Advertisements

For the Love of Books

Ketika Saya Membaca

Advertisements

[Blogger Perempuan Network 30 Days Blog Challenge] Day 30 : Target Blogging 2019

Target Blogging 2019. Dulu di blog sebelum Bonadapa, saya cuma ngeblog untuk senang-senang. Dimana dari tulisan awal sampek tulisan akhir isinya curhatan semua. Bahkan ada tulisan marah-marah ketika saya lagi sebal dengan seseorang. Eh tu orang baca pulak blog saya, benar-benar stalker sejati. Jadilah kolom komentar dipenuhi oleh adu argumen dimana saya dan orang tersebut masing-masing merasa paling benar.

Tahun berlalu, waktu itu android baru launching dan di keluarga besar yang menggunakan android hanya saya. Sehingga kalau android saya kenapa-napa saya tak tahu bertanya pada siapa. Suatu hari saya menemukan permasalahan pada hp saya dan bingung sendiri. Akhirnya saya kutak katik sampai menemukan solusinya, lalu saya tulis di blog.

Ternyata di luar dugaan, tulisan tersebut banyak di share, di kutip, di agregat oleh situs-situs lain. Ternyata tulisan saya yang sederhana, yang tidak sampai 500 kata bisa dibaca banyak orang karena bermanfaat. Kenapa? karena di luar sana banyak pengguna android yang sama bingungnya seperti saya. Mengais-ngais informasi di Internet untuk mendapatkan pencerahan.

Dari sini saya mulai sadar bahwa blog punya dampak yang signifikan sebagai salah satu media informasi. Karena pengalaman satu orang dengan orang lainnya berbeda. Karena pengalamanmu bisa menjadi pengetahuan yang berguna bagi orang lain yang belum atau akan mengalaminya.

Fokus saya menulis blog mulai bergeser.

Saya mulai berusaha menulis hal-hal informatif yang ada faedahnya, meski sesekali nulis curhat colongan juga, hahaha.

Tahun bergulir, di Bonadapa pertama kali saya mendapatkan tawaran menulis di blog dan dibayar. Saya kemudian berfikir, kenapa tidak? toh brand dan klien yang menugaskan saya untuk menulis, menggunakan Bonadapa untuk sharing informasi juga.

Dan informasi ini terkadang sulit mereka tempatkan di platform lain, seperti kanal berita dengan gaya bahasa yang itu-itu saja.

Alasan kami menggunakan blog karena blogger menulis sesuai dengan gaya mereka. Dimana gaya bahasa yang mereka gunakan terasa lebih cair dan lebih santai, berbeda dengan gaya bahasa yang kita temui di kanal berita. Kami harap dengan cara penyampaian yang demikian, informasi yang kami berikan lebih mudah tersampaikan ke masyarakat luas.

-salah satu klien saya.

Sejak saat itu, saya menerima tulisan berbayar dengan hati senang. Namun Bonadapa memiliki persyaratan yang tidak boleh dilanggar.

Pertama, informasi yang disampaikan harus positif dan berdampak positif. Karena itulah saya tidak akan menerima tulisan dalam bentuk campaign politik – terlebih jika campaign tersebut dimaksudkan untuk memuji orang yang membayar dan menyudutkan lawan politiknya.

Saya juga tidak menerima campaign yang berdampak negatif, berkonotasi negatif, mengandung SARA, hoax, berbau unsur penipuan dan lain-lain.

Karena sebagai empunya blog, saya tetap memiliki tanggung jawab moral atas apa-apa yang sudah Bonadapa publish – karena ketika sudah masuk ke world wide web, semua orang bisa membacanya.

Kedua, untuk review produk berbayar, sebisa mungkin saya akan mencoba produknya dulu selama beberapa waktu agar bisa menulis secara objektif.

Ya tapi ini tergantung produknya juga sih. Saya bisa saja mencoba produk pakaian atau kosmetik, misalnya. Tapi untuk mereview gadget atau mobil, saya ragu kalau klien mau meminjamkan barang mereka, uhuhu. Padahal kan mayan juga kalau dipinjemin Alphard barang sebulan *mimpi hahaha

Karenanya ketika mereview gadget atau mobil atau barang-barang sejenisnya, saya akan menulis mengenai spesifikasi saja tanpa menulis pengalaman pemakaiannya – ya wong ndak pernah pakai gimana mau nulis tentang itu yak! hehehe

Tapi sebagian besar gadget HP yang saya tulis di Bonadapa, memang saya menggunakan produknya. Hanya satu dua tulisan gadget yang berbayar – dan yang saya bahas adalah spesifikasi saja, tanpa pengalaman pemakaian.

Ketiga, saya menulis yang utama adalah untuk pembaca dan bukan untuk Brand semata. Karenanya meski tulisan berbayar, saya tetap menulis dengan objektif. Saya berusaha menulis mengenai informasi apa yang sekiranya pembaca blog cari dari produk tersebut. Dan saya menulis berdasarkan pengalaman yang saya temui ketika mencoba produknya.

Ada salah seorang teman yang skeptis lalu menanyakan : “lo kok nulis yang bagus-bagus aja sih mengenai produk X?ya itu karena produk X MEMANG bagus.

Karena kalau ada kekurangan, PASTI akan saya tuliskan juga dengan penjelasan yang seksama. That’s why tolong tulisannya dibaca baik-baik, karena informasinya sebagian besar sudah ada di tulisan, gitu.

Terkadang ada yang bikin frustasi. Contohnya adalah ketika saya menulis dan memuji tentang Santa Grand Hotel Bugis Singapura. Salah seorang pengunjung blog nanya dengan kalemnya MBAK ITU HOTELNYA RECCOMENDED GA YAAAA???

set dah, jadi saya berbuih-buih nulis sampek ratusan kata KAGAK DIBACA, RUDOLFO?

Plis deh dibaca dulu tulisannya baru nanya dong, uhuhuhuhu. Nanti kalau ada yang belum jelas boleh banget nanya lagi. Tapi jangan nanya hal yang jelas-jelas sudah jelas. Wong tulisan saya muji-muji kok masih nanya reccomended apa enggak, ayo dong budayakan membaca sebelum bertanya *nenggak obat naek darah

Keempat, Bonadapa punya rate card tertentu yang apabila tidak disepakati maka saya juga tidak akan menerima jobnya. Jadi ya, saya tidak bisa menerima semua tawaran yang masuk di Bonadapa. Ada yang saya tolak juga. *kibas poni *macam udah banyak aja penawaran yang masuk yak muahaha. Tapi ini sebagai salah satu bentuk auto seleksi juga sih sebenernya. Meski Bonadapa di dunia blogging masih bak remahan rengginang di dasar kaleng Khong Guan, namun saya ingin Bonadapa tetap terjaga kualitasnya 🙂

Saya juga banyak belajar dari teman-teman blogger lainnya. Banyak yang lebih strict dari saya, terlebih blogger dengan niche. Saya kenal seorang blogger kondang yang sering menolak campaign hanya karena produk brand tersebut tidak sesuai dengan niche blognya. “Masa blog aku travelling nulis tentang minimarket? ga mau lah!” katanya

Jadi masing-masing blogger terkadang punya peraturan tertentu terkait blognya dan itu gapapa banget lho.

Terus apa sekarang Bonadapa hanya fokus menerima tulisan berbayar saja? yha enggak laah. Tujuan blog ini dari awal sampai sekarang masih jelas kok, saya tidak kehilangan arah. Menerima tulisan berbayar juga tidak membuat saya kehilangan tujuan ngeblog.

Saya tetap suka menulis hal-hal yang saya ingin tulis.

Dua tulisan saya yang paling banyak dibaca yaitu tentang Jetstar dan Hotel Santa Grand itu bukan tulisan campaign.

Tulisan Blogger Perempuan Network 30 Days Blog Challenge 2018 yang saya tulis selama 30 hari berturut-turut, juga free dari campaign, dan merupakan salah satu bentuk keseriusan saya untuk terus menekuni dunia blogging.

