Sang Bapak di Meja Bundar

Hidup terkadang memberikan anda pelajaran melalui siapa saja yang dikehendakinya.

-Nina Fajriah-

Saya sedang berada di sebuah pertemuan, duduk mengelilingi meja bundar yang diisi dengan enam orang. Sembari menunggu acara mulai, saya menghabiskan waktu dengan mengobrol. Kebetulan saya duduk bersebelahan dengan teman saya dari SD dan Istrinya. Ketika itu saya baru sebulan resign dari pekerjaan terakhir saya. Pertanyaan yang masih hot tentu saja ‘kenapa kok resign?’ karena sang teman sudah saya anggap lebih mirip keluarga daripada teman, saya tak kuasa menumpahkan segala alasan panjang kali lebar mengenai sebabnya saya resign – yang biasanya tak secara gamblang saya beberkan ke orang lain.

Namun postingan ini tidak akan bercerita mengapa saya resign dan apa yang melatarbelakanginya. Karena itu sudah saya tuliskan secara tersirat pada tulisan yang ini. Salah satu tidak enaknya (atau enak?) menjadi orang yang hobi menulis adalah – anda tidak piawai menyembunyikan apa yang sedang ‘nyangkut’ di benak anda. Anda pasti gatal ingin segera menuliskannya kemana saja – dari Microsoft Word yang diprotect password hingga curhatan alay di blog.

Kembali ke meja bundar dimana saya sedang ‘curhat’ dengan teman lama saya dan istrinya. Tiba-tiba seorang Bapak yang posisi duduknya di seberang saya memotong pembicaraan kami bertiga dengan semena-mena.

‘Memang mbak cita-citanya dulu apa?’ tanyanya sambil tersenyum.

Saya kaget. Saya tidak kenal beliau. Sang bapak rupanya menyimak pembicaraan kami sedari tadi. Padahal saya merasa sudah berbicara dengan suara teramat pelan. Apakah beliau mencuri dengar?

‘Eh ya itu Pak. Cita-cita saya dulu kerja di Bank’ jawab saya salah tingkah

‘Sudah tercapai ya mbak?’

‘Alhamdulillah’ ujar saya. ‘tapi toh resign juga Pak, hahaha’

‘Dulu kenapa pingin kerja di Bank?’ kejarnya lagi

‘Karena apa ya Pak? Karena duit orang Bank biasanya banyak Pak’ jawab saya sekenanya.

Jelas itu hanya jawaban dead end. Berharap sang Bapak menyudahi percakapannya dan saya bisa melanjutkan mengobrol dengan teman saya.

‘Hahaha kebanyakan orang begitu ya’ katanya lagi ‘Padahal itu ga bener loh’

Serta merta saya merasa sebal. Wah keterlaluan. Masak iya baru pertama kali bertemu, si Bapak bisa-bisanya langsung menjudge alasan saya untuk memilih cita-cita ga bener? Halah. Ingin rasanya pindah meja dan tempat duduk saat itu juga.

‘Kesalahan umum yang terjadi ketika orang tua menanyakan cita-cita pada anaknya adalah, mereka selalu mengimingi bahwa uang yang utama’ tambahnya lagi

‘Maksud Bapak?’

‘Seperti ketika orang awam bertanya pada anaknya : kamu ingin jadi apa nak besar nanti? Si anak menjawab : jadi dokter Pa. Si Bapak berkata : wah iya bagus. Dokter uangnya banyak. Sekali praktek saja sudah dapat duit berapa. Demikian juga dengan cita-cita menjadi Insinyur, atau menjadi Gubernur, yang dipikirkan adalah bagus, karena profesi itu terpandang dan menghasilkan banyak uang. Dan itu kita tanamkan ke anak-anak kita, dari generasi ke generasi. Tidak heran jika Indonesia menjadi seperti sekarang ini’

Saya tertegun

‘Di Indonesia kebanyakan orang memilih profesi karena mengejar uang, sebagai contoh oknum yang menjadi pejabat dan yang berada di Legislatif, yang utama mereka pikirkan adalah uang. Soal amanat yang mereka emban itu soal nanti, soal belakangan. Yang penting punya jabatan, banyak uang. Sehingga jangan heran kebanyakan mereka mengejar uang dengan berbagai cara. Ketika ketahuan korupsi malah menyiram orang dengan air keras. Karena orientasi utamanya uang dan bukan amanah pada pekerjaan’

Sampai sang Bapak berbicara di titik tersebut, saya teringat dengan salah seorang dokter kandungan wanita yang pernah saya datangi ketika saya hamil dulu.


