Advertisements
  • Inspiration

    Imaginary Interview : 7 Bulan Pasca Resign

    Sejak Bonadapa mengeluarkan tulisan yang berbau ‘resign’ pada tulisan yang ini, tampaknya pencarian mengenai pengalaman resign cukup banyak diminati ya. Saya sempat berfikir kenapa. Apakah trend resign dari waktu ke waktu semakin terlihat ‘seksi’? Meski pada kenyataannya, kehidupan yang harus dijalani pasca resign itu tidak cukup mengandalkan ‘seksi’ semata, lho. Sama seperti halnya dengan semua keputusan yang kita buat di dunia, ibarat memiliki dua sisi mata koin : berdampak enak dan berdampak ga enak. Nah, terus gimana kabarnya dengan saya, yang sudah menjalani 7 bulan masa resignnya? Tulisan berikut merupakan imaginary interview oleh saya kepada saya, menghindari kenyataan bahwa di luar sana pasti ga ada yang mau wawancarai saya, huhuhu…

  • Inspiration

    Beberapa Alasan Untuk Resign

    Beberapa Alasan Untuk Resign. Jadi kemarin having a nice warm chat di pantry kantor dengan beberapa orang. Seperti biasa kalau di pantry kita ngobrolnya santai banget kayag di pantai, topiknya bisa apa saja – dan biasanya tidak ada hubungannya dengan segala SOP urusan kantor karena pantry termasuk daerah refreshing area. Sampai salah satu rekan nyeletuk begini : Ada temenku barusan resign di kantornya. Padahal doi kerja di BUMN dengan jabatan yang sudah tinggi. Kadang heran sama orang yang begitu. Memang apalagi sih yang dicari? Pertanyaannya sih simple, tapi cukup menohok. Namun hal ini memantik ingatan saya, bahwa sebenarnya ada banyak, banyaaaaak sebab yang melatarbelakangi seseorang yang punya jabatan dan gaji…

  • Inspiration

    A Thing Not Everything

    Hipotesis 1 : Uang adalah segalanya Percakapan tadi pagi dengan seorang calon pegawai yang sedang OJT di kantor, cukup membuat saya tertegun. “Jadi.. kenapa kog memutuskan resign dari ***?” tanya saya sambil menyebutkan salah satu kantor akuntan publik internasional ternama yang memiliki kantor perwakilan di Jakarta. Heran, pasti. Tapi mohon maaf atas ke-kepoan saya. Terlebih yang saya hadapi adalah seorang pemuda yang belum menikah; belum banyak hal yang harus difikirkan mengenai anak atau istri, misalnya. Bekerja di gedung perkantoran paling prestise di Jakarta; di salah satu perwakilan kantor akuntan publik ternama di dunia; dengan digit gaji yang sulit dihabiskan oleh seorang lajang seperti dirinya. Ia bukan hanya telah berada di…