Advertisements
Palembang Parenting Story

Cara Kami Jugling Memilih Sekolah Dasar Anak

Tips memilih sekolah anak. Sekitar 5 tahun yang lalu, saya pernah merasakan bingung dalam mencari sekolah anak. Namanya pun anak pertama yakan. Maunya kita sebagai orang tua bisa dapet sekolah yang bagus, yang dekat rumah dan biayanya terjangkau.

To good to be true? bisa iya bisa enggak. Karena memang ada sekolah-sekolah macam ini. Jadi bersyukurlah jika anda bisa menemukan sekolah anak sesuai dengan spesifikasi yang diinginkan.

Nah karena Mbak (anak saya yang nomor 2) akan masuk SD tahun ini, saya kembali ingat proses ketika saya mencari sekolah SD untuk Abang dulu. Jadi Mbak dimasukkin ke sekolahnya Abang nih? iyes banget. Karena dulu proses memilih SD Abang juga butuh waktu dan ga ujug-ujug pilih sekolah itu.

Berikut adalah beberapa hal yang kami (saya dan suami) lakukan ketika memilih sekolah Abang dulu.

1.Pikirkan jauh-jauh Hari

Saya memikirkan sekolah abang setahun sebelum ia masuk SD. Jadi ketika abang menginjak kelas B taman kanak-kanak, saya mulai mikir deh tuh abang mau SD di mana. Sounds lebay? hahaha gapapa sih santay aja saya kalau dibilang lebay mah :p.

Karena ternyata kami memang butuh waktu untuk membuat list, tanya-tanya reputasi sekolah, menyelidiki akreditasi, melihat sekolahnya langsung, menanyakan orang-orang tentang sekolah tersebut, ngobrol sama orang tua yang anaknya sekolah di sekolah tersebut, saya bahkan tanya anak-anak dari SD ini banyak diterima di SMP mana, dan lain-lain.

Kalau ada yang tanya ke saya kenapa kok perlu usaha segitunya untuk cari sekolah yang bagus buat anak? gak selow aja gitu karena anak masih SD juga?

Ya justru karena SD adalah masa-masa yang sangat penting dimana anak-anak menerima segala sesuatu hal secara fundamental *ceilah. Ia juga akan menghabiskan waktu paling lama disana (6 tahun), dibanding ketika ia SMP dan SMA.

Harapannya, kalau dasarnya udah bagus, mudah-mudahan untuk seterusnya juga bagus.

Ada juga yang bilang ‘Apapun sekolahnya, yang penting orang tuanya!’  menurut saya ga gitu juga. Kalau bisa seiring seirama, membackup satu sama lain kan malah bagus ya? mengingat anak-anak juga menghabiskan lebih banyak waktu di sekolah daripada di rumah.

Lagipula di sekolah mereka belajar bersosialisasi dengan teman sebaya, berkomunikasi, sopan santun, dan soft skill lainnya yang ga akan mereka dapatkan kalau hanya berinteraksi dengan orang tua saja.

Jadi ya, memilih sekolah anak menurut saya harus dilakukan secara serius. Pokoke Ikhtiar maksimal, serahkan ke Allah kemudian.

2. Bikin List Sekolah yang Potensial

Sekolah yang potensial bisa kita buat berdasarkan list yang kita inginkan. Misalnya :

  • List sekolah yang bagus dan dekat rumah.
  • List sekolah yang bagus tapi agak jauh dari rumah
  • List sekolah yang berbasis agama seperti Islam Terpadu
  • List sekolah yang bagus tapi terjangkau (based on budget anda)

Atau kita bisa modifikasi spesifikasinya sesuai dengan hal-hal yang kita inginkan. Misalnya kita ingin SDnya ada lapangan sepak bola, atau ada kolam renangnya. Ya boleh-boleh aja.

Lagipula untuk sekolah dasar, kita masih bisa bikin list begini ya. Kalau SMP dan SMA pilihan sudah agak sempit karena harus sesuai dengan zona tempat tinggal dan KK (Kartu Keluarga) untuk sekolah yang Negeri.

Lanjut ya

Nah setelah membuat list, kita bisa mulai melakukan riset ala ala terhadap sekolah yang udah ada dalam pilihan. Risetnya gimana? dijelaskan di point selanjutnya.

3. Datang Langsung ke Calon Sekolah Potensial

Ajak anak mendatangi sekolah SD yang ada dalam list, ajak ia melihat langsung suasana di sana dan dengarkan pendapatnya mengenai sekolah tersebut.

Kita juga bisa memperhatikan secara langsung bagaimana interaksi di sekolah tersebut. Apakah anak-anak bersikap hangat? atau penuh ketakutan?

Bagaimana sikap mereka terhadap guru atau orang yang lebih tua? sopan atau tidak? hangat atau penuh ketakutan?

Apakah terlihat ada kecenderungan sikap anak-anak untuk membully atau lainnya?

Silahkan disesuaikan lalu ambil kesimpulan sendiri ya 🙂

4. Wawancarai Orang Tua Anak yang Sudah Bersekolah di Sana

Beneran ini memang lebay tapi hal ini benar-benar saya lakukan dulu, hahaha.

Jadi dulu list sekolah potensial untuk Abang mengerucut menjadi dua. Hanya yang satu mahal, dan satunya lagi standar. Kebetulan, sekolah standar ini wilayahnya tak jauh dari rumah, sehingga banyak tetangga saya yang sudah menyekolahkan anaknya di sana.

Ketika saya mewawancarai tetangga terkait sekolah yang standar ini, semua yang saya ajak bicara memuji sekolah tersebut. Yang saya ingat adalah :

“Anak saya jadi cepat baca” (kebetulan anaknya ketika masuk SD belum bisa baca)

“Anak saya jadi hafal banyak surat, hadist dan Iqronya lancar”

“Hubungan sesama anak disana baik. Kakak kelas mengayomi adik kelasnya. Tidak ada budaya membully”

“Anak saya terlihat senang bersekolah di sana dan akhlaknya baik”

Setelah mewawancarai sekira beberapa orang yang menceritakan sekolah ini dengan mata berbinar, saya jadi ingin anak saya bersekolah di sana.

Mungkin anda bilang : ya emangnya beberapa orang tua saja sudah mewakili? risetnya kok cemen sekali.

Gapapa. Berapapun orang tua yang bisa diajak bicara ya ajak bicara. Kalau niat banget ke sekolah terus menanyakan sebagian besar orang tua yang ada disana boleh juga supaya dapat sampel yang lebih banyak, hihi.

Akhirnya saya benar-benar membawa anak saya datang ke sana untuk Tes masuk sekolah, dan saya bilang bahwa anak saya baru mengenal huruf namun belum bisa membaca. Gurunya waktu itu berkata : gapapa Ibu, karena setiap anak itu tidak sama. Kurang di satu hal, pasti ada kelebihan di hal lainnya.

Dang. Saya jatuh cinta.

5. Biaya Sekolah tidak Selalu Berbanding Lurus dengan Kualitasnya

SD kedua dalam list potensial saya adalah SD yang terkenal mahal dan sebenarnya agak di atas budget kami. Bayangkan saja kalau uang pangkal di sekolah ini nominalnya bisa lebih dari biaya kuliah S2 saya dua semester ngahaha.

Namun sebagai orang tua pada umumnya, jika kualitas sekolah memang mumpuni, maka urusan budget bisa dibela-belain. Misalnya emak jadi down grade merek bedak, atau belanja online ditiadakan. Namanya juga demi anak, yakan yakan.

Lalu saya melakukan hal yang sama dengan sekolah yang sebelumnya. Saya mewawancarai beberapa orang yang anaknya sudah lebih dulu sekolah di sekolah mahal ini.

Ajaib atau apa saya ga ngerti juga. Para orang tua ini ga gengsi untuk cerita ke saya bahwa mereka tidak begitu puas dengan hasilnya.

“Ga semua sekolah mahal kualitasnya pasti bagus. Anak Tante kayagnya gitu-gitu aja sih. Nothing special lah. Kemahalan. Mau dipindahin dari sana males mau ngurus surat-suratnya lagi” yang ini kebetulan masih sodara sama saya jadi saya percaya testimoni beliau. Karena beliau memang wanita karir yang sibuk, saya jadi percaya sih alasan dia ga memindahkan anaknya dari sekolah itu karena ogah ribet ngurusin surat menyuratnya.

“Anakku kemaren bilang sama Papanya : Papa Aku malu. Papa kenapa jemput aku pake mobil yang ini-ini aja sih?. Temen-temenku dijemput mobilnya ganti-ganti”

Saya mikir : Go Car kalik? mobilnya ganti-ganti? hihihi. Eh tapi 5 tahun yang lalu belum ada Go Car di Palembang deng. Jadi ketika saya mewawancarai sang emak mengenai sekolah mahal ini, lha emaknya malah keterusan curhat tentang tingkah anaknya. Hahaha

Menurut saya hal ini bisa terjadi karena si anak sekolah di sekolah yang mahal, jadi ekosistem status sosial yang ada di sekolah tersebut menjadi hampir seragam. Ya kalik yang sekolah disana kan pasti anak orang-orang tajir semua.

Ga ada yang salah sih. Cuma kita sebagai orang tua juga harus antisipasi dampaknya terhadap anak – seperti anak yg malu Papanya bawa mobil yg itu-itu aja ke sekolah.

Namun bukan berarti semua sekolah mahal itu terkesan jelek seperti cerita di atas ya. Saya ga menghakimi sekolah-sekolah mahal kok, beneran. Saya malah mengakui bahwa banyak juga sekolah mahal yang benar-benar berkualitas.

Hanya kita sebagai orang tua perlu banget kritis kenapa sebuah sekolah bisa mahal harganya.

Apakah mereka mahal karena memang punya kualitas yang bagus?

Apakah mereka mahal karena punya fasilitas di atas rata-rata yang sekolah lain ga punya?

Atau mereka mahal karena BISNIS PENDIDIKAN semata? Dimana orang tua jadi bangga karena anaknya sekolah di sekolah mahal, padahal kualitas Sekolahnya biasa-biasa saja?

Sekali lagi, bagi saya cerita-cerita dari word of mouth semacam ini patut dijadikan pertimbangan dalam memilih sekolah anak.

Sudah baca ini? Cara Menumbuhkan Minat Baca Pada Anak

Kalau ini? Loft Palembang Indah Mall

6. Mendaftar Lebih Cepat Lebih Untung

Anda sudah menentukan sekolah pilihan 6 bulan sebelum tahun ajaran baru? wah itu justru lebih bagus lagi. Karena salah satu keuntungan memikirkan sekolah dari jauh-jauh hari adalah kita bisa mendaftarkan anak kita di gelombang pertama.

Dimana gelombang pertama biasanya sudah buka sekitar 4 hingga 5 bulan sebelum tahun ajaran baru dimulai (tiap sekolah bisa jadi berbeda).

Keistimewaan mendaftar di gelombang pertama? orang tua bisa dikenakan potongan harga. Baik itu biaya pendaftaran, uang pangkal dan biaya-biaya lainnya.

Jadi bisa lebih hemat juga karena uangnya bisa kita gunakan membeli keperluan lain untuk sekolah anak. Senang!


Jadi, puaskah kami dengan sekolah Abang? saya dan suami bisa bilang bahwa kami cukup puas melihat hasilnya pada Abang.

Sebegitu sempurnakah sekolah Abang? tidak juga.

Saya mencatat ada beberapa kekurangan seperti tingkat turn over guru-guru disana yang cukup tinggi dan beberapa hal-hal lainnya.

Namun karena tidak ada hal yang sempurna di dunia, saya rasa selama hal tersebut tidak begitu crucial dan berdampak langsung kepada anak, saya dan suami masih bisa memaklumi.

Dengan harapan semoga Mbak sama seperti Abang, merasa senang di sekolah ketika masuk SD beberapa bulan mendatang. 🙂

Nah apakah Anda punya cara lain yang juga efektif dalam memilih sekolah anak? tuliskan di komentar yuk!

Advertisements
NinaFajriah
<p>Lulusan Teknik yg addicted dengan dunia baca dan tulis menulis. Menganggap dirinya seorang Gryffindor, ia selalu memiliki affair dengan Agatha Christie, Dan Brown, Google, dan secangkir kopi hitam. Sangat cinta keluarga kecilnya, rajin nulis di bonadapa.com</p>
https://bonadapa.com

10 thoughts on “Cara Kami Jugling Memilih Sekolah Dasar Anak

  1. anak saya baru masuk 2 bulan sekolah TK di Bangko, saya dapet penugasan baru ke kota sebelah. Agak sebel juga soalnya uang gedung ga bisa ditarik lagi -iyalah wkwkw- perlu waktu sekitar 2 minggu buat cari sekolah baru. Infonya tanya sama teman dan cari di gugel. ada 3 TK yg lumayan jadi pertimbangan. sekolah A dekat banget sama rumah, tp biasa aja. sekolah B lumayan bagus, tp masuknya juga ‘lumayan’ sekolah C paling jauh dari rumah, udah punya nama jadi terkenal mahal banget wkwk.. aku setuju banget, buat anak jangan coba2, apalgi TK dan SD 🙂

    1. Betul. Jadi inget rekan2 kerja dulu ketika dipindahin promosi atau mutasi, yang dipikirin duluan adalah sekolah anak. Langsung deh mereka juggling juga tanya2 sekolah mana yang bagus. Terutama TK dan SD sih ini. Surveynya di sekitar orang2 kantor aja tapinya (karena rumah dinas jadi areanya sama). Ada yang langsung pindah dan cari sekolah, ada juga yang keluarganya stay dulu menghabiskan enam bulan tahun ajaran, baru ikutan pindah.

      Jadi dirimu pilih TK yang mana Pak? diselidikin dulu ga satu2 apa fasilitasnya, kenapa mahal banget wkwkwk

  2. Kalo survey ini malah dimulai saat masukin TK. Anak sy termasuk yg pendiam dan agak kagetan kalo ada suara “meninggi”, jd pas datang ke TK pertama yg kata orang bagus, gurunya neriakin anak2 masuk kelas dengan volume desibel yg pasti bikin anak sy males sekolah haha. Pas ke tempat kedua, alhamdulillah feelingnya cocok nih.

    1. Nah ini. Salah satu penyesalan terbesar. Saya ga pake cara2 ini waktu cari TK Abang, jadi dapet TK yang menurut saya ga bagus. Guru-gurunya otoriter dan anak kedua saya akhirnya saya masukkin ke TK yang lain. Saya setuju mba, survey ini juga bisa mulai dilakukan mulai dar TK ya 🙂

  3. TK B dan TK C ini sama2 sekolah terpadu, jadi pendidikan agamanya banyak banget, kalo tk negeri kan cuma hafalan surat pendek aja, kalo dua tk ini ada praktek wudhu dan sholat seminggu 2x, hafalan surat pendek dan doa ada.. masalahnya TK C ini aagak di pinggir kota, kalo malem sepi, padahal udah suka banget sama lingkungan perumahan dekat TK nya, pilihan akhirnya jatuh ke TK B yang gak terlalu jauh dari rumah (2km), uang masuknya juga gak semahal TK C …

    1. Sekolah anakku juga deskripsinya kurang lebih sama dengan TK B ini (tapi ini SD) jadi sekolah SDIT, ga terlalu mahal dan lumayan dekat juga dari rumah. Pengalaman di Palembang kalau sekolah terlalu jauh dari rumah juga repot. Secara anak-anak kalau pagi masih harus dilatih berpakaian sendiri dan kalau hujan Palembang banjir. Yang sekolahnya jauh jadi banyak yg meliburkan diri wkwkwk.

      Sekolah standar atau mahal, yang paling penting anak terlihat bahagia dan ga tertekan ketika bersekolah yak 🙂

  4. Aku tahun ini juga rencana masukin anak ke PG yaelaaaaa
    sempat cari-cari dikit yang aksesnya masih deket-deket rumah. Nanya-nanya juga sih sama temen kantor. Sayangnya ga ada trial, tapi untungnya bisa lihat-lihat

    1. Memang cari sekolah gampang2 susah. Di Palembang sekolah PG yg bagus ya ada banyak tapi tetep harus survei2 dulu. Semoga dapet yang cocok ya Mahira 😀

Kalau komentarmu bagaimana?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back To Top
%d bloggers like this: