Advertisements

[Blogger Perempuan Network 30 Days Blog Challenge] Day 30 : Target Blogging 2019

Target Blogging 2019. Dulu di blog sebelum Bonadapa, saya cuma ngeblog untuk senang-senang. Dimana dari tulisan awal sampek tulisan akhir isinya curhatan semua. Bahkan ada tulisan marah-marah ketika saya lagi sebal dengan seseorang. Eh tu orang baca pulak blog saya, benar-benar stalker sejati. Jadilah kolom komentar dipenuhi oleh adu argumen dimana saya dan orang tersebut masing-masing merasa paling benar.

Tahun berlalu, waktu itu android baru launching dan di keluarga besar yang menggunakan android hanya saya. Sehingga kalau android saya kenapa-napa saya tak tahu bertanya pada siapa. Suatu hari saya menemukan permasalahan pada hp saya dan bingung sendiri. Akhirnya saya kutak katik sampai menemukan solusinya, lalu saya tulis di blog.

Ternyata di luar dugaan, tulisan tersebut banyak di share, di kutip, di agregat oleh situs-situs lain. Ternyata tulisan saya yang sederhana, yang tidak sampai 500 kata bisa dibaca banyak orang karena bermanfaat. Kenapa? karena di luar sana banyak pengguna android yang sama bingungnya seperti saya. Mengais-ngais informasi di Internet untuk mendapatkan pencerahan.

Dari sini saya mulai sadar bahwa blog punya dampak yang signifikan sebagai salah satu media informasi. Karena pengalaman satu orang dengan orang lainnya berbeda. Karena pengalamanmu bisa menjadi pengetahuan yang berguna bagi orang lain yang belum atau akan mengalaminya.

Fokus saya menulis blog mulai bergeser.

Saya mulai berusaha menulis hal-hal informatif yang ada faedahnya, meski sesekali nulis curhat colongan juga, hahaha.

Tahun bergulir, di Bonadapa pertama kali saya mendapatkan tawaran menulis di blog dan dibayar. Saya kemudian berfikir, kenapa tidak? toh brand dan klien yang menugaskan saya untuk menulis, menggunakan Bonadapa untuk sharing informasi juga.

Dan informasi ini terkadang sulit mereka tempatkan di platform lain, seperti kanal berita dengan gaya bahasa yang itu-itu saja.

Alasan kami menggunakan blog karena blogger menulis sesuai dengan gaya mereka. Dimana gaya bahasa yang mereka gunakan terasa lebih cair dan lebih santai, berbeda dengan gaya bahasa yang kita temui di kanal berita. Kami harap dengan cara penyampaian yang demikian, informasi yang kami berikan lebih mudah tersampaikan ke masyarakat luas.

-salah satu klien saya.

Sejak saat itu, saya menerima tulisan berbayar dengan hati senang. Namun Bonadapa memiliki persyaratan yang tidak boleh dilanggar.

Pertama, informasi yang disampaikan harus positif dan berdampak positif. Karena itulah saya tidak akan menerima tulisan dalam bentuk campaign politik – terlebih jika campaign tersebut dimaksudkan untuk memuji orang yang membayar dan menyudutkan lawan politiknya.

Saya juga tidak menerima campaign yang berdampak negatif, berkonotasi negatif, mengandung SARA, hoax, berbau unsur penipuan dan lain-lain.

Karena sebagai empunya blog, saya tetap memiliki tanggung jawab moral atas apa-apa yang sudah Bonadapa publish – karena ketika sudah masuk ke world wide web, semua orang bisa membacanya.

Kedua, untuk review produk berbayar, sebisa mungkin saya akan mencoba produknya dulu selama beberapa waktu agar bisa menulis secara objektif.

Ya tapi ini tergantung produknya juga sih. Saya bisa saja mencoba produk pakaian atau kosmetik, misalnya. Tapi untuk mereview gadget atau mobil, saya ragu kalau klien mau meminjamkan barang mereka, uhuhu. Padahal kan mayan juga kalau dipinjemin Alphard barang sebulan *mimpi hahaha

Karenanya ketika mereview gadget atau mobil atau barang-barang sejenisnya, saya akan menulis mengenai spesifikasi saja tanpa menulis pengalaman pemakaiannya – ya wong ndak pernah pakai gimana mau nulis tentang itu yak! hehehe

Tapi sebagian besar gadget HP yang saya tulis di Bonadapa, memang saya menggunakan produknya. Hanya satu dua tulisan gadget yang berbayar – dan yang saya bahas adalah spesifikasi saja, tanpa pengalaman pemakaian.

Ketiga, saya menulis yang utama adalah untuk pembaca dan bukan untuk Brand semata. Karenanya meski tulisan berbayar, saya tetap menulis dengan objektif. Saya berusaha menulis mengenai informasi apa yang sekiranya pembaca blog cari dari produk tersebut. Dan saya menulis berdasarkan pengalaman yang saya temui ketika mencoba produknya.

Ada salah seorang teman yang skeptis lalu menanyakan : “lo kok nulis yang bagus-bagus aja sih mengenai produk X?ya itu karena produk X MEMANG bagus.

Karena kalau ada kekurangan, PASTI akan saya tuliskan juga dengan penjelasan yang seksama. That’s why tolong tulisannya dibaca baik-baik, karena informasinya sebagian besar sudah ada di tulisan, gitu.

Terkadang ada yang bikin frustasi. Contohnya adalah ketika saya menulis dan memuji tentang Santa Grand Hotel Bugis Singapura. Salah seorang pengunjung blog nanya dengan kalemnya MBAK ITU HOTELNYA RECCOMENDED GA YAAAA???

set dah, jadi saya berbuih-buih nulis sampek ratusan kata KAGAK DIBACA, RUDOLFO?

