Halo Generasi Milennial, Kok Pelit Sih?

“Kids jaman now tidak lagi bertanya : Kamu merek bajunya apa?; tapi lebih kepada : kamu sudah pernah kemana saja?”

Pagi ini ada sebuah headline berita yang cukup menarik, menyebut generasi Milenial yang lahir mulai dari tahun 1980 hingga tahun 2000 (Swa.co.id) – dimana saya juga termasuk salah satu diantaranya – konon merupakan angkatan kelas menengah yang ngehek dan tidak boros.

Munculnya statement ini ini bukanlah tanpa sebab.

Adalah Bloomberg dalam artikelnya yang berjudul “Why Aren’t Indonesian Consumer Spending?” menulis bahwa

While employment rose by 3.9 million in the year through February and average monthly wages gained 24 percent in the period, retail sales remain well below the double-digit growth rates of past years. Inflation has also been relatively benign, easing to 3.7 percent in September.

Yak. Bloomberg heran dengan perilaku berbelanja orang Indonesia. Dengan indikator perekonomian yang dirasa ‘baik-baik saja’ tapi pergerakan Grafik GDP semakin menurun dari tahun ke tahun.

Sumber : Bloomberg

Kenyataan lesunya industri retail di Indonesia ini juga diikuti fakta bahwa hingga pertengahan tahun 2017 ini, PT Matahari Putra Prima Tbk, salah satu retail chain terbesar di Indonesia, telah mengalami kerugian hingga 170 miliar rupiah.

Sedangkan Sales Department di jaringan Ramayana Lestari Sentosa Tbk juga mengalami penurunan 0.5 persen hingga bulan Juli 2017. Padahal Ramayana sendiri, jika dibandingkan dengan tahun lalu, bisa mengalami kenaikan hingga 6.9 persen dalam pertumbuhan retailnya.

Secara singkat Bloomberg menulis, bahwa pemerintah Indonesia sendiri pun merasa bingung mengapa industri retail terus mengalami penurunan yang signifikan, padahal sudah ditopang dengan kondisi perekonomian yang stabil dan kondusif. Ketika Bloomberg mengkonfirmasi hal ini kepada Ibu Sri Mulyani selaku Menteri Keuangan, beliau berkata

The millennials, they don’t really like to change clothes every day,” Indrawati, the finance minister, said. “They want to have the same T-shirt, like Steve Jobs, black. Maybe they only have two, I don’t know, but they are not buying.”

Membaca tanggapan yang langsung menunjuk ke The millenials, hati saya menjadi rungsing dan tangan rasanya ‘gatal’ pingin mengetik di keyboard – sambil bergumam panjang pendek : okay, I will take my responsibility as one of The Millenials! 😀


Pertanyaannya : Apakah benar kaum Millenials enggan belanja? Apakah benar saya, dan rekan-rekan saya yang konon sebagai kaum Millenial kelas menengah ngehek dan tidak boros ini enggan belanja? Apakah kami sedemikian pelitnya untuk mengeluarkan uang untuk pergi ke mal atau berbelanja ke pasar dalam rangka memajukan sektor riil di Indonesia?

rasanya kok enggak segitunya ya?

Berkaca dari rekan-rekan saya sesama generasi Milennial, saya menampik kalau kami ini dibilang pelit, lho.

Kami tidak pelit; perhitungan iya.

Jadi kalau ga hobi belanja, jadi apa yang dilakukan milenials dalam menggunakan uangnya? beberapa hal berikut mungkin bisa menjawabnya.

1.Jeli Aset

Rich Dad Poor Dad adalah buku ekonomi populer yang terbit pada tahun 1997 dan fenomenal. Tidak hanya melambungkan nama Opa Robert T Kiyosaki sebagai salah satu penulis ekonomi yang termashur, namun secara tidak langsung ia juga mempengaruhi banyak orang dalam mengelola keuangannya.

Bukan berarti semua anak Milennial pernah membaca buku ini, namun pengaruh opa Kiyosaki membuat orang-orang – bahkan dengan latar belakang non ekonomi pun – menjadi bisa membedakan mana yang aset dan mana yang liabilitas.

Sayapun mulai sadar keuangan ketika membaca buku ini. Sehingga seringkali terbawa dalam obrolan dengan teman sebaya – bahwa sebisa mungkin kita membeli aset, dan bukan barang konsumsi yang tak perlu-perlu banget.

Aset merupakan sumber ekonomi yang diharapkan memberikan manfaat usaha di kemudian hari. Aset dapat berupa investasi, emas, properti dan lain-lain.

Nasihat dari orang tua pun demikian : Nak, kalau ada uang ditabung, lalu beli emas – begitu kata mereka.