Which is ternyata nulis tiap hari itu ternyata tidak mudah ya, Esmeralda. Sempet keteteran juga saya hahaha

Banyak lagi yang saya dapatkan dari ngeblog dan ga melulu soal materi. Ilmu, pengetahuan, pertemanan dan wawasan bisa bertambah dari kegiatan ngeblog. Karena itulah saya merasa hepi untuk terus menulis di blog.

Jadi gapapa nih jadi blogger yang menerima tulisan berbayar?

Eh bien, pilihan hidup itu banyak sekali, jangan dibuat sempit. Do as you like, do as you want. Kalau nyaman menerima tulisan berbayar, ya terima. Kalau tidak nyaman, ya gapapa juga.

Kalau lebih nyaman bikin tulisan untuk mengejar lomba blog, ya teruskan. Kalau ga suka ikutan lomba blog, ya ga salah juga.

Tidak ada yang satu lebih tidak nista daripada yang lainnya kok. Kecuali jika kamu melakukan sesuatu yang merugikan orang lain, itu baru nista. Nah kalau Allesandro Nesta itu pemain bola. *apalah ngahaha. Pokoke just enjoy the process writing a blogwhether it is paid or not! ^^

Jadi apa target blogging saya di 2019?

Saya rasa saya hanya akan meneruskan perjalanan, lalu sesekali berhenti di cafe terdekat, menikmati menyesap kopi hitam untuk mengupgrade ilmu, atau belajar hal-hal baru.

Jika sudah waktunya untuk berjalan lagi, saya akan tetap berjalan di jalan setapak yang sama, sambil mengkhidmati perjalanan tersebut pelan-pelan, menikmati semilir angin sepoi dan pemandangan di sepanjang jalan.

So, be it. Karena tulisan ini merupakan tulisan penutup untuk BPN 30 Days Challenge, maka dengan ini saya nyatakan Blogger Perempuan Network 30 Days Blog Challenge 2018, selesai.

YUHUUUUUU !! *tebar confetti 😀

Buku Jungkir Balik Dunia Bankir : Bacaan Segar Pengalaman Teller Bank di Kota Besar

Buku ini hadir bulan Januari lalu, bertepatan dengan dua bulan masa kehamilan saya.

Maka, sembari menahan derasnya efek hormon Estrogen yang mengalir di tubuh (yang akrab dikenal  sebagai masa mual-muntah ceria), saya mulai membuka lembar demi lembar Buku Jungkir Balik Dunia Bankir : Curhat Gokil Mantan Teller Bank.

Membuka lembar pertamanya saja sudah sukses melemparkan ingatan saya kembali ke masa-masa dimana saya sendiri berprofesi sebagai seorang Teller di sebuah Bank BUMN yang katanya sih punya rakyat.

Pengalaman Kerja di Bank
Buku Jungkir Balik Dunia Bankir

Yang menyenangkan adalah karena, buku ini ditulis oleh teman saya sendiri yang juga seorang Blogger : Haryadi Yansyah atau yang dikenal dengan panggilan Omnduut.

Terbiasa membaca tulisan-tulisan Omnduut membuat saya yakin bahwa buku ini bisa menghibur saya; layaknya tulisan-tulisan lain darinya yang telah familar di benak saya. Buku ini juga resmi menjadi buku pertama yang saya baca di tahun 2018, berikut adalah overviewnya 🙂

Curcol Sejenak

Jadi dulu ketika saya masih SMU dan awam dengan dunia perbankan, melihat Teller di depan tunebank (meja di depan teller bank yang terbuat dari marmer), sukses memberikan saya beberapa kesan tersendiri.

Yang pertama mbak masnya itu cantik-cantik dan ganteng-ganteng.

Coba deh bayangkeun. Saya panas-panas dari luar, seketika masuk bank langsung seger dan adem melihat pegawainya yang kece-kece dan wangi.

Meski tidak menampik bahwa rasa ademnya ini mungkin karena efek AC di banking hall aja sih, hehe.

Kedua, mbak masnya itu tinggi-tinggi sekali (dibandingkeun dengan saya), sampek penasaran dulu mereka kecil makannya apa, kira-kira kalau kebanyakan makan pempek seperti saya ini bisa ndak tinggi semampai seperti mereka.

