Serdang dan Ingatan yang Menyertainya

Saya pernah tinggal di Manggar Belitung, meski sebentar. Jadi, ini ceritanya postingan nostalgia, flashback sedikit pake mesin waktu ke tahun 2007-2008.

Saya yakin sudah banyak yang tahu bahwa Manggar adalah kota asal penulis terkenal Andrea Hirata, negarawan Yusril Ihza Mahendra, also the one and only, Mr. Basuki Cahaya Purnama atau Pak Ahok. Manggar merupakan Ibukota Kabupaten Belitung Timur terletak di Pulau Belitung.

Jadi kalau kita ke Belitung naik pesawat, pesawat kan mendarat di Bandara Udara HAS Hananjoeddin di Tanjung Pandan, nah Kota Manggar berjarak sekitar 90km (90 menit dengan mobil) ke arah Timur dari Tanjungpandan, atau sekitar 75km (70 menit dengan mobil) dari bandara HAS Hananjoedin.

Balik lagi ke tahun 2007-2008 ketika saya di Manggar.

Waktu itu Manggar masih sepiii sekali. Jalan raya lengang sudah pemandangan sehari-hari. Kalau di Palembang jalan utama lengang begitu, there must be something wrong; VERY WRONG malah, hehehe

Waktu itu buku Laskar pelangi baru nge-hits di Indonesia, dan serendipity, saya memang lagi baca buku itu ketika saya dimutasi dari Jambi ke Belitung.

Yang… sedikit banyak bikin saya berfikir.

Kebetulan banget ketika saya sedang membaca Laskar Pelangi, eh tetiba mutasi ke Belitung yang notabene tempat asal buku Laskar Pelangi. Coba waktu itu lagi baca Harry Potter ya… *okay, this is the effect of too much reading* 😀

Balik lagi ke Manggar, jalanan di Manggar baru akan ramai sekitar jam 4 sore ke atas; ketika itu biak-biak Belitong (anak-anak remaja) pada jalan-jalan sore (JJS), either naik motor ataupun jalan kaki di sekitar pusat kota Manggar.

10-06-12-064207

Gambar dari belitung-sumselbabel.blogspot.co.id

Bisa dibilang pusat Kota Manggar berada di sekitar toko serba ada bernama Puncak. Di sekitar Puncak banyak kios penjual baju, makanan dll. Meskipun siang hari sepi, namun ketika sore kawasan ini mulai ramai.

Ada juga Pasar Manggar, tempat dimana 1001 warung kopi berada. Nah kalau kawasan ini ramai pengunjung dari pagi hari.

kota-manggar

Jalanan di Manggar memang sesepi ini selalu. Gambar dari dewatourbelitung dot com

Yang bikin saya takjub dengan Manggar adalah, meskipun kota kecil namun infrastrukturnya sudah mumpuni. Jalan raya diaspal mulusss, tanpa lubang atau kerusakan sama sekali. Yang hobi ngetrack di jalan pasti sorak sorak sorai bergembira melihat mulusnya aspal di Manggar.

Bangunannya teratur, kotanya juga bersih. Namun layaknya tipikal kota yang terletak di pinggir laut, matahari di Manggar memang terasa agak menyengat.

Di tahun tersebut saya masih lajang. Jadi saya tinggal di sebuah rumah kontrakan mungil – yang terdiri dari : teras-ruang tamu-kamar-dapur dan kamar mandi. Lokasi kos-kosan tak jauh dari Swalayan Puncak. Saya tinggal dengan teman satu rumah namanya Bluee.

Karena cuma berdua, saya kemana-mana ditemani Bluee. Tapi Bluee tidak tidur sekamar dengan saya; dia tidur di ruang tamu.

Ih kog tega banget sih na?

Ini karena Bluee adalah sebuah Motor Mio berwarna biru; yang saya beli kredit dengan terpaksa, karena di Manggar keberadaan angkot sangat gersang, Ojek apalagi. Jadi demi kemaslahatan absensi kantor tiap pagi, akhirnya saya mengkredit Bluee yang sempat diinden sebulan. Setelah bluee sampai, baru saya belajar cara mengendarainya  🙂

Orang kantor saya kebanyakan tinggal di Tanjung Pandan, jadi mereka pulang tiap hari. Yang tinggal di Manggar ada tiga orang, tapi mereka semua sudah berkeluarga. Ada satu teman lagi yang masih lajang seperti saya, cowo, saya memanggilnya seaghost karena itulah nama yang tertera di jaket favoritnya.