Plis deh dibaca dulu tulisannya baru nanya dong, uhuhuhuhu. Nanti kalau ada yang belum jelas boleh banget nanya lagi. Tapi jangan nanya hal yang jelas-jelas sudah jelas. Wong tulisan saya muji-muji kok masih nanya reccomended apa enggak, ayo dong budayakan membaca sebelum bertanya *nenggak obat naek darah

Keempat, Bonadapa punya rate card tertentu yang apabila tidak disepakati maka saya juga tidak akan menerima jobnya. Jadi ya, saya tidak bisa menerima semua tawaran yang masuk di Bonadapa. Ada yang saya tolak juga. *kibas poni *macam udah banyak aja penawaran yang masuk yak muahaha. Tapi ini sebagai salah satu bentuk auto seleksi juga sih sebenernya. Meski Bonadapa di dunia blogging masih bak remahan rengginang di dasar kaleng Khong Guan, namun saya ingin Bonadapa tetap terjaga kualitasnya 🙂

Saya juga banyak belajar dari teman-teman blogger lainnya. Banyak yang lebih strict dari saya, terlebih blogger dengan niche. Saya kenal seorang blogger kondang yang sering menolak campaign hanya karena produk brand tersebut tidak sesuai dengan niche blognya. “Masa blog aku travelling nulis tentang minimarket? ga mau lah!” katanya

Jadi masing-masing blogger terkadang punya peraturan tertentu terkait blognya dan itu gapapa banget lho.

Terus apa sekarang Bonadapa hanya fokus menerima tulisan berbayar saja? yha enggak laah. Tujuan blog ini dari awal sampai sekarang masih jelas kok, saya tidak kehilangan arah. Menerima tulisan berbayar juga tidak membuat saya kehilangan tujuan ngeblog.

Saya tetap suka menulis hal-hal yang saya ingin tulis.

Dua tulisan saya yang paling banyak dibaca yaitu tentang Jetstar dan Hotel Santa Grand itu bukan tulisan campaign.

Tulisan Blogger Perempuan Network 30 Days Blog Challenge 2018 yang saya tulis selama 30 hari berturut-turut, juga free dari campaign, dan merupakan salah satu bentuk keseriusan saya untuk terus menekuni dunia blogging.

Which is ternyata nulis tiap hari itu ternyata tidak mudah ya, Esmeralda. Sempet keteteran juga saya hahaha

Banyak lagi yang saya dapatkan dari ngeblog dan ga melulu soal materi. Ilmu, pengetahuan, pertemanan dan wawasan bisa bertambah dari kegiatan ngeblog. Karena itulah saya merasa hepi untuk terus menulis di blog.

Jadi gapapa nih jadi blogger yang menerima tulisan berbayar?

Eh bien, pilihan hidup itu banyak sekali, jangan dibuat sempit. Do as you like, do as you want. Kalau nyaman menerima tulisan berbayar, ya terima. Kalau tidak nyaman, ya gapapa juga.

Kalau lebih nyaman bikin tulisan untuk mengejar lomba blog, ya teruskan. Kalau ga suka ikutan lomba blog, ya ga salah juga.

Tidak ada yang satu lebih tidak nista daripada yang lainnya kok. Kecuali jika kamu melakukan sesuatu yang merugikan orang lain, itu baru nista. Nah kalau Allesandro Nesta itu pemain bola. *apalah ngahaha. Pokoke just enjoy the process writing a blogwhether it is paid or not! ^^

Jadi apa target blogging saya di 2019?

Saya rasa saya hanya akan meneruskan perjalanan, lalu sesekali berhenti di cafe terdekat, menikmati menyesap kopi hitam untuk mengupgrade ilmu, atau belajar hal-hal baru.

Jika sudah waktunya untuk berjalan lagi, saya akan tetap berjalan di jalan setapak yang sama, sambil mengkhidmati perjalanan tersebut pelan-pelan, menikmati semilir angin sepoi dan pemandangan di sepanjang jalan.

So, be it. Karena tulisan ini merupakan tulisan penutup untuk BPN 30 Days Challenge, maka dengan ini saya nyatakan Blogger Perempuan Network 30 Days Blog Challenge 2018, selesai.

YUHUUUUUU !! *tebar confetti 😀

Advertisements

[Blogger Perempuan Network 30 Days Blog Challenge] Day 29 : 5 Situs Informatif yang Sering Dikunjungi

5 Situs Informatif yang Sering Dikunjungi. Baca berita itu penting. Tahu apa yang sedang terjadi di dunia itu penting. Terlebih dengan banyaknya hoax yang menyebar di sana sini, jadi crucial untuk tahu kenyataan yang sebenarnya. Kenapa baca dan bukan nonton? karena saya sudah jarang banget nonton berita di tv. Sekalinya nonton berita juga agak bikin malas ya, karena sudut pandang beritanya bisa jadi beda. Tergantung stasiun tvnya sedang berpihak ke kubu politik yang mana.

Yang jadi andalan saya ya situs-situs yang berita yang bertebaran di Internet. Ga ada yang istimewa sih, karena situs-situs ini pasti dikunjungi oleh orang-orang lain juga setiap hari.

Yang pertama, saya pasti buka MSN, karena beritanya lengkap. Sekali buka, saya bisa membaca berita politik, kriminal, lisetyle dan lain-lain. Jadi tiada hari tanpa buka MSN.

Yang kedua, saya biasanya baca Line Today. Ya benar teman-teman, saya adalah salah satu jamaah Line Today yang tersohor itu. Kenapa baca Line Today? karena kadang-kadang beritanya ada yang beda dengan MSN. Maksudnya, berita itu ga ada di MSN eh di Line Today ada. Malah dulu, ketika belum langganan Viu, saya nonton episode terakhir Goblin di sini lho. Jadi one stop solution gitu. Mau baca berita bisa, nonton drama Korea juga ada.

Yang ketiga, saya baca Kontan.co.id. Apalagi kalau saya kepingin tahu tentang perkembangan reksadana, atau sukuk atau ORI. Berita di Kontan tentang keuangan sangat lengkap sih, kalau mau lebih spesifik lagi bisa ke Infovesta.com

Yang ke empat, standar banget lah. Biasanya saya buka berbagai sosial media dimana terkadang beritanya malah lebih up to date daripada situs berita beneran. Bukalah Facebook dan Twitter. Udah ngeh banget deh apa yang lagi ramai dibicarakan di Indonesia.

Yang terakhir adalah WordPress. WordPress kan platform blog bukan berita? ya emang sih, tapi siapa bilang wordpress tak bisa informatif. Ketika saya buka beranda di wp, maka muncul tulisan-tulisan blogger yang saya ikuti. Dan senengnya karena berita dari blogger ini ga bakal ada di situs berita manapun. Macam apa pergi ke mana, siapa pakai kamera apa, siapa mereview produk apa.

Dan saya benar-benar merasakan kehadiran blogger sangat bermanfaat terlebih ketika saya butuh informasi yang mendesak. Biasanya tulisan blogger kan lebih detil dan lebih jelas juga. That’s why your experience might be usefol for others, bloggers. So just keep writing and sharing informasi yang bermanfaat, ya!

Baca juga : [Blogger Perempuan Network 30 Days Blog Challenge] Day 28 : 5 Situs Belanja Asik dengan Produk Berkualitas

Gimana? situs-situs pilihan saya standar banget ya? its okay yang penting informasi yang saya dapatkan dari semua situs-situs itu mengisi hari-hari saya untuk tahu sedang apa dunia, dan untuk tahu juga kabar teman-teman saya sesama blogger di wordpress. Kamu belum follow blog ini? follow yuk, nanti aku follow balik 🙂

Adios!

[Blogger Perempuan Network 30 Days Blog Challenge] Day 28 : 5 Situs Belanja Asik dengan Produk Berkualitas

5 Situs Belanja Asik dengan Produk Berkualitas. Internet benar-benar sudah mengubah cara orang-orang dalam berbagai hal. Cara berkomunikasi, cara mendapatkan hiburan – yang dulu pasif menerima apa yang televisi sajikan, sekarang suka-suka gue lagi mau nonton apa dan pake channel apa – cara mendapatkan informasi, dan yang ga kalah populer adalah cara berbelanja.

Berbelanja online, ibarat koin yang memiliki dua mata sisi. Di satu sisi sangat menguntungkan baik bagi pembeli maupun penjual. Namun di sisi yang lain karena sifatnya yang online – dimana pembeli tidak bertemu langsung dengan penjual dan pembeli tidak langsung dapat memegang barang yang dijual – menjadi celah bagi banyak oknum untuk melakukan penipuan.

Karena itulah geng, mbok ya hati-hati dalam berbelanja online. Jangan mentang-mentang lihat tas Fossil harga dua juta dijual lima ratus ribu udah senang bukan kepalang. Gelap mata langsung transfer uang ternyata setelah sampai bahannya bukan dari kulit melainkan kantong kresek, hah.

Karena itulah juga saya suka lihat-lihat dulu kalau ingin belanja online. Kira-kira trusted seller ga ya? kira-kira barangnya sesuai gambar ga ya? kira-kira sesuai ekspektasi ga sih? dan Alhamdulillah sebagian besar saya sukses sih belanja online melalui situs-situs yang terpercaya cencunya. Berikut 5 situs belanja online yang terakhir bertransaksi dengan saya 🙂

1.Zalora.co.id

Meski uang pas-pasan, saya punya kecenderungan untuk lebih memilih belanja barang yang asli, bukan kw. Apalagi semenjak kerja sebagai freelancer di bidang kreatif, yekan. Rasanya jadi lebih berat untuk beli barang-barang kw yang jelas-jelas bajakan dan merugikan orang-orang kreatif yang bekerja untuk brand yang asli *uhuy

Eh tapi ini beneran lho. Jadi misalnya, saya kan jelas belum mampu beli barang LV, ya saya ga mau beli LV kw yang harganya ratusan ribu. Daripada beli LV kw, mending saya beli tas DOWA yang asli – yang harganya ada yang ratusan ribu, kira-kira gitu lah ya.

Ooh jadi belom pernah punya barang kw nih nin? adaaa banyak juga sih. Tapi itu dulu ketika masih berada di jaman kegelapan. Sekarang sih sudah dapat pencerahan jadi beli barang yang terjangkau sama isi dompet aja, hehe.

Yak terus apa hubungannya sama Zalora?

Kusenang belanja di Zalora karena yang jual barang kebanyakan vendor ya, jadi misalnya kayag Osella atau Levi’s atau Giordano, buka toko di sana. Jadi barang yang dijual di Zalora kulebih yakin asli, bukan kw dan bukan abal-abal. Selain juga karena Telkomsel poin ngasih diskon 25% sepanjang tahun ini di Zalora. Baek ya Telkomsel, tahun depan lagi dong hahaha.

2.CottonInk.co.id

Tanya dong, nina merk bajunya kebanyakan apa? ngahahaha kurang kerjaan banget ya nanya-nanya gini.

Eh tapi aku jawab nih. Kebanyakan Cotton Ink! Bagi saya beli baju di Cotton Ink tuh ga pernah gagal. Selalu puas sama kualitasnya. Terus juga model bajunya yang lucu-lucu, bikin hati jadi senang. Coba lihat koleksi Archipelagonya deh. Jadi itu koleksi Cotton Ink untuk baju batik mereka, dan koleksinya menggoda iman, menguras dompet banget. hahaha

Saya ingat waktu masih ngantor kan hari Selasa-Jumat pakai batik tuh, nah banyak yang tanya saya beli batik di mana, karena motif dan warnanya yang ga pasaran. Saya kasih tahu lah, di Cotton Ink. Lagi pula Cotton Ink itu kan brand lokal ya, jadi itung-itung mencintai ploduk ploduk Indonesia lah 🙂

3.Mamayayaproject.com

Jadi karena baru melahirkan dan punya bayi yakan, banyak lah kebutuhan bayi yang harus di beli. Nah kemarin kubeli disini nih, Mamayaya. Tadinya tahu Mamayaya dari Instagram, terus jadi seneng karena ada websitenya, jadi bisa pilih-pilih lebih puas.

Kusuka Mamayaya karena barangnya bagus, bahannya juga bagus, dan desainnya yang unik dan lucu-lucu. Pokoke rekomendasi buat yang mau belanja baju-baju dan perlengkapan bayi deh 🙂

4.Urban Icon.co.id

Ini alasannya sama dengan Zalora, karena barangnya asli dan bukan kw. Meski saya kalau mau belanja di sini juga mesti nabung dulu sih, secara barang-barangnya memang premium punya 🙂

Atau biasanya saya nungguin diskon lah, dalam setahun Urban Icon bisa kasih diskon beberapa kali, makanya follow juga Instagramnya biar kalau lagi diskon jangan sampai lepas, hehe

5.Onmezzo.com

Suka belanja di Onmezzo hanya ngincer satu merek : TLTSN! (The Little Thing She Needs) Secara saya penggemar sepatu teplek, dan koleksinya TLTSN ini lucu-lucu dan harganya juga kantong friendly. Terakhir saya beli TLTSN dapat harga Rp100 ribu aja dong buat sepatu jellynya – seneng!


Jadi itulah ke 5 situs belanja favorit yang terakhir bertransaksi dengan saya. Tulisan ini bukan tulisan berbayar, jadi saya menulis berdasarkan pengalaman pribadi. Semoga dengan belanja di trusted seller yang harganya terjangkau dan barangnya berkualitas, jadi pengalaman yang menyenangkan untuk terus belanja secara online. Boleh dong aku dikasih tahu juga tempat belanja online favorit teman-teman, tulis di komentar ya ^^

[Blogger Perempuan Network 30 Days Blog Challenge] Day 27 : 5 My Simple Pleasure

Di film pertama Harry Potter, saya selalu ingat kata-kata Dumbledore ketika menerima siswa baru Hogwarts di tahun ajaran baru : “Happiness can be found in a darkest of time, if one only remembers to turn on the light”. Entah kenapa quote ini selalu saya ingat karena maknanya yang bagi saya cukup meaningful.

Karena terkadang kita tidak bisa memilih dan hanya bisa menerima apa yang hidup berikan kepada kita “halo hidup, gue cuma mau nerima yang enak-enak aja dong!” Namun setidaknya kita masih bisa memilih reaksi kita terhadap hidup. Iya kan teman-teman?

Jadi kurang lebih maksudnya gini, lho. Seberapa buruk hidup kamu, ya jangan tenggelam-tenggelam amat di dalamnya. Pasti masih ada kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang bisa kamu rasakan – asalkan kamu mau melihat dan peka merasakan kebahagiaan-kebahagiaan sederhana itu. *ngomong sama diri sendiri

Bagi saya sendiri bahagia ga mesti pergi liburan ke luar negeri, atau punya barang bermerek. Meski kalau pergi ke LN atau beli barang bermerek hepi banget juga hahaha. Tapi ada hal-hal sederhana yang ditemui sehari-hari sudah bikin hati saya senang. Ini beberapa di antaranya :

1.Make my Parents Happy

Karena sekarang saya sudah jadi orang tua, rasanya sekarang saya makin berusaha juga untuk menyenangkan orang tua. Caranya kebanyakan sederhana sih, macam ngebeliin pempek hingga memberi uang. And I do it not only for them, but also for me. Karena ketika melihat orang tua bahagia, saya juga jadi bahagia – bangets.

2.Working from Home

Dulu ketika saya kerja di kantor, saya agak sangsi bahwa kerja dari rumah bisa sebahagia ini. Sekarang senang aja karena saya masih bisa bersama anak-anak, dan masih bisa menghasilkan uang dari rumah. Bisa melepas anak ke sekolah, dan menyambut mereka pulang sekolah itu meski receh namun rasanya bahagia, lho.

3.Watching Korean Drama Whenever I Like

This is the perks of being a stay at home mom and remote worker, hahaha. Jadi selama 10 tahun ngantor dulu saya jarang banget bisa nonton Drama Korea. Moso iya selama 10 tahun itu cuma “That Winter, the Wind Blows” yang saya tonton, itupun ketika cuti melahirkan anak ke dua, hahaha syedih.

Semenjak resign saya jadi punya lebih banyak waktu untuk diri sendiri. Jadi kalau kerjaan di rumah sudah beres, atau kerjaan di rumah belum beres tapi saya mau istirahat ya saya nonton aja tuh drama korea hahahaha

Dan makin kesini tema drama korea makin keren-keren ya. Mulai dari dokter forensik, webtoon, sampek ke game AR bisa jadi tema drama dengan plot dan twist yang ciamik. Selain menghibur, bisa tambah pengetahuan juga euy, hehe.

4.Can Take a Nap

Karena saya orangnya susah tidur kalau siang. Padahal kalau bisa tidur siang dengan sakses rasanya bahagia ya. Terlebih ketika punya bayi seperti sekarang. Bisa tidur nyenyak di waktu malam jadi sesuatu yang langka untuk didapetin, hahaha

5.No Worries when it is Rain!

Palembang masuk bulan ber ber hujannya ga kira-kira. Kebahagiaan sederhananya karena kerja di rumah saya jadi ga harus cemas kalau pagi-pagi ngeliat hari hujan dan ga harus cengok ketemu banjir di jalan ketika sore-sore hujan seperti pulang kantor dulu.


Tiap-tiap orang pasti punya kebahagiaan sederhana versi mereka. Kebahagiaan sederhana versi saya belum tentu sama dengan kebahagiaan sederhana versi kamu. Tapi seberapa pun sederhana dan recehnya kebahagiaan tersebut, jika membuat hati senang ya lakukan saja. Karena yang mengerti diri kita kan cuma kita sendiri ya, that’s why being happy for ourself is important. Dan mudah-mudahan kebahagiaan ini nantinya bisa kita teruskan ke orang lain juga ya 🙂

[Blogger Perempuan Network 30 Days Blog Challenge] Day 26 : 5 Rekomendasi Produk Kecantikan dengan Harga Terjangkau

5 Rekomendasi Produk Kecantikan dengan Harga Terjangkau. Saking banyaknya produk kecantikan yang beredar di pasaran, kalau ketemu yang cocok rasanya senang banget ya, teman-teman. Cocok bukan saja karena enak digunakan di kulit atau bikin kulit terlihat sehat, namun juga cocok di harganya. Karena beberapa produk kecantikan harganya kan ada yg ampun-ampunan mahalnya ya (menurut saya).

Jadi daripada jadi korban brand beauty stuff yang tak berkesudahan, kalau saya sih selalu pilih produk kecantikan yang cocok plus dengan harga yang terjangkau. Biar apa? biar kulit tetap sehat dan kemaslahatan isi rekening tabungan tetap terjaga dong. Ish emang ada produk kecantikan yang begini? Adaaaa banget. Berikut produk-produk yang saya pakai.

1. Sariayu Hair Hijab Series

Saya suka produk ini karena efeknya di rambut yang ringan dan segar. Terus juga karena rangkaian produknya yang lengkap ya – mulai dari shampoo, conditioner, hair tonic hingga spray tonic yang harganya ga nyampe 100 ribu aja semuanya coba. Seneng kan ya ^^

2. Raiku Cleansing Cream and Toner

Raiku Anti Aging Toner

Raiku Anti Aging Cleansing Cream

Sebelum pakai Raiku, saya pakai Sariayu yang pembersih dan pelembab. Tapi setelah coba Raiku, ternyata produknya oke juga dan bikin wajah lembab dan terasa kenyal. Untuk harga memang agak beda jauh sih sama Sariayu. Untuk Cleansing Cream dan Toner dari Raiku saya harus merogoh kocek sebesar Rp.166.000

3. Lipstick Revlon

revlon
Gambar dari duty free on board.com

Saat ini saya memakai lipstick Zoya untuk di pakai di rumah. Tapi selalu saja kalau ga pakai Revlon, saya bisa menemukan kekurangan produk-produk lain yang saya pakai. Contohnya nih, lipstick cream Zoya ini enak banget ketika pertama kali di bibir. Tapi selang sejam dua jam kemudian, bibir saya jadi kering. Saya mikirnya ini mungkin karena tekstur bibir saya yang kering banget, sehingga susah beradaptasi dengan kebanyakan merk lipstick.

Apalagi lipstick matte, duh bisa mati gaya. Bibir saya bisa kering parah dan terlihat retak-retak. Karena itu, saya jadi lebih suka lipstick yang creamy dan glossy. Nah entah kenapa, dari jaman dulu sampek sekarang yang pas plek ketiplek di bibir saya cuma lipstick Revlon. Bukan Revlon yang mahal-mahal itu lho ya, tapi lipstick Revlon yang harga 30 ribuan itu, yang seri superlustrous. Pokoknya kalau pakai Revlon udah hilang keluhannya. Bibir bisa terjaga kelembabannya sepanjang hari, dan ga bikin bibir kering. Cuma terkadang cari Revlon yang warna peach atau light orange gitu kan susah ya, jadilah saya suka tergoda pakai merk lain. Tapi tetep ujung-ujungnya balik ke Revlon hahaha 🙂

4. Wardah Pelembab Aloe Vera

wardah

Jadi karena kulit yang kering, salah satu produk kesayangan saya adalah pelembab. Saya harus pakai pelembab setiap hari kalau enggak kulit wajah rasanya kaku-kaku. Nah pelembab saya tuh ganti-ganti, dan sekarang lagi pakai Wardah pelembab lidah buaya. Pertama kali coba saya suka banget karena bikin wajah jadi semriwing terus lembabnya juga tahan lama tanpa bikin wajah terlihat berminyak. Harganya Rp.28.750 aja, jadi wajah enak kantong senang, hehe.

5. Shylas Face Oil

Sebelum coba Shylas ini, saya belum kenal sama yang namanya face oil, lho. Jadi ketika coba pakai shylas, saya langsung jatuh cinta. Efeknya langsung banget terasa di kulit saya yang kering, bikin kulit terasa moist dan kenyal. Tapi karena namanya oil, memang bikin wajah terlihat berminyak. Jadi saya pakai si shylas ini pas malem aja, sebelum tidur. Paginya ga usah dipakai lagi, cukup pakai pelembab aja. Kulit rasanya enaaaak banget, hehe. Harganya? Rp.75.000 aja.

Jadi itulah ke lima produk kecantikan jagoan saya yang sekarang saya pakai. Yang pasti menjaga kesehatan kulit itu harus, bukan hanya agar supaya tampil cantik – namun juga sebagai salah satu bentuk rasa syukur kepada Tuhan dengan cara merawat pemberiannya sebaik-baiknya *cieh. Tapi saya emoh beli produk yang terlalu mahal ah, justru kalau ada yang alami saya lebih suka. Macam masker bengkoang, tomat, dan lain-lain.

Meski kalau dikasih SK II juga mau banget sih ya, hahaha.

[Blogger Perempuan Network 30 Days Blog Challenge] Day 25 : Kenangan Masa Kecil

Kenangan Masa Kecil. Saya merasa beruntung karena lahir di tahun 80 an (belum, saya belum tua hahaha). Itu artinya, saya merupakan salah satu generasi millenial yang merasakan asiknya hidup di dua jaman : jaman analog dan jaman digital. Jaman digital mulai menyentuh kehidupan saya ketika saya SMA. Ketika saya kuliah, kami mulai akrab dengan internet, blog, friendster dan teman-temannya. Namun sebelum jaman itu hadir, dunia saya adalah dunia analog yang tak kalah menyenangkan, lho.

Di jaman itu, salah dua barang elektronik yang rajin menyala adalah televisi dan radio. Sebagai anak yang dominan berotak kanan, radio memang tak lepas dari saya; terutama ketika saya sedang belajar. Ketika belajar, otak kanan saya cepat jenuh dan bosan sehingga harus mendengar musik. Dengan cara ini otak kanan sibuk mendengar musik, yang kiri bisa fokus berfikir. Begitu menurut yang saya baca mengenai fungsi otak kiri dan kanan.

Selain itu, masa kecil saya penuh dengan kenangan khas anak-anak milennial analog yang belum terpapar dunia digital sama sekali. Jika dikenang, rasanya lucu juga. Misalnya, :

1.Belum ada handphone, jadi kami harus menelepon ke telpon rumah jika ingin berbicara dengan teman. Bisa dibayangkan ya, semakin banyak teman semakin banyak yang harus ditelefon. Kalau ingin ngobrol grup – misalnya, kami akan bikin janji ketemuan di rumah salah satu teman. Saya biasanya naik sepeda ke rumah teman tersebut.

2.Belum ada internet, jadi kami benar-benar mengandalkan buku untuk mendapatkan informasi. Perpustakaan sekolah ramai dikunjungi untuk meminjam dan mengembalikan buku.

3.Sepulang sekolah, saya akan membaca buku – biasanya Lima Sekawan atau Enyd Blyton. Dengan begitu, imajinasi saya akan jalan-jalan ke tempat sesuai deskripsi di buku. Saya tidak bisa berharap banyak dari tv, karena film yang ditayangkan di televisi terbatas – hanya ditayangkan pada malam hari.

4.Serial-serial barat yang saya suka di televisi dulu adalah Friday the 13th, Remington Steel, Mission Impossible, Air Wolf, Mc Gyver, The A Team, dan Little House in The Prairie.

5.Tiap minggu pagi adalah surga karena bisa nonton kartun dari pagi hingga siang. Tidak ada anak-anak yang mau main ke luar rumah di hari minggu pagi.

6.Sore hari, baru kami ke luar rumah, main permainan yang bisa dimainkan secara berkelompok. Biasanya kami akan main kejar-kejaran, petak umpet, dan permainan tradisional lainnya di tanah lapang di dekat rumah.

7.Mengambil foto adalah momen yang berharga. Karena kamera masih analog, sehingga menggunakan roll film yang harus dibeli dan jumlahnya terbatas. Jadi jika fotonya gagal, ga ada cerita tuh bisa di delete saat itu juga terus diulang lagi. hahaha

8.Uang jajan saya waktu SD hanya 250 rupiah. Itu saja saya sudah bisa beli nasi uduk, pempek dan es batangan. Jadi ketika nenek saya yang di Jakarta datang dan memberi uang jajan 500 rupiah, saya rasanya seperti orang kaya, karena uang jajannya banyak hahaha

9.Jaman saya kecil sudah ada Chitato. Tapi saya tidak boleh makan chiki oleh ayah. Akhirnya saya suka sembunyi-sembunyi ketika makan Chitato. Biasanya saya akan ke pasar (dulu belum ada minimarket, yang ada warung. Di warung tidak ada yang jual Chitato jadi saya harus ke pasar) lalu makan Chitato di sekolah – tanpa ayah saya tahu.

10.Waktu SMP saya sering disuruh ibu ke pasar. Pegang uang Rp.5000 saya sudah bisa membeli ayam setengah, sayur mayur, telur, ikan dan bumbu dapur. Bayangkan sekarang duit 5000 bisa beli apa yaaa? 😀

Wah kalau mau diceritain kenangan masa kecil saya itu banyaaak. Teman-teman pasti juga gitu kan ya, masa kecilnya penuh dengan cerita. Tapi itu saja yang bisa saya ceritakan kali ini, kalau enggak tulisan ini sampek besok juga ga selesai nulisnya hihihi.

Nah, kalau teman-teman apa nih kenangan masa kecil yang paling berkesan? 🙂

[Blogger Perempuan Network 30 Days Blog Challenge] Day 24 : 5 Keinginan yang Belum Tercapai

5 Keinginan yang Belum Tercapai. Apakah tiap-tiap orang pasti punya keinginan yang belum kesampaian? belum tentu.

Bagi saya, yang namanya keinginan juga bisa berubah seiring waktu dan usia. Misalnya, cita-cita saya ketika sebelum menikah dengan sesudah menikah berbeda. Kalau dulu, karena masih single dan yang dipikirin cuma diri sendiri, cita-cita saya jadi bersifat individual-sentris.

Saat ini karena sudah menikah, dengan buntut tiga, cita-cita saya lebih bersifat family-sentris. Jadi jika cita-cita saya tidak mengganggu keseimbangan kehidupan keluarga ya akan saya kejar. Tapi jika mengganggu, saya tinggalkan.

Contohnya begini. Dulu cita-cita saya adalah kerja di Bank. Iya saya memang aneh. Keinginan kerja di Bank sudah ada sejak saya SD, tapi saya malah kuliah di jurusan Teknik. Setelah tamat kuliah keinginan saya tercapai. Saya benar-benar kerja di Bank, BUMN paling besar pulak. Keinginan saya kesampaian? iya, untuk sementara.

Saya bekerja bagai kuda tak masalah. Hampir setiap hari selepas maghrib saya baru touchdown rumah. Belum lagi ketika akhir bulan. Pulang jam 11 hingga 12 malam untuk tutup buku, sudah biasa.

Setelah saya menikah, orientasi saya akan cita-cita jadi berubah. Waktu itu saya kerja jauh dari suami, sehingga saya berfikir : untuk apa hidup jauh dari suami? akhirnya saya resign dan memilih kerja di Palembang.

Di Palembang saya kembali diterima di sebuah lembaga keuangan dimana saya sempat kerja selama 7 tahun di sana. Namun lambat laun saya merasa diri saya tidak nyaman. Kerja di kantor, waktu saya rasakan sangat demanding. Pagi saya sudah harus di kantor, saya pulang sore hari – kadang malam. Sabtu – minggu jika kantor ada acara, saya harus datang juga. Belum lagi di hari-hari istimewa seperti Ramadhan dan Lebaran; kantor mengadakan acara yang mengharuskan kehadiran para pegawainya.

Mungkin bagi kebanyakan orang biasa. Mungkin ada juga yang bilang ‘yah elah biasa kali nin kalau orang kantoran emang begitu. Kalau ga mau gitu ya ga usah jadi orang kantoran lah’ dan itu benar-benar saya pertimbangkan. Yang mungkin tak semua orang bisa relate adalah karena suami saya kerja bukan di Palembang, jadi otomatis saya dan manajer di rumah (Baca : ART) yang menghandle urusan rumah tangga dan anak-anak sehari-hari.

Karena itulah berat rasanya bagi saya jika saya diminta lembur, atau saya disuruh datang sabtu minggu, atau saya diharapkan hadir malam hari di acara-acara kantor yang mengambil waktu dimana seharusnya saya bisa bersama anak-anak.Meski sekali dua kali tak masalah, namun kalau kejadian tiap minggu kan berabe juga haha.

Makin lama saya merasa makin berat hingga akhirnya saya memutuskan untuk resign lagi.

Jangan salah, walau saya memutuskan resign, saya tetap beranggapan bahwa seorang wanita tetap harus berdaya. Meski saya sadar juga jika saya di rumah dan punya usaha, saya juga tidak bisa full time bersama anak-anak. Tapi setidaknya waktu saya jadi milik saya seutuhnya. Kapan saya pingin off, kapan saya ingin kerja, dapat saya sesuaikan dengan kebutuhan. Itulah keistimewaan orang yang berwirausaha. Dan karena itulah keinginan saya berubah.

See? Jadi untuk tema BPN hari ini mengenai 5 keinginan yang belum tercapai, saya akan menjawab singkat saja :

1.Saya ingin mendapatkan sekolah SD yang bagus untuk anak saya yang nomor 2.

2.Saya ingin ikut Family Gathering tahun depan namun belum tentu bisa karena adek yang masih berumur di bawah satu tahun.

3.Saya ingin lebih konsisten ngeblog.

4.Saya ingin punya konsep usaha yang akan saya kembangkan untuk selanjutnya.

5.Saya ingin belajar lagi hal-hal baru.

Yang jika teman-teman perhatikan, keinginan ini sebenarnya sudah saya tuliskan dalam tulisan yang ini. Jadi demikianlah tulisan saya untuk challenge BPN yang ke-24, semoga berkenan ya 🙂

[Blogger Perempuan Network 30 Days Blog Challenge] Day 23 : Kota-Kota yang Pernah Ditinggali

Kota-Kota yang Pernah Ditinggali. Sebagai seorang yang lahir di Palembang, sampai saat ini pun saya masih tinggal di Palembang. Cinta atau gimana nin? enggak gitu juga. Hanya perjalanan hidup membuat saya untuk selalu kembali ke kota ini *cieh *suara dawai mengalun pelan :p

Jadi ga pernah tinggal di kota lain tah? pernah. Tapi sebentar-sebentar, ga terlalu lama. Karena… ya itu. Selalu baliknya ke Palembang lagi dan lagi. Saya senang sih, karena ternyata jauh dari kampung halaman itu rasanya ga enak ya. Tapi ga bisa dipungkiri juga dengan keluar dari kampung halaman kita bisa mengenali diri kita sendiri dan mendapatkan pengalaman lebih banyak. Hihi.

Udah ah basa-basinya. Langsung aja yuk berikut kota-kota yang pernah saya tinggali di dalam kehidupan saya.

Jakarta

Jakarta itu bak datang dan pergi. Karena keluarga besar saya hampir semuanya tinggal di sini. Ya nenek, kakek, tante om dan sepupu-sepupu dekat. Kalau ditanya kampung halaman saya yang kedua apa? ya pasti saya sebut Pasar Minggu Jaksel deh. Karena saya dari kecil udah sering banget bolak balik Palembang Jakarta.

Ketika tamat kuliah akhirnya saya bener-bener stay untuk waktu yang agak lama, sampai beberapa bulan. Terus lagi setelah balik ke Palembang, eh saya malah keterima di Bank BUMN dan harus menempuh pendidikan di corporate university yang ada di Jalan Gatot Subroto Jakarta lagi.

Tapi kalau ditanya pilih mana enak tinggal di Jakarta apa Palembang, ku tetap pilih Palembang. Setelah dijalanin ternyata I’m not that kind of big cities kindda gal. Harus bangun sebelum subuh, naik kendaraan bermacet-macet, pulang kemaleman. Nope. THAT such a BIG OH NO for me 🙂

Sarolangun – Singkut, Jambi

Jadi setelah pendidikan, saya langsung di tempatkan di Kabupaten Bangko, Jambi sebenernya. Namun saya hanya bertahan sekitar sebulan disana sebelum dipindah lagi ke kota Sarolangun, Jambi. Di Sarolangun ini saya lumayan lama deh ada kali beberapa bulan, terus dipindah lagi ke Kabupaten sebelahnya lagi, namanya Singkut. Naah di Singkut ini saya lumayan lama staynya dan benar-benar jadi pengalaman yang akan saya ingat seumur hidup saya. Kenapa?

Karena di sini saya ketemu dengan orang-orang yang baeknya kayag malaikat semua, tanpa pamrih. Terdengar lebay ya, tapi bener deh kalau diceritain bahwa saya tinggal di rumah penduduk setempat tanpa membayar, pasti banyak orang bengong ya. Padahal baru kenal tapi udah dianggap seperti anak sendiri. Masalahnya saya udah berusaha bayar kos-kosan saya tapi malah yang punya rumah pasang tampang sebel kalau saya bayar kosan (duh). Jadilah saya beliin aja itu sembako tiap bulan. hahaha

Belum lagi ada pemilik warung makan yang saya anggap seperti mbah sendiri. Belum lagi rekan-rekan satu kantor yang Masya Alloh jadi rekan-rekan terbaik selama 10 tahun perjalanan saya di dunia kerja. Pokoknya banyak good memories yang terjadi di sini deh.

Manggar – Belitung

Dari Singkut saya dipindahin ke Manggar di Pulau Belitung. Bukan. Belitung bukan Bangka. Dari Belitung ke Bangka pun butuh enam jam perjalanan lewat laut dan naik pesawat selama 15 menit, jadi ya, Bangka dan Belitung itu ga deket-deket amat kok.

Nah di Manggar, salah satu Kabupaten di Belitung ini saya hidup mandiri banget deh. Saya ngontrak rumah sendiri, belajar naik motor, kemana-mana sering sendiri, karena ga banyak orang kantor yang tinggal di Manggar – mereka tinggalnya di Tanjung Pandan.

Tinggal di sini lain lagi bizarrenya, like magic. Mungkin karena semuanya indah ya, sunrisenya indah, sunsetnya indah, pantainya ampun-ampunan indaaah. Which is yang di film Laskar Pelangi itu hanya seper-berapa bagian pulau yang disorot dan itu udah indah banget kan ya, padahal aslinya lebih indah lagi, huhu.

Setelah resign dari Belitung dan kerja di kantor yang kedua saya cukup sering sih balik lagi ke Belitung buat dinas. Dan selalu kayag kena sihir kalau sudah ke pulau ini – ga tau ya saya ngerasanya beda aja sih. Pokoknya susah dijelasin dengan kata-kata hahaha.


Jadi itulah kota-kota yang pernah saya tinggali. Sedikit sekali ya. Untuk saat ini saya nyaman stay di Palembang. Tapi ga tahu ya kalau di masa datang hidup akan membawa saya ke mana. Siapa tahu kan Suami pindah penugasan ke kota lain atau ke Wakanda. Pokoknya kemanapun asal bersama keluarga dan ada terjangkau jaringan internet – ku merasa bahagia. Hahahaha

[Blogger Perempuan Network 30 Days Blog Challenge] Day 22 : Blogger Full Time atau Part Time?

Blogger Full Time atau Part Time? Untuk saya, menulis blog adalah hobi yang sulit untuk dihilangkan. Beberapa kali saya mencoba berhenti nge-blog, ujung-ujungnya masih kembali menulis juga. Ketika dulu masih jadi cungpret pun, saya selalu sempet-sempetin buat nulis blog meski kerjaan lagi hectic. Tapi saya tetap punya peraturan kalau saya ndak boleh curhat urusan kantor di blog. Maklumlah, kantor saya waktu itu banyak dramanya. Segala Drama Korea, Sinetron Azab-azaban dan Telenovela kalah dibuatnya. Kalau ku kebanyakan curhat nanti katanya bak pipis di tempat makan sendiri, ehe. Padahal kadang salut juga dengan blogger yang nulis My Stupid Boss ya. Tingkat kejenuhannya pasti sudah tinggi banget sampek nulis blog tentang her Stupid Bos sampek berjilid jilid. Muahahahah.

Tapi memang itulah faedah utama ngeblog : pikiran kusut jadi terurai dengan menulis, pun dengan pikiran yang buram, rasanya bisa jernih lagi kalau sudah curhat di blog.

Nah ngomongin soal blog, tadinya saya ndak tahu kalau blog bisa menghasilkan, sampai saya ikut sebuah komunitas yang membuka mata saya. Wah ternyata blog memang banyak peminat dan saat ini juga populer sebagai salah satu kanal bagi perusahaan untuk melakukan promosi produk dan layanannya lewat iklan di google. Waktu itu yang saya tahu cuma adsense.

Sampai suatu waktu ada email masuk ke inbox dari salah satu e-commerce yang menawarkan saya nulis tentang harbolnas. Saya sempat kaget, wah ternyata menulis di blog juga bisa dibayar toh? wuih saya ngerasa senengnya ampun-ampunan. Padahal waktu itu gaji saya (alhamdulillah) jauh di atas fee menulis. Padahal fee menulis cuma cukup untuk dibeliin 4 gelas Coffee Frappucino di Starbucks. Tapi senengnya kok ya luar biyasak hahahaha.

Ternyata setelah saya tengok-tengok ke blog tetangga, sudah banyak juga blogger-blogger yang mendapatkan proyek menulis dan dibayar. Wah saya membayangkan senengnya pasti berlipat ya. Sudahlah proses ngeblog itu menyenangkan – dibayar pulak. Wajar kalau kemudian saya menemukan beberapa orang yang kemudian menjadikan blog sebagai jalan ninjanya.

Lalu bagaimana dengan saya?

Saya terus terang tertarik jadi blogger full time. Tapi saya masih minder. Karena ilmu saya banyaaak kurangnya. Nulis aja terkadang masih banyak acak adutnya. Masih banyak yang harus saya pelajari.

Terus lagi, saya itu pemalas update blog. Kalau jadi blogger full time saya membayangkan ada yang bisa nulis sampek 5 artikel sehari. Kalau saya? wuih. Ikut challengenya BPN aja udah ngos-ngosan hahaha.

That’s why, maybe I just belong to the part time one.

Maksudnya, saya kan sekarang profesinya Ibu Rumah Tangga Profesyenel ya, jadi sebagai CEO di rumah, saya memang harus fokus di situ lebih banyak. Selebihnya waktu saya? ya ngeblog, ya ngebuzzer, ya jadi remote worker, ya jadi penonton VIU sejati dan pelanggan Netflix yang teladan (iya, akhirnya saya langganan Netflix juga! hohoho)

But who knows karena hidup terkadang tidak bisa ditebak. Kita berencana A tahu-tahu mendapatkan B. Who knows someday, I can be a full time blogger too 🙂

Baca juga : [Blogger Perempuan Network 30 Days Blog Challenge] Day 30 : Target Blogging 2019

[Blogger Perempuan Network 30 Days Blog Challenge] Day 21 : Pekerjaan Rumah Tangga yang Disukai

Pekerjaan Rumah Tangga yang Disukai. Sebagai ibu rumah tangga profesyenel dan Manajer di rumah, tentu saya harus bisa melakukan banyak hal. Mulai dari ngurusin anak dan suami, masak, mencuci, bebersih rumah, menggosok, endebra endebre.

Beberapa tahun menikah, Pak Suami sebagai CEO akhirnya mengizinkan saya untuk mencari seorang Staf (baca : Asisten Rumah Tangga (ART)). Biar kerjaan saya sebagai Manajer jadi lebih fokus dan saya bisa melakukan pekerjaan rumah tangga dengan lebih berkualitas.

Jadi karena saya sudah punya Staf, saya pilah-pilih dong mana kerjaan yang sekiranya saya suka lakukan dan mana yang tidak. Untuk kerjaan yang saya suka, saya akan kerjakan sendiri, yang saya ga suka, saya lempar ke Staf, hehehe

Kerjaan apa yang dilempar ke staf?

Yang utama adalah kerjaan yang paling saya hindari di rumah, yaitu Memasak.

WHAT? ORANG PADANG MACAM APA YANG GA BISA MASAAAK?

Orang Padang macam saya.

Dulu, saya pernah rajin sekali memasak ala-ala master chef. Tapi setelah rasanya ga karu-karuan lama-kelamaan jadi males deh saya masak. Pak Suami sesekali memuji masakan saya, tapi kan saya tahu ya kalau pujian itu ga sesuai dengan kenyataan. Apalagi ketika si Abang anak pertama saya bilang : Bunda itu bisa banget masak…

…tapi ga enak.

Besoknya saya langsung menggantung spatula saya. Dan ga pake acara nangis-nangis dong, ga kayag Spongebob waktu resign dari KrustyCrab. Sejak saat itu tugas memasak saya lempar ke Staf saya. Untunglah rasa masakan staf masih bisa dimaklumi, ga seperti masakan saya.

lha, jadi sukanya