Ketiga, cara mereka menghitung uang itu kok kayaknya enak sekali. Sret-sret-sret, selesai. Atau kalau uang gepok banyak langsung dimasukkan ke mesin hitung uang. Beres. Praktis sekali bukan?

Kesimpulan saya ketika itu adalah : menjadi pegawai Bank itu keren (dengan gaji yang saya yakin juga keren) sehingga saya bertekad – dengan gaya kera sakti dan telunjuk menunjuk ke atas – bahwa ketika tamat sekolah saya juga mau jadi Pegawai Bank, Jendral!!!

Beberapa tahun kemudian semestakung dan saya benar-benar menjadi Pegawai Bank.

Saya ditempatkan di sebuah kantor unit Bank yang Katanya Punya Rakyat – di sebuah Kabupaten di Provinsi Jambi.

Sebagai Bankir Junior, skill dasar yang harus dipahami adalah menjadi seorang Teller.

Teringat kali pertama saya bertugas menjadi Teller.

Saya menghitung uang sejumlah seratus juta, setoran dari sebuah spbu di desa.

Melihat petugas SPBU mengeluarkan uang dari kantong kresek hitam, keringat saya menetes.

Memegang uangnya, membuat saya gemetar.

Menghitungnya membuat kaki saya lemas, tangan lunglai, otak menghitung tak karuan.

Saya salah berkali-kali.

Saya mengulang menghitung berkali-kali.

Rasanya pernah belajar matematika hingga kalkulus IV menjadi tak berarti; jika menghitung uang gepokan saja rasanya kayak mau ditelan bumi.

Sehingga, menjadi seorang Teller, memang sangat amat terasa berat di awal, Dilan. Aku aja yang udah pendidikan ngerasa berat, apalagi kamu, ya?

Tapi teman-teman bisa melihat penampilan kami para teller cungpret yang sudah menjalani profesi ini selama setahun.

Gaya perlente, senyum sedikit angkuh. Bukannya sombong, hanya sudah merasa lebih percaya dengan kemampuan diri.

Dimana menghitung uang puluhan juta sih termasuk ringan,

ratusan juta bahkan milyaran pun dihadapi

tapi sialnya semuanya itu adalah,

duit orang.

hehe

Overview Buku Jungkir Balik Dunia Bankir

Kesan serupa juga kental teman-teman dapatkan di buku Jungkir Balik Dunia Bankir.

Di buku yang memiliki 220 halaman ini, kita bisa mengetahui lebih banyak bagaimana rasanya menjadi seorang Teller Bank. Dengan dimensi buku 14 x 20 cm, buku ini cukup ringan untuk teman-teman bawa kemana-mana. Ya kali aja ada yang mau baca di cafe atau sebagai teman bacaan kala di angkutan umum.

Terbagi menjadi 37 Bab, pengalaman Omnduut selama menjadi Teller sukses membuat saya tersenyum dan ngakak di beberapa bagiannya.

Pengalaman Kerja di Bank
Yayan panggil aku Kakak, aku panggil Yayan Om. Jelas kan lebih tua siapa? hihi 😀

Bagi saya, yang notabene adalah mantan teller juga, ada beberapa hal yang menarik dalam pengalaman omnduut di buku ini.

Perbedaan paling mendasar tentu saja karena lokasi kerja kami yang sangat berbeda.

Sementara saya teller di sebuah Bank Kabupaten atau Desa, Omnduut adalah mantan Teller di sebuah Bank di tengah kota metropolitan.

Tapi yang tidak saya duga bahwa, nasabah di kota dan di desa setali tiga uang ajaibnya!

Maka saya salut karena Omnduut dengan baik sekali mengingat nasabah-nasabah ajaib tersebut mulai dari anak sekolahan hingga pedagang, mulai dari yang sok bossy hingga yang sangat baik hati.