Bila tidak berkumpul dengan mereka, most of the time saya sendirian. Karena itulah saya suka cari-cari kegiatan sendiri.

Salah satu kegiatan favorit saya adalah ngukur jalan di Manggar. Pokoke sebagian besar jalan saya khatam beh. *gaya lu na*

Kerjaan saya saban pulang ngantor adalah menyusuri tiap lorong dan jalanan kecil di Manggar. Naik turun bukit sudah biasa; nyasar sudah berkali-kali tapi saya tidak kapok, malah ketagihan ngahaha. Waktu itu keyakinan saya satu : senyasar-nyasarnya saya di Manggar, saya pasti ga akan nyampe ke Medan #okesip :p

Layaknya jomblo yang keren kesepian, jauh dari pacar, kecengan, maupun sanak keluarga, setiap sabtu minggu agenda saya adalah menyusuri garis pantai bertelanjang kaki early in the morning ketika matahari belum naik dan terasa terik.

Kalau matahari sudah terik, butiran pasir sudah memanas dan pantai terasa tak nyaman lagi, saya dan bluee akan beralih ngaso sambil hunting buku bagus di tempat penyewaan buku kecil yang ada di tengah kota.

Ada kalanya, instead of menyewa, saya membeli satu-dua buku bagus yang bisa bikin saya kaget sendiri – wah ternyata saya bisa menemukan buku bagus di sebuah toko buku kecil di sebuah pulau terpencil! hohoho, bahagia itu terkadang memang sederhana yah 🙂

Manggar memiliki beberapa pantai. Yang pernah saya kunjungi diantaranya Pantai Nyiur Melambai, Pantai Burung Mandi dan Pantai Serdang.

Namun saya dan Bluee paling sering ke pantai favorit kami, yaitu pantai Serdang.

p_20161124_131948

Pemandangan Pantai Serdang dari atas Bukit

Di tahun 2008, ketika seaghost menunjukkan pantai Serdang, saya langsung terpukau akan keindahannya, like heaven on earth, indah sangaaaaaat!

Dikutip dari belitungisland.com posisi Pantai Serdang menghadap laut Cina Selatan di sisi Timur pulau Belitung. Angin di pantai Serdang dan lautan yang luas membuat ombak di pantai ini cenderung lebih besar dibandingkan pantai-pantai Belitung lainnya yang terkenal dengan ombaknya yang tenang.

p_20161124_132010

Ombaknya memang tidak sebesar di Bali, tapi dibandingkan pantai yang lain di Manggar, Ombak di Serdang cukup besar.

Disepanjang pantai akan kita temui pasir putih dengan butiran pasir yang sangat halus. Panjang pantai kurang lebih 500m dengan kontur yang sangat landai sehingga bidang pasir putih cukup luas.

p_20161125_143257

Pantainya luas ya! Main bola pantai yuk :p

Ketika berjalan di sepanjang Pantai Serdang Sabtu Minggu pagi, saya biasa berpapasan dengan nelayan yang pulang dari melaut, dan beberapa orang yang akan memancing di sisa-sisa bekas dermaga. Saya selalu bertanya apakah ini sisa-sisa Dermaga Olivir seperti yang Andrea Hirata ceritakan dalam Laskar Pelanginya?

p_20161124_131928

Anggap saja ini Dermaga Olivir 🙂

Meski tidak ada yang bisa memastikan itu adalah sisa-sisa Dermaga Olivir, saya dan Bluee tetap menyebutnya Dermaga Olivir. Terkesan memaksa sih; tapi biarlah – setidaknya dermaga tersebut jadi memiliki nama kan? hehe.

Bila agak jalan jauh sedikit, kita akan menemukan laguna yang mengalirkan airnya hingga ke badan pantai. Ia membelah pasir putih dengan aliran airnya. Tampak semena-mena memang, namun ia menjadikan Serdang yang indah menjadi lebih indah.

p_20161124_132112

Laguna di Pantai Serdang

Di sepanjang pantai terdapat pohon-pohon pinus laut yang tinggi dan lebat, serta mengeluarkan suara khas karena daun nya terus-menerus ditiup angin.

p_20161124_132028

Cemara angin dan sisa-sisa pohon yang meranggas. Di sisi yang lain kumpulan cemara angin lebih banyak seperti hutan

Andrea Hirata dalam Laskar Pelangi menyebut pohon pinus laut sebagai Cemara Angin. Di bawah pohon-pohon pinus ini terdapat barisan perahu Katir warna warni.

p_20161125_143957

Perahu Katir warna-warni dibawah cemara angin

Perahu katir adalah jenis perahu kecil tipis dengan lengan bambu penyeimbang di kedua sisi perahu. Dahulu perahu ini dibuat dari pohon kayu utuh, tetapi saat ini mulai ada yang dibuat dari fiber glass.

Perahu ini di cat warna-warni, sepertinya pemilik perahu ingin membuat warna perahunya seunik mungkin. Dahulu perahu katir hanya digerakan menggunakan layar, sekarang ini disamping layar perahu katir juga digerakkan dengan motor kecil.

p_20161125_143322

Langit Biru di Serdang ga kalah cantik sama Pantainya

Perahu katir digunakan hanya untuk memancing ikan di laut lepas, dan hanya bisa memuat 1-2 orang saja. Karena kecil dan ringan perahu ini diparkir di sepanjang pantai, menghias pantai Serdang menjadi lebih berwarna.

Ketika di Serdang, kebanyakan waktu saya habiskan untuk duduk-duduk memandang ombak, menikmati hembusan angin laut, jalan pagi di sepanjang pantai, atau foto-foto menggunakan kamera hp. Jadilah sebagian foto di atas menjadi peninggalan kenangan akan Serdang, meski gambarnya kurang fokus karena pixel hp pada waktu itu masih terbatas, harap maklum ya 🙂

Sekali hari saya pernah ditanyai oleh salah satu nasabah saya.

‘Mbak Nina kemarin Sabtu jalan kaki sendirian tak pakai sendal di pantai Serdang ke?’ tanya si Bapak dengan wajah prihatin ketika tiba giliran beliau di tunebank saya.

Mual beh Pak, itu saya. Tiap sabtu minggu saya kesana’ jawab saya sambil tersenyum lebar.

‘Mbak Nina lagi stress ke?’ tanyanya lagi

Saya tertawa.

Lucunya di Belitung, penduduk asli suka tidak menyadari kalau pantai-pantai yang pulau mereka miliki indah sekali. Bahkan ada satu penduduk asli Belitung yang mengatakan pada saya ‘Pemandangan pantai disini biasa tek mbak’. Mungkin karena ketika mereka bangun tidur yang dilihat pantai, tiap hari yang dilihat pantai, jadi melihat pantai bagi mereka adalah pemandangan yang ‘biasa’.

Padahal bagi orang yang tak berasal dari Belitung – contohnya saya-  pantai-pantai di Belitung memang indahnya luar biasa. Saya pernah beberapa kali ke pantai di beberapa Provinsi lain, namun saya belum menemukan pantai seindah pantai-pantai di Belitung.

‘Di Palembang mana ada pantai bagus seperti pantai Serdang Pak. Saya suka sekali berjalan di Pantai karena di tempat asal saya tidak ada pantai’ Saya menjelaskan.

Setelah 2008, sebenarnya saya sudah pernah beberapa kali berkunjung kembali ke Belitung. Tetapi sayangnya tidak pernah punya cukup waktu untuk bertandang mengucapkan salam ke Serdang.

Saya selalu mengira-ngira bagaimanakah keadaan Serdang sekarang, setelah Laskar Pelangi populer dan Belitung ramai dikunjungi orang.

Apakah Serdang masih sebersih dulukah? pasirnya masih seputih dulukah? Situasinya masih sesepi dulukah? Langitnya masih sebiru itukah? bagaimana ombaknya? cemara anginnya? masih terdengar seperti sekumpulan orang berbisikkah?

Bagaimana kabarnya Serdang? apakah ia masih seperti Serdang yang dulu saya kenal, dimana dalam sunyinya saya bisa lepas tertawa, khusuk merenung, hingga terisak menangis tersedu?

Ketika sedikit curhat mengenai ini di Instagram, salah seorang teman menimpali

‘Berangkat aja’

Dan dengan hati pedih saya menjawab

‘gimana mau berangkat, wong sisa cuti tinggal dua hari sampek bulan Februari’

hiks *elap ingus pake tissue*

Jadi disini siapa yang ga bisa liburan akhir tahun karena cuti sudah habis??? Nangis bareng dulu lah kitak 😀 😀 😀

screenshot_2016-11-28-11-16-54

 

 

 

 

Advertisements