Beberapa Alasan Untuk Resign

Jadi kemarin having a nice warm chat di pantry kantor dengan beberapa orang. Seperti biasa kalau di pantry kita ngobrolnya santai banget kayag di pantai, topiknya bisa apa saja – dan biasanya tidak ada hubungannya dengan segala SOP urusan kantor karena pantry termasuk daerah refreshing area.

Sampai salah satu rekan nyeletuk begini :

Ada temenku barusan resign di kantornya. Padahal doi kerja di BUMN dengan jabatan yang sudah tinggi. Kadang heran sama orang yang begitu. Memang apalagi sih yang dicari?

Pertanyaannya sih simple, tapi cukup menohok. Namun hal ini memantik ingatan saya, bahwa sebenarnya ada banyak, banyaaaaak sebab yang melatarbelakangi seseorang yang punya jabatan dan gaji lumayan untuk resign dari pekerjaannya. Berikut beberapa alasan yang pernah saya temui :

1. Resign Untuk Jadi Ibu Rumah Tangga

Pada kenyataannya meninggalkan anak untuk kerjaan itu sangat berat, jendral. Seberapa tinggi apapun jabatan sang ibu di kantor, seberapa pun besar gajinya, meninggalkan anak di rumah untuk bekerja itu rasanya selalu kayag yang berdarah-darah.

Tapi kan selalu ada alasannya kenapa seorang ibu bekerja ya, yang tidak boleh seenaknya kita jatuhkan judgement dangkal mengenai alasan seorang ibu memilih untuk menjadi wanita karir ataupun ibu rumah tangga.

Menurut saya – yang pernah resign untuk jadi ibu rumah tangga- resign untuk alasan ini di satu sisi sangat melegakan (sekaligus sangat mulia) karena bisa terus dekat sama anak-anak dan suami.

Di satu sisi bisa jadi membingungkan – karena seumur hidup selalu keluar rumah sekolah, ngantor ketemu orang banyak dengan banyak urusan yang harus dilakukan setiap harinya, tetiba harus menjalani hidup yang monoton.

Tapi banyak juga yang resign, jadi ibu RT terus memulai usaha yang maju kabeh. Tergantung niat juga kalau niatnya kuat, menikmati hidup tenang di rumah dengan anak-anak tanpa harus dipusingin sama tetek bengek urusan dan politik kantor bisa jadi rasanya kayag di surga. Iya kan?

Ah intinya ini saja : do what’s good for you – or you are not good for anyone.

Contoh : Ibu Karen Mantan Presiden Direktur Pertamina

2.Resign Karena Konflik di Kantor

Ada salah tiga teman saya yang begini. Memutuskan resign karena memiliki konflik dengan rekan kerja maupun atasan yang menurut mereka jahatnya kayag setan.

Saya pribadi kurang mendukung resign dengan alasan ini; moso iya mengorbankan karir dan pendapatan hanya demi seorang setan?

Toh organisasi itu berubah loh, tidak stagnan. Lama kelamaan si orang jahat ini pasti akan pindah divisi, atau naik jabatan, atau pensiun, atau ketumbur truk lalu mati dan lain sebagainya.

Jadi wise opinion mbok ya kalau bisa dipikir-pikir lagi kalau mau resign kalau alasannya cuma ini (dan saya menuliskan kata ‘kalau’ sebanyak 3 kali. Okesip)

3. Resign karena Mengejar Passion

Sangat susah memang kalau harus membohongi diri sendiri. Kalau misalnya pekerjaannya dokter, tapi passionnya jadi MUA, susah banget menjalani hari demi hari sebagai dokter kalau bawaannya ngeliatin make up melulu.

Ada yang begini? Ada. Banyak.

Dokter jadi Pengusaha pembersih sepatu? Ada. Dokter menjadi Financial Planner? Ada. Dokter Hewan jadi pegawai bank? Ada. Insinyur Jenius jadi pianis? Ada.

Seperti yang Yoris Sebastian bilang, it’s okay untuk mengejar passion, tapi pikirkan juga apakah passion ini dapat menghidupi kita? If yes, then go for it.

Pertanyaan passion by Yoris :

  1. What you are GOOD at?
  2. What you LOVE?
  3. What the world NEEDS?
  4. What you can be PAID FOR?

Contoh : Yoris Sebastian, Creative Entrepreneur

4.Resign karena Bukan Jiwanya Jadi Karyawan

Jadi gini. Saya pernah diceritain bahwa ada seorang yang resign dari pekerjaan yang oke banget just bcoz dia ga bisa membayangkan seumur hidupnya bangun pagi, ngikutin SOP, memaklumi birokrasi, ngajuin cuti susah, cuti cuma 12 hari setahun, waktu untuk diri sendiri tidak ada, waktu untuk keluarga sangat sedikit sekali.

Jadi jangan heran. Mbok ya mau udah jabatan tinggi gaji gede mereka memutuskan untuk resign.

Ini jiwa-jiwa pengusaha biasanya. Yang punya fikiran kreatif tak terbatas, bakat kepemimpinan tinggi dan punya peraturan sendiri.

Tapi jiwa pengusaha juga musti tangguh karena jadi pengusaha itu sama sekali tidak mudah. Yakin sudah siap terima tantangannya? Kalau sudah yakin gapapa resign daripada kelamaan menyiksa diri sendiri, hehe.

Contoh : Diana Rika Sari, blogger

5.Resign karena Hati Nurani

Jadi saya punya teman. Yang sebelum resign bimbang sekali. Bukan soal gaji atau pendapatan. Itu mah berlebih. Yang jadi soal adalah, dengan gaji yang nominalnya jelas, si teman ini selalu memperoleh ‘uang sampingan’ tapi bukan dari pekerjaan sampingan. Dia bilang itu ‘kucuran’ dari bosnya. Sama bosnya suruh bagi-bagi ke rekan dia yang lain.  Dan kejadian begini sering. Bukan sekali dua kali.

Dia pernah tanya ke bosnya : bos ini uang apa?

Jawabannya : udah kamu bagi-bagi saja.

Si teman lama-kelamaan bingung, hati nurani tidak terima. Akhirnya dia resign. Orang tua jelas kecewa, teman-temannya heran, tapi kan tidak ada yang tahu apa yang terjadi di sebuah organisasi hingga seorang itu telah berada di dalam organisasi itu sendiri.

Saya sangat salut dengan teman saya ini. Jikalau ada lebih banyak orang yang begini, saya bisa menatap masa depan Indonesia yang lebih cerah. Setuju?

6.Resign Karena Ingin Cari Pekerjaan Baru yang Lebih Balance Waktunya

Inget kasus Mita Diran yang seorang karyawan periklanan meninggal setelah 30 jam bekerja nonstop?

Ga salah kalau saya pernah ketemu salah satu orang yang resign ‘hanya karena’ dia ingin kehidupan yang lebih seimbang. Tapi melihat dampaknya pada Mita, alasan ini seharusnya bukan ‘hanya karena’ iya, ga? Apa nyawa sebanding sama besarnya gaji? Saya rasa semua orang akan menjawab enggak  ya.


Jadi gimana? Kepikiran buat resign juga? Alasannya sudah tepat atau belum? Yakin ga bakal menyesal di kemudian hari? Salat Istikharah dan bicarakan dulu dengan keluarga, dan semoga ketemu keputusan terbaik dalam waktu dekat ya 🙂

Sebenarnya masih ada banyak alasan-alasan resign yang lain. Mungkin ada yang mau sharing mengenai alasan resignnya di komentar?

 

16 Comment

  1. istriku dulu guru, pernah kerja di perusahaan juga, resign demi keluarga huhuhu…
    aku selalu salut sm mba2 ibu2 yg berani resign karena alasan no.1 ini, mereka hebat!!

    mba, aku minta kalender 2017 dong #eh

    1. Iya, akupun salut sama wanita bekerja yang resign lalu jadi Ibu Rumah Tangga, karena aku ndak setangguh mereka soalnya kemaren udah resign, eh kerja lagi. huhu. Salam buat istrinya yaaa 🙂

      Kalender 2017 aku beda Pak, tanggal merahnya lebih banyak #eh

  2. aku pengen resign karena passion kak

    1. Asalkan passsionnya bisa menghasilkan seperti yg Yoris bilang ga masalah ya Win 🙂

  3. WOW…. mau dong hehehe #ngarep

  4. Di kantorku apalagi temen seangkatan, mayan banyak yang resign karena dapet jodoh! ??? abisnya ga boleh nikah sekantor sih, mau ga mau ada yang ngalah deh Kak.

    1. Aaah iya yang ini juga banyak ditemuin nih! soale Witing Tresno Jalaran Soko Kulino, sering ketemu terus jadi jeruk minum jeruk gitu ya Ta hahaha 😀

  5. No.7, Resign karena bos resek muahaha. Eh gak juga ding, lebih karena passion bukan di situ. Ditambah punya bos ngehe, rekan kantor yang blukutuk, jadilah resign. 😀

    1. Ini agak mirip sama yang nomor 2 Om. Resign karena konflik di kantor akibat ketemu rekan kerja/atasan yang jahatnya kayag setan,hahahaha. Btw blukutuk itu artinya opo to om? di KBBI gak ketemu 😀

  6. Saya terakhir kerja kantor tahun 2008, habis itu resign jadi web-developer freelance sampai sekarang. alesan utama sih karena gak betah di kantor yang mesti dateng pagi pulang sore, padahal ada banyak waktu selain duduk-duduk di kantor yang bisa nambah skill, ilmu, dan waktu dengan keluarga 🙂

    1. Iya betul banget kak. Akupun nge-freelance jadi sudah mempraktekkeun enaknya kerja dari rumah, dan bisa mengatur waktu seefisien mungkin untuk terus belajar hal2 yang kita sukai (dan menghasilkan). Sukses terus kak Ardi, semoga project dan rezekinya mengalir deras, Aamiin YRA ?

  7. aku tahun lalu resign demi menjaga kewarasan sih, meski tiga bulan kemudian pusing lagi butuh ‘duit jajan’ :))

    alhamdulillah sekarang sudah ada uang jajan lagi~

    1. Sukses untuk sumber ‘uang jajan’ barunya mbak ?

  8. […] dan apa yang melatarbelakanginya. Karena itu sudah saya tuliskan secara tersirat pada tulisan yang ini. Salah satu tidak enaknya (atau enak?) menjadi orang yang hobi menulis adalah – anda tidak piawai […]

Leave a Reply