Belum lagi pengalaman-pengalaman lainnya seperti suasana mistis di kantor, bolak-balik mengurus kesalahan sistem, hingga menghadapi nasabah yang tingkahnya cenderung tidak berpriketelleran bisa kita baca disini.

Dari sini kita bisa menilai bahwa ada seni tersendiri yang harus dimiliki oleh seorang Teller. Maka tidak berlebihan jika Omnduut membuat Judul Jungkir Balik Dunia Bankir, karena memang seperti itulah kenyataannya.

Seorang Teller tidak hanya harus bekerja secara SOP, namun juga harus bekerja dari hati untuk menghadapi nasabah yang berlainan sifat dan tindak-tanduknya.

Kebayang ga tuh. Kalau sehari menghadapi 50 nasabah, maka ada 50 sifat juga yang harus dihadapi oleh seorang Teller!

Bahwa meskipun ketika di depan Tunebank terlihat keren dan perlente, namun sebenarnya tetap banyak sekali masalah yang harus dihadapi oleh seorang Teller dalam kesehariannya.

Belum lagi kalau di akhir hari uang yang dipegang secara fisik berbeda jumlahnya dengan uang yang ada pada sistem, huaa rasanya pingin nangis guling-guling di banking hall layaknya anak balita.

Dan inilah yang menjadikan buku ini menarik. Di setiap babnya, Omnduut menceritakan dengan baik pengalamannya sebagai seorang Teller yang humanis.

Hasilnya? buku ini tandas saya baca sehari saja. Meski sedang melalui masa mual dan muntah di masa kehamilan awal, buku ini sukses menjadi penghibur dengan beragam cerita yang segar seperti es Mojito kesukaan saya, haha!

Pengalaman Kerja di Bank
Fresh Mojito, gambar dari Pixabay

Harapan saya? tentu terus sukses ke depannya sebagai penulis untuk Omnduut Haryadi Yansyah. Dan cencu saja saya menantikan buku-buku karya Omnduut selanjutnya 🙂

Oh ya, bagi teman-teman yang ingin berkenalan lebih jauh dengan Omnduut bisa visit blognya di sini

Judul Buku : Jungkir Balik Dunia Bankir Curhat Gokil Mantan Teller Bank

Penulis : Haryadi Yansyah

Jumlah Halaman 220 halaman, 14 x 20 cm, 37 Cerita

Diterbitkan Oleh : Penerbit laksana, www.blogdivapress.com

Tahun Terbit : 2018

Harga : Rp.55.000

Catatan Buku-Buku yang TER 1

Selamat hari buku Nasional!! tebar confetti tiup terompet tebar buku-buku terus lari takut ketimpa buku 😀

Lha bukannya hari buku kemarin Nin?

Betuuuul! makanya semoga belum basi karena Hari Buku Nasional itu sebenernya kemarin, tanggal 17 Mei. Tapi kemarin saya lupa; malah posting tentang Sendratari Ramayana saking baper sama pertunjukkannya.

Nah, Hari ini, tadi pagi, baru keinget.

Kayagnya saya niat nulis sesuatu buat hari buku nasional deh. Hwaaa malah kelewat!

Tapi gapapa. Let’s start all over again self talk, pukpuk diri sendiri

Jadi, di hari buku nasional kali ini saya ingin menuliskan 15 buku yang menurut saya masuk dalam kategori TER-, dan ini bukan review jeng jeng jeng

1.Buku yang Ter-Awal : Bobo

Bobo_(magazine)

Iya tau, ini majalah. Tapi berhubung majalah bentuknya buku jadi termasuk juga kan ya nina anaknya suka maksa 😀

Siapa masa kecilnya ga suka baca Bobo?  simpen telunjuk. Jaman saya SD dulu kayagnya sekelas saya suka banget baca Bobo. Bobo adalah bacaan pertama saya yang rasanya kayag surga karena baru kenal ada buku yang ga membosankan  layaknya buku-buku pelajaran. (had a same thought juga kan? ngaku deh :))

Tapi saya termasuk yang jarang beli Bobo. Kenapa? karena kebiasaan di kelas saya kalau satu anak sudah beli bobo, pasti kemudian beredar terus dipinjem dari satu anak ke anak lainnya.

Tapi dasar anak SD pun, kalau dulu mau berapa lama dipinjem pun tetap balik lagi ke kita. Coba kalau sekarang sigh jadi  my early childhood (and other child childhood in Indonesia) memang lebih berwarna oleh kehadiran B-o-b-o = Bobo! ketjup

2. Buku yang Ter-Horor : Serial  Fear Street

Fear_Street_The_New_Girl

Sebenernya saya ga suka horor, dan ga suka ditakut-takutin. Tapi entahlah kenapa saya macam addicted sama serial Fear Street ini. FYI Fear Street adalah serial horor remaja yang kalau di film semacam Scream atau I Know What You Did Last Summer.

Selagi sekolah dulu kalau ke Gramedia yang diincer duluan pasti Serial ini. Saya sempat koleksi bukunya dan kemudian berhenti ketika saya kenal Agatha Christie.

3. Buku yang Ter-Mikir : Agatha Christie

images

Kalau sudah beli Agatha Christie siap-siap cari pojokan enak, dan berjam-jam membaca TANPA MAU DIGANGGU. Wajar lah secara kasus kriminal yang dihadapi Mr Poirot atau Ms.Marple itu biasanya sangat pelik dan membuat saya mikir habis-habisan menganalisa satu persatu psikologis calon tersangka ciee kalimatnya, siapa kira-kira pelakunya, apa motifnya, mengapa ia melakukannya.

Terus biasanya ketebak ga na?

Kadang ketebak, keseringan enggak bangga Itu Poirot menganalisanya keren abis, sampe kadang saya baca bukunya bolak balik dari belakang ke depan lagi. Cuma buku Agatha yang cukup bikin saya shock adalah The Crooked House, karena pelakunya adalah… ah, ya, sudahlah.

4. Buku yang Ter-Bangke : Kambing Jantan

kambing jantan

Ini satu-satunya buku yang minjem dulu baru beli.

Kenal kambing jantan gara-gara liat buku ijo jelek nyembul di rak buku sepupu saya, keliatan banget kalau si buku ga diurusin. Akhirnya saya pungutlah dan baca isinya. Sebenernya penasaran aja dengan warna sampul sejelek itu, apa iya buku ini worth it buat dibaca?

Dan saya bener-benar terjatuh dalam jebakan betmen.

Masuk ke Bab pertama. Ngakak.

Masuk ke Bab kedua, ancur. Penulisannya jauh dari EYD, tidak sesuai dengan KBBI, dan bener-bener semau gue. Bikin singkatan seenak jidat. Yang nulis kelihatan cerdas, tapi ajaib. Tiap halamannya bikin saya ngakak terus-terusan, duh.

Buku itu tetap saya kekep bawak kemana-mana dan baca sampe abis. Sepupu saya sampe prihatin melihatnya.

Beberapa hari kemudian, saya ke Gramedia dan beli buku yang sama untuk diri saya sendiri. Ga lupa saya liatin ke teman-teman dekat bahwa saya nemu buku paling bangke yang ditulis anak paling ngawur bernama Raditya Dika.

5. Buku yang Ter-Mehek-mehek : Chicken Soup for The Soul

index

Bak reality Show di tv, maka Chicken Soup adalah wujudnya dalam bentuk buku. Penuh dengan kumpulan kisah-kisah nyata yang menyentuh hati, saya paling ga bisa kalau baca Chicken Soup terus ga nangis. Pasti nangis. Menurut saya bukunya beneran bagus karena banyak hikmah dan nilai moral yang bisa diambil (dan ditangisin).

6. Buku yang Ter-Psycho Psikologi : The 7th Habits of Highly Effective Teens

9780684856094_1275293807

Saya ga tahu kalau 7th habits buku terkenal sampai saya nemu buku Sean Covey (yang notabene anak dari Stephen R Covey) berjudul sama – cuma diperuntukkan buat remaja.

Kalau ditanya bedanya apa, ya ga ada bedanya, hanya point-point penting dijelaskan dalam bahasa yang mudah dipahami  dan ga ribet cocok dengan saya yang waktu itu masih muda kuliah.

Kesini-kesininya, saya reccomended sangat buku ini buat adik dan saudara-saudara yang masih remaja; bahkan saya pernah ngasih buku ini sebagai kado ulang tahun sepupu saya. Menurut saya isinya cukup penting untuk dijadikan bahan renungan bagi anak muda macam saya 🙂

7. Buku yang Ter-Buffering : The Graveyard Book

81ibaj1whyl-_sl1500_

Secara Roaming ga musim lagi ya bok, sekarang musimnya buffering.

Terus kenapa masuk yang terbuffering karena The Graveyard Book adalah buku novel Bahasa Inggris pertama yang saya punya. Iya sih, saya punya nilai toefl yg cukup benerin poni tapi ketika sekolah berlalu, tes kerjaan berlalu, saya ngerasa Bahasa Inggris saya (terutama grammarnya) jadi berkarat dan ga karu-karuan.

Makanya akhir-akhir ini saya jadi sering baca buku Bahasa Inggris supaya kemampuan berbahasa engges  tetap terjaga. Hanya efek sampingnya ketika baca saya jadi lama mikirnya, lama ngolahnya – ini karena baca sambil buka gugle translate buat ngartiin beberapa kalimatnya.

Sok gaya sik lu Nin ;p

Nah kalau tentang graveyard booknya sendiri bercerita tentang anak kecil bernama Nobody Owens (Bod) yang sedari bayi tinggal di pemakaman dan diasuh oleh hantu-hantu disana, karena satu keluarganya dibunuh. Kalau ada yang kira ini buku horor, bukan samsek – ceritanya malah kocak dipicu oleh perbedaan antara Bod dan hantu-hantu yang merawatnya.


Weis yo, ambil nafas dulu, capek ih nulisnya. Yang Nomor 8 – 15 dilanjut next posting aja ya ke Pt2 ting 😉

Portfolios

Proud Remote Worker On

61 projects di projects.co.id rating 10/10,  rank #127 dari 148,925 (per tgl 29 Des 2018)

join me on projects.co.id!


Blogs

www.toelanksingo.wordpress.com

bonadapa.com

 

Contests

1st winner writing published (antologi) by : Nulis Buku Club Palembang

1st give away winner Taman Baca Pesisir

1st winner Lomba Blog Prenagen #PPEJ2017PLM

3rd winner Lomba Blog HiJup & Resik V Godokan Sirih di Palembang

1 from 6 winner Lomba Blog HiJup & Softex Daun Sirih di Palembang

 

Projects & Experiences

helloninapalembang1

Chemical Enginering Magazine Sriwijaya University : Exchanger (Editor in chief)

Cintaihidup.com (content writer)

Hellopalembang.com (contributor)

bp-guide.id (content researcher)

pesenmakan.id (contributor)

geminiservices.co.id (English Writing)

projects on progress…

 

Brand Writing

Dancow Parenting Center | PT. Bank Central Asia, Tbk | Zalora | Serumah.com | Traveloka | Wardah | MatahariMall.com | Bambideal.id | HijUp | Alfamart | X2 Bio Softlens | Bukalapak | Mooimom | Goldmart | Sunlife financial | Future Ready | PegiPegi.com | Yukstay.com | Rajabacklink.com | SPOTS by GO-JEK | Yamaha |

 

Local Business Writing

My Office Coworking Space | Pindang Falih Palembang | Javan Steak Bandung | Kedai Harum Palembang |Toko Oleh-oleh A2 Belitung

 

English Writing

https://geminiservices.co.id/

 

Member Of

Palembang Internet Community

Blogger Perempuan

Blogger Indonesia

Wongkito Blogger Palembang

Palembang Beauty Blogger

Kumpulan Emak Blogger

Blogger Crony

Relawan Generasi Pesona Indonesia (Genpi) Sumatera Selatan


For sponsorship offers,

ad commercial banner,

event review request,

other writing-related jobs,

and further information,

please reach me at Contact Me page.

Thank you! 🙂

Save

Back To Top
%d bloggers like this: