinya. Ya Tuhan. Inginnya saya bertanya saat itu juga pada anak-anak saya :

‘Apa perilaku bunda yang abang dan adek tidak suka?’

Mungkin sesekali kita memang perlu bertanya kepada anak-anak mengenai cara kita memperlakukan mereka. Mungkin sesekali kita memang perlu bertanya kepada anak-anak apakah kita pernah menyakiti hati mereka. Lalu jika kita – ternyata – pernah khilaf, kita bisa meminta maaf kepada mereka dan berjanji tak akan mengulanginya lagi.

Bagaimanapun juga, menjadi orang tua memang tak ada sekolahnya. Namun cara baik apapun rasanya layak dicoba demi menjaga keutuhan jiwa anak-anak yang berharga.


Hari sore berubah gelap. Suara Maghrib berkumandang. Saya melihat anak laki-laki dan ibunya, masih duduk berdempetan dan berpegangan tangan. Sang anak mungkin merasa mengantuk, lalu merebahkan kepalanya di pangkuan ibunya, lalu tertidur.

‘Stop kiri Pak’ kata sepupu kecil saya, menandakan kami sudah sampai di tujuan.

Kami pun turun dari Mikrolet. Meninggalkan sang ibu yang masih duduk sambil membelai kepala anak laki-lakinya yang tertidur pulas di pangkuannya.

Saat itu saya tak lagi melihat murka di wajahnya;

yang saya lihat hanyalah Cinta.

Advertisements

8 Comments

          1. Betul banget. Kita ga tau latar belakang ibunya, apa yang sudah dilaluinya. Jakarta memang keras. Tapi aku jadi wanti-wanti ke diriku sendiri kalau marahin anak jangan sampek segitunya, senakal-nakalnya anak kan bisa diomongin baik-baik ya huhu

  1. kadang setelah jadi ibu baru kerasa sih, kita bisa panik berlebihan sampai marah-marah. Huhu, aku pun cepet naik darah, walau ngerasanya belum pernah marahin segitunya kayak si ibu cuma kayak nya juga sering pake nada tinggi, dan langsung tarik napas dalem biar tenang

    1. Makanya sembari melihat sang ibu, aku berkaca ke diri sendiri. Aku pernah ga ya kayak gini? huhuhu. Karena ibu-ibu kalau sudah panik suka jadi parno dan histeris, ga sadar kalau anaknya jadi korban. Untuk pembelajaran bersama sebagai orang tua, kalau mau histeris ke anak mbok ya dipikir dulu 🙂

Cool People Say :