Nah karena baju, dan barang-barang konsumtif lainnya sejatinya bukan aset, sedangkan kami memiliki penghasilan kelas menengah pas-pasan yang harus diperhitungkan secara seksama pengeluarannya – tentu saja kami berusaha untuk bisa membeli aset.

Berkaca dari teman-teman saya sesama milenial, bukannya mereka tidak belanja barang-barang konsumsi lho. Hanya kecenderungan, prioritasnya berbeda. Membeli kamera, pulsa, handphone atau barang elektronik lain itu oke, karena bisa menunjang produktivitas. Selebihnya, mungkin agak mikir-mikir karena daripada belanja ya lebih baik ditabung uangnya terus dibeliin aset.

Karena bagi kaum milennial, memperbanyak aset adalah Koentji.

2. Lebih Suka Berinvestasi, daripada Menabung

Menabung di Indonesia agak sulit. Maksudnya, jika menyimpan uang dalam deposito, ada pajak 20% yang akan dikenakan kepada bunga. Jika menabung di Bank, kami harus ‘ikhlas’ memberi kepada bank berupa uang administrasi, biaya kartu dan biaya-biaya lain yang jumlahnya selalu lebih besar daripada jumlah bunga yang kami terima tiap bulan.

Belum lagi Bank Indonesia akan menimpakan fee top up kepada uang elektronik yang digunakan. Menabung menjadi terasa tak menarik sehingga kami beralih ke bentuk ‘tabungan’ yang lain yaitu investasi.

Karena kami adalah kelas menengah yang belum punya banyak uang, kehadiran instrumen investasi dalam bentuk retail menjadi andalan.

Contohnya saja seperti Reksadana – yang merupakan salah satu pilihan investasi yang baik karena biayanya kecil, investasi dapat berkembang, dan bisa dibeli mulai dari harga ratusan ribu saja.

Oh, termasuk juga Sukuk dan ORI yang menarik untuk dipantau besaran bunga dan bagi hasilnya, ketika terdengar isu pemerintah akan menerbitkannya!

Atau emas dalam bentuk batangan yang bisa dicicil pembeliannya di Pegadaian atau Antam.

Atau yang lagi hits, beberapa rekan berinvestasi dalam bentuk cryptocurrency serupa BitCoin, Ether dan teman-temannya.

Persoalannya adalah, kebanyakan investasi membuat uang menjadi tidak liquid. Artinya, uang tidak dapat digunakan setiap waktu layaknya jika kami menyimpan uang di Bank. Hal ini kemudian membuat sedikit banyak membuat kami berfikir buat belanja. Lha gimana mau belanja kalau uangnya kebanyakan ‘mengendap’ bukan dalam bentuk uang?

Kemudian lagi, ketika pemerintah mengeluh bahwa kaum Millenial terancam tidak memiliki rumah di masa depan karena permintaan KPR yang kecil, itu mungkin bukan karena kami tidak mau memiliki rumah. MAU BANGET LAH.

Namun lagi-lagi ada banyak penyebab yang melatarbelakanginya seperti (1)Harga rumah sangat muahal, sedangkan gaji segitu-gitunya (2)Kami masih nyaman tinggal di rumah orang tua/mertua/kontrakan sembari mencicil DP rumah idaman (3)Kami tinggal di rumah dinas (4)Kantor nyuruh mutasi muluk beberapa tahun sekali gimana mikir mo punya rumah yak?

3. Marie Kondo, Steve Jobs dan Mark Z, Terima Kasih!

Ketika beberapa rekan melihat Steve Jobs dan Mark Z, mereka merasa takjub. Takjub karena dengan karya dan kekayaan yang luar biasa, kedua orang hebat itu bergaya biasa-biasa saja.

Sophia Amoruso – salah satu generasi Milenial di US sana – bahkan pernah mengatakan bahwa uang memang terlihat lebih baik ketika berupa nominal di simpanan, daripada bertengger dengan manis di kaki dalam bentuk sepatu mahal.

Belum lagi adanya pengaruh dari Mbak Marie Kondo yang membuat hidup sederhana menjadi terlihat sangat-sangat keren. Jika anda membeli satu barang, maka keluarkan juga satu barang dari rumah anda!

Aish. Makin selektiflah kami mengeluarkan uang untuk berbelanja. Lagi pula kalau baju yang layak pakai masih ada, mengapa harus membeli yang baru? Menuh-menuhin lemari aja.

Orientasi dalam membeli barang juga sudah bergeser : Alih-alih membeli karena ingin, kami membeli barang lebih karena butuh;

Alih-alih untuk gaya-gayaan, hayuk membeli barang untuk menunjang produktivitas!

4. Sensitif Cashflow

Saat ini, banyak dari generasi milenial yang memilih untuk tidak menjadi karyawan. Mereka kemudian bekerja sebagai pedagang, freelancer, pengusaha, pekerja remote – yang mau tak mau membuat mereka lebih sensitif terhadap cashflow.