Sang dokter memang terkenal dan memiliki banyak pasien. Ketika giliran saya masuk ke ruangan beliau, sang dokter terkesan terburu-buru dan ingin cepat selesai. Ia hanya menjelaskan sekenanya, lalu memberi banyak obat yang tidak dijelaskannya untuk apa. Sebagai ibu hamil, saya tidak sempat bertanya dan berkeluh-kesah. Toh meski saya bertanya, setiap pertanyaan saya dijawab dengan jawaban yang singkat tanpa penjelasan yang berarti. Saya sadar bahwa mungkin ia sedang mengejar kuota untuk mengambil pasien sebanyak-banyaknya yang memang sudah mengular di luar sana. Prasangka buruk saya waktu itu adalah It’s all about the money. It’s all about the dam dam dara dam dam. Entah benar atau tidak prasangka saya tersebut, yang pasti saya kecewa. Kalau memang ia terburu-buru karena sesuatu hal, saya sebagai pasien lebih lega jika ia terus terang seperti : maaf saya buru-buru karena ada pasien yang akan operasi.

Puaskah saya dengan pelayanan dokter tersebut? Tidak.

Bermanfaatkah ia? Jika memberi ibu hamil banyak obat bisa dikatakan bermanfaat, ya. Namun tetap saya tidak merasa terbantu.

Apakah saya lalu kembali lagi memeriksakan diri saya kesana? Tidak.  Itu adalah kali pertama dan kali terakhir saya ingin berkonsultasi dengannya. Prasangka saya waktu itu adalah,

Ia tidak sungguh-sungguh peduli dengan keadaan saya.

Lalu saya berpindah dokter kandungan. Seorang wanita juga. Ia hanya melayani pendaftaran lewat telefon. Ia membatasi pasiennya dalam satu hari ia praktek. Jika saya tidak mendaftar dahulu sebelum saya datang kesana, saya akan disuruh pulang dan mendaftar untuk praktek esok harinya. Ketika saya datang dan berkonsultasi dengannya barulah saya tahu mengapa ia membatasi pasiennya. Ia selalu menjawab pertanyaan dengan penjelasan yang detil. Ia bertanya tidak hanya pada sang ibu – namun juga pada suami saya. Ia menjelaskan apa yang terjadi pada layar USG dengan bahasa umum yang saya dan suami mengerti. Ia seolah ingin tahu bahwa keadaan saya benar-benar baik-baik saja, tanpa kendala yang berarti dan suatu hal yang harus diantisipasi. Ketika saya memeriksa berapa lama saya dan suami berada di ruangan periksanya, adalah kurang lebih satu jam – satu jam yang berkualitas.

Puaskah saya dengan pelayanan dokter tersebut? Sangat puas

Bermanfaatkah ia? Sangat bermanfaat

Apakah saya lalu kembali lagi memeriksakan diri saya kesana? Tentu saja. Beliau mendampingi saya selama 9 bulan masa kehamilan, hingga saya melahirkan.

Apakah saya ingin kembali lagi menggunakan layanannya? Beliau adalah dokter yang pertama kali akan saya cari ketika saya hamil anak saya selanjutnya. Anggapan saya waktu itu adalah,

Ia sungguh-sungguh peduli dengan keadaan saya dan uang bukan prioritas utama.


Kembali ke ruangan dan meja bundar.

Saya melihat sang Bapak dihadapan saya yang masih berbicara sambil tersenyum.

Rasa sebal saya memudar. Saya tidak lagi merasa sebal padanya. Saya tidak lagi merasa sebal karena ia sudah semena-mena menginterupsi percakapan saya dan teman saya. Saya malah senang ia telah menginterupsi. Saya menjadi tertarik mendengar penjelasan panjang pendek mengenai nilai yang diyakininya.

Sebagai anak muda yang sudah menjadi orang tua (anggaplah saya masih muda :p) saya seharusnya berterima kasih padanya karena sudah mengingatkan saya.

Bahwa ketika saya menanyakan kepada anak apa cita-citanya, saya harus berhati-hati agar saya tidak menjebloskan anak saya sendiri untuk menjadi seseorang yang menjadikan uang sebagai pusat alam semestanya.

Misalnya, jika anak memiliki cita-cita sebagai Pilot. Yang sebaiknya anda katakan sebagai orang tua adalah ‘wah bagus nak karena Pilot adalah profesi yang mulia. Ia mengantarkan orang-orang ke mana saja, ia membuat keluarga bertemu dengan keluarga, pebisnis bertemu dengan koleganya, dan ia membuat waktu banyak orang berharga’ tekankan pada manfaat profesinya dan bukan pada ‘wah bagus nak, Pilot gajinya besar’

Maksudnya, saya tidak naif dan berbasa basi

Uang itu juga penting, lho.

Namun Uang tidaklah sepenting itu untuk lalu bisa menggerus nilai-nilai kemanusiaan yang kita yakini. Menyiramkan muka orang dengan air keras untuk menutupi korupsi, itu perbuatan biadab. Uang tidaklah sepenting itu untuk lalu kita tempatkan di atas nilai-nilai mengemban amanah dan menjalankan profesi dengan bertanggung jawab. Ketika mati kita tidak akan ditanya kita bekerja dimana, apa jabatan kita, berapa besar gaji kita. Namun ketika mati, kita akan diminta pertanggung jawaban atas AMANAH PEKERJAAN yang harusnya kita jalankan.

Sang Bapak membuat saya mengamini bahwa saya tidak ingin anak-anak saya mengejar uang semata dalam kehidupannya – dalam profesi apapun yang nanti diembannya.

Saya menatap Bapak di seberang saya dan mengingat sederet kalimat penutup paling menusuk hati yang ia ucapkan :

‘Termasuk ketika anda kerja di kantor. Ketika sudah waktunya pulang ya pulang, kerja itu kan ada waktunya. Jika anda terus-terusan kerja over time untuk mengejar uang, sementara waktu untuk keluarga sedikit bahkan tidak ada, apakah anda lupa bahwa Keluarga anda, Anak-anak anda, adalah amanah juga bagi anda?’

Advertisements

26 Replies to “Sang Bapak di Meja Bundar”

  1. Kak Ninaaaa.. aku merasa tertohok.. padahal awalnya juga agak emosi sama si Bapak. End up aku pengin nangis setelah baca lanjutan ceritanya. 😦 Nice share, Kak. Aku boleh share link-nya ke socmedku?

    1. Silahkeuuun Ata Sayang 😘

  2. Bener ya kata si bapak.
    Kalo saya lebih mengarahkan anak mencoba apa yang dia sukai, entah itu nantinya akan banyak duit apa gak 😀😀

    1. Sip. Mengarahkan ke hal yang ia sukai, ditambah dengan menekankan ke amanah yang ia emban ya Nik 🙂

  3. Love this. Kalau aku dulu pingin kerja di bank karena ada 2 omku yang kerja di bank dan nampak “berhasil” 🙂 paradigma orang tua macam itu juga aku terima. “Lihat tuh om A dan om B, kerja di bank enak, pakaian keren, gajinya gede”

    Trus begitu mencapai posisi itu, resign dong aku hwhwhw. Jiwanya gak ke sana ternyata.

    Btw, aku sebetulnya masih bertanya2, apakah si bapak meja bundar itu bicara tentang hal lainnya yang masih berhubungan dengan cita-cita?

    1. Hal lain yang ia bicarakan adalah Kalau orang hobi berlama-lama di kantor ada kemungkinan ia datang dari keluarga yang tidak kuat ikatannya, sehingga ia tidak merasa butuh untuk segera pulang ke rumah, gitu :D. Mengenai cita-cita yang lain ga ada sih – hanya yang aku tahu beliau pengusaha – setalah sebelumnya jadi karyawan juga 🙂

      1. Nah soal orang yang berlama-lama di kantor ini bener juga. Inget dulu ada sempat pegawai kantor yang misuh-misuh karena si bos suka memperlambat kerjaan. “Lha dia kan gak mau cepet pulang karena suami gak ada. Saya ini ada usaha lain, anak istri nunggu di rumah.”

        Aku ngerasain juga sih, pas pindah ke kantor wilayah belom apa-apa udah dibilangin gini, “Haryadi, di sini gak kayak cabang ya. Pulang jam 8 itu udah cepet”

        Pas aku pindah, kadang kerjaan si orang ini nggak efektif banget. Makanya bisa pulang jam 8 atau 9. Aku ngeluh ke atasan lain, “kalau bisa cepet pulang kenapa harus ditunda-tunda sih? kan bisa istirahat, biar besok seger lagi”

        Ya begitulah hehe.

        1. Banyak orang yang masih punya pemikiran bahwa pulang malam dari kantor itu keren. Padahal kalau pulang malem tiap hari patut dipertanyakan apakah karena load kerjaan yang banyak atau individunya yang ga bisa manage kerjaan. Kalau memang load kerjaan yang banyak berarti perusahaan harus rekrut karyawan lagi-perusahaan harus khawatir karena mereka harus bayar lembur terus menerus; sementara kalau individunya yang memang ga bisa manage kerjaan, ya tanggung sendiri pulang malem tiap hari – dan jangan ngajak-ngajak orang seperti kata temenmu itu Om. Pendapat kita sama Om. Kalau memang jam 5 kerjaan udah beres terus pulang itu malah keren, karena berarti individunya bisa menghandle kerjaan dengan cerdas. Oh ya, temenku banyak juga yg resign dari tempatmu kerja dulu om, salah satu sebab adalah mosok iya jam 11 malem masih pada mau meeting. Warbiyasak 😀

  4. Alhamdulillah aku orang yang sepemahaman sama bapak tsb, karena bapak aku pun ngajarin hal yang sama. Senang sekali rasanya baca ini mba Ninaaaaa <3

    1. Terima kasih Fasyaaa. Bapakmu keren dong ya, pantes anaknya juga keren *ahoy 😘

  5. Setyagus Sucipto says: Reply

    Keberkahan, bukan tentang banyak tapi tentang keberkahan.

  6. Faisal Chairul says: Reply

    Love this. Ulasan diatas sedikit menohok diriku juga tp dgn alasan berbeda. Hehehe… Untuk mendidik anak tentu saja hal yg positif yg ditanamkan ke anak

    1. Ambil yang positif, buang yang buruk. Terima kasih sudah membaca 😊

  7. “Sang Bapak membuat saya mengamini bahwa saya tidak ingin anak-anak saya mengejar uang semata dalam kehidupannya – dalam profesi apapun yang nanti diembannya.”

    noted

    betul sekali mbak…jadi renungan nih

    1. Sama2 merenung kita 😀

  8. Sama mbak, kalau ada dokter kandungan yang sepertinya terburu-buru, piye ngono rasane

    1. Apalagi kalau anak pertama ya mbak, ehyandalah suka bingung, banyak yang dirasa, pengalaman belum ada. Lha kalau dokter kandungannya aja ogah ngejawab, si ibu hamil ini mesti tanya ke siapa toh? masak ke gugle mlulu ya Hahaha. Btw, Terima Kasih sudah mampir mbak 🙂

  9. baca ini jadi ingat sama kutipan soal cinta perusahaan dan keluarga, katanya kalo kamu meninggal perusahaan akan cepat mencari penggantimu sementara keluarga akan terus ada untukmu.. nice post kak 🙁

    1. Betul sekali. Terima kasih sudah membaca ya 🙂

  10. Aaaah, mencerahkan sekali ya Mbak Bapaknya 😀 meskipun sempet bikin kamu sebal juga :p 😀

    Eng… bener sih, banyak juga yang kayak kerja demi uang-uang-uang. Iya sih, uang itu penting. Tapi bukan berarti itu terpenting dan menepikan semuanya kan ya :’ Ada juga loh mbak, orang yang agamanya baik, tapi kalau udah bicara masalah uang, dia menepikan agamanya itu -_- huffffft lah yaaaaa.

    Semoga aku besok bisa jadi orang tua yang baik, yang mampu mendidik anak biar ga melulu tentang uang-uang, dan uang.

    1. Itu makanya ada peribahasa kalau tidak ada persaudaraan dalam uang, kalau kamu ingin lihat sifat asli seseorang hadapkan ia dengan uang, kurang lebih begitu hehe. Akupun senang setelah ketemu sang Bapak. Meskipun omongannya ‘pedes’ tapi yang beliau omongin itu bener. Aamiin Insya Allah kamu bisa jadi orang tua yang baik Feb, selain juga jadi orang tua yang kocak tentunya 🙂

  11. Nice one Mbak… Memang mestinya motivasi awalnya mestinya bukan uang ya. Jadi inget slogannya Suze Orman meskipun gak nyambung-nyambung banget di sini. People first, then money then things.

    1. Setuju Mas Dani 🙂

  12. […] Baca juga : Sang Bapak di Meja Bundar […]

  13. […] Baca Juga : Sang Bapak di Meja Bundar […]

Leave a Reply