Posted in

H-1 Bulan Pernikahan

H-1 Bulan Pernikahan
H-1 Bulan Pernikahan

Hanya tinggal sebulan lagi.
Semua undangan sudah dicetak. Keluarga sudah heboh dengan segala persiapan. Cincin sudah disimpan rapi dalam kotak beludru biru tua. Aku, Anton, hanya menghitung hari, membayangkan masa depan bersama wanita yang sudah lama kuperjuangkan: Wimara.

Wimara… wanita yang kukenal sejak SMA, yang bertahun-tahun kusayang dalam diam, sampai akhirnya dua tahun lalu berani kuungkapkan. Dan dia mengiyakan. Kami pacaran dengan santun, saling mendukung, saling jaga, sampai akhirnya kami sepakat: menikah.

Hanya tinggal sebulan.


Hari itu, malam-malam di kamar kontrakanku, aku ingin menyelesaikan desain kartu ucapan untuk souvenir pernikahan. Laptopku… baru kusadari sudah dua bulan terakhir ada di tangan Wimara. Katanya dulu untuk kerjaannya yang butuh aplikasi desainku. Aku tak pernah mempermasalahkan. Hari itu aku minta lagi saja, karena ingin cepat selesai.

Begitu laptop kembali ke tanganku, aku buka. File-filenya masih sama. Wallpaper masih sama. Tapi ada notifikasi kecil di pojok kanan atas: “Google Photos: sinkronisasi selesai”.

Aku baru ingat… akun Google-nya Wimara ternyata masih login di laptopku.

Iseng. Atau mungkin sudah mulai curiga, karena beberapa minggu terakhir ada yang terasa ganjil darinya.
Jadi kubuka Google Photos.

Dan di sanalah Allah menunjukkan semuanya.

Foto demi foto. Video demi video. Semua tersimpan rapi di sana. Dia bersama seorang laki-laki lain. Di tempat-tempat yang kukenal, bahkan di warung kopi tempat kami dulu sering berdua. Di mobil yang kadang kupinjamkan untuknya.

Dan yang lebih menusuk… laki-laki itu. Wajahnya.
Orang yang sangat… sangat… kukenal.

Raka. Sahabatku sendiri.
Orang yang dari dulu ikut bantu-bantu persiapan pernikahan ini. Orang yang sering pura-pura bercanda soal betapa “beruntungnya aku” bisa punya Wimara. Orang yang kupanggil “adik sendiri”.

See also  Soaked to the Bone, But Still Standing

Malam itu aku hanya diam.
Tanganku gemetar.
Mulutku terasa kering.
Mataku panas.

Tapi buktinya terlalu jelas, terlalu lengkap.
Foto-foto dengan tanggal, waktu, lokasi.
Bahkan yang paling busuk sekalipun… Allah bukakan semuanya.

Air mataku jatuh begitu saja.
Bukan hanya karena pengkhianatan Wimara. Tapi karena dua orang yang paling aku percaya, menusukku dari belakang… di bulan paling bahagia yang harusnya aku jalani.

Terlalu menyedihkan, tapi nyata.
Too sad but true.


Esok harinya aku kembalikan laptop itu ke kotaknya.
Kumasukkan kotak cincin ke dalam laci.
Kutatap kalender dengan lingkaran merah di tanggal pernikahan kami.
Dan dalam hati aku hanya berdoa:
Terima kasih, Allah… Kau bukakan semuanya sebelum ijab terucap. Kau selamatkan aku dari kebusukan yang tak pernah kusangka.

Dan sejak hari itu, aku pelan-pelan belajar merelakan.

Meski perih.


Image by Peter Olexa from Pixabay