Salah seorang rekan mengaku bahwa sebagai seorang freelancer, setiap akan membeli sesuatu, ia akan membandingkan terlebih dahulu harga dari sebuah barang konsumsi sekunder dengan bayaran yang ia terima per projectnya, apakah worth it?

Itulah sebabnya ia tidak akan berbelanja secara impulsif karena ada ‘remnya’. Ia menimbang terlebih dahulu sebelum membeli : apakah suatu barang layak untuk harga yang harus ia bayar?

Tak terkecuali dengan rekan-rekan yang berprofesi sebagai karyawan. Mereka membiasakan ‘membayar’ diri mereka dahulu sebelum mereka menghabiskan uang gaji yang diterima. Dengan memanfaatkan fasilitas AFT (Automatic Fund Transfer) untuk ‘menyelamatkan’ uang gajian, mereka memilah dana untuk masuk lebih dulu ke pos investasi, rekening orang tua, kebutuhan hidup, hingga membayar tagihan.

Kalau ada sisa uang, baru untuk belanja! 😀

5. Travelling Serupa Aset

Lhaa katanya sudah tau mana aset mana bukan? kenapa travelling bisa dibilang aset?

Travelling serupa intangible aset. Mengapa? karena ketika Travelling mereka akan mendapatkan pengalaman yang harganya mahal – lebih mahal rasanya daripada biaya travelling itu sendiri.

Jika ada yang bilang bahwa anak Milennial hobi travelling semata-mata demi memperindah akun Instagram, itu tidaklah sepenuhnya benar. Niat milennials untuk travelling tidaklah secemen itu.

Adalah rasa excited pergi ke tempat baru, bertemu dengan penduduk lokal, mencicipi makanan yang mereka makan, tertatih-tatih berbicara bahasa lokal, terasa sangat menyenangkan sehingga tak masalah jika harus menenteng ransel berat untuk backpakeran, atau tidur di emperan, atau menginap di rumah orang via airbnb atau couchsurfing.

Lalu, aset berupa pengalaman travelling ini, dapat menjadi ‘bahan bakar’ untuk lebih produktif dalam bekerja, mendorong milenials menjadi lebih kreatif, dengan bonus membuat akun Instagram menjadi lebih keren! 😀

6. Belanja Online

Millenials adalah generasi yang praktis. Karena itulah kami menggandrungi Gojek, Uber, E-commerce, email, snapchat, twitter dan teman-temannya. Sehingga jika kami boleh berkata : tolong Pemerintah, transportasi online jangan diberangus dong, plis.

Demikian halnya dalam berbelanja. Kalau bisa beli online kan ga harus ke mal. Misalnya ketika sedang mencari kamera, maka kami akan melakukan survei harga dengan cara gugling alih-alih pergi ke mal. Ketika kamera yang dirasa tepat sudah ditemukan, baru kami akan eksekusi dengan transfer uang, atau cod, atau cicilan nol persen kartu kredit selama 12 bulan.

Kesimpulannya : belanja online memang dirasa jauh-jauh lebih aman untuk kemaslahatan isi dompet dan isi rekening 😀

Bayangkan jika belanja ke mal. Sudahlah waktu habis berjam-jam, belum lagi banyak biaya-biaya sampingan seperti biaya makan, biaya parkir, biaya tergoda cewe cowo barang lain yang lebih kinclong – karena kalau jalan-jalan di mal, sejatinya memang rentan lebih banyak penglihatan, ya kan?

Jadi millenials ga ke mal lagi nih?

Masih, lah! kami masih berbelanja kok, terlebih di mal. Terutama untuk makan-makan, hangout dan minum kopi. Hanya untuk belanja, karena sudah ada alternatif belanja secara online, berbelanja di mal menjadi tak sesering dulu ketika ecommerce belum berdigdaya.

Saya sendiripun masih suka membeli secara langsung untuk barang-barang yang agak riskan dibeli online – seperti sepatu, misalnya.


Tentu saja ‘kami’ dalam bahasan di atas masih jauh jauh jauh dari prematur untuk lalu bisa mewakili Generasi Milennial di Indonesia.

Kami dalam bahasan di atas mungkin hanya berupa saya, saya, saya, teman-teman kantor, tetangga, teman-teman sekolah, yang sesama milennials juga. Namun, jika saya berkaca dari mereka mengenai hal-hal tersebut di atas, kemungkinan besar teman-teman juga memiliki pendapat yang sama, betul tidak? Ayok acung tangannya! 😀

Atau ada yang punya pendapat lain mengenai kecenderungan generasi Milennial yang enggan berbelanja? pastinya bukan karena kita pelit kan? Menurut kamu bagaimana?

Advertisements

20 Comments

  1. Sebagai generasi 90an, aku mau coba berbagi pendapat ah.

    Sama seperti yang mbak Nina bilang, generasi milenial nggak terlalu suka membeli barang yang investasinya tanggung. Sukanya itu barang fast moving (makanan, minuman, kosmetik) atau yang long lasting, seperti investasi yang mbak bilang tadi. Aku sendiri nggak suka kebanyakan baju, menuh-menuhin lemari aja. Dan bener, generasi milenial loves traveling! Kayaknya udah jarang banget orang yang perhatiin baju, lha wong “gembel” aja bisa naik pesawat ke Jepang. Orang lebih suka saling menanyakan aset (rumah, mobil, perabot, dan pengalaman traveling)

    1. That so true! rasanya kalau dulu orang-orang merhatiin apa yang orang lain pakai, sekarang lebih merhatiin orang kemana aja, apa yang mereka lakukan disana, atau orang bisnisnya apa gitu ya. Kita sudah ga terlalu ‘mendewakan’ barang-barang yang hanya sebatas ‘penampilan’ Aah senangnya ada yang sependapat 😀 terima kasih sudah memberi komentar, Matius! 🙂

  2. wakakakaka.. aku ketampar bacanya.. udah bertaon2 gak pernah beli baju sendiri.. selain baju2 dari hasil goodie bag memenuhi lemari, ternyata banyak juga pakaian kado ultah yang masih bagus….. sepatu juga masih bagus…. trus ini jumlah baju akan terus bertambah kalo makin banyak acara yang diikuti… wkwkkw.. jd mikir, lah ini masih pada bagus ngapain sik kudu beli lagi?

    trus iya setuju juga. sekarang larinya uang untuk golongan kelas menengah ngehek sepertiku tu kalo gak kuota internet ya travelling. karena kuota butuh buat kerja yangkadang nyaris 24 jam… kalo travelling juga gak jauh2 dari kuota sih… demi konten travelling kudu niat segala macem. wkwkwk. untuk baju, pakaian lama masih oke kok dipake. wkwkwk

  3. iya sih, ketika jaman dulu menganggap aset berupa rumah, sekarang asetnya berupa kamera canggih buat ngevlog terus dari ngevlog bisa jadi pendapatan 🙂

    urusan investasi, dengan berbagai kemudahan sekarang sebenarnya investasi makin mudah dan beragam. Untuk generasi yang masih bingung, kayaknya dibuat menarik dengan tetap ada kata nabung, semacam nabung saham, nabung reksadana, nabung emas 😀

  4. kalau aku sih masih suka belanja ke mal-mal gitu mbak, sekalian refreshing..
    walupun terkadang juga online juga kalau lagi kepepet pengen beli saat pandangan pertama, hahahaha

    1. Ke mal masih oke sih buat refreshing, cuma intensitasnya belanjanya yg mungkin agak berkurang karena udah bisa belanja online juga. terima kasih sudah kasih komentar ya mbak dewi 😊

  5. wah dalem tulisannya .. saya koq jadi berat bacanya, minta tolong di ulang lagi penjelasannya .. hahaha
    baca2 tentang konsumsi turun ini memang cukup ramai … tulisannya Rhenald Kasali cocok juga untuk disimak

    1. Waktu nulis ini memang sedikit emosi, tulisannya jadi agak acak adut. harap dimaklumi, hehe. Kalau Pak Rhenald tulisannya sangat mengagumkan, saya kepingin bisa menulis seperti beliau. Kata-katanya tersusun teratur dan inti tulisan dapat tersampaikan dengan jelas 😊

    1. memang sudah terjadi penurunan berbelanja di mal sih mas. Bloomberg menyebutkan data dari Matahari dan Ramayana. Tapi kalau aku sih tetep ke mal ya. Meski intensitasnya udah ga kayag dulu waktu sebelum dunia online berdigdaya 😊

  6. dan aku juga uda males beli baju, baju semuanya dikasi *ga modal bgt ya lah aku mikirnya org uda ada ngapain rogoh kocek lg mending bwtbbeli emas 🤣😂 *emak2 jaman now begitukah?krn aku lbh baik kumpulin duit beli emas mba saat kebutuhab mendesak bisa lgsg jual gampang masuk investasi juga kan y emas 😂

    1. Jiaaah berarti sesuai mbak, aku dan temen-temenku juga gituuu ahahaha. Sayang ya beli apa-apa yg mahal, mendingan dibeliin emas duitnya bisa berkembang *eaaa 😄 tapi tetep nolak dibilang pelit ah, lebih tepat perhitungan sih 🤣🤣🤣

      Btw mbak bajumu kelebihan ga mbak, sini lempar-lempar ke akuh 😂

Cool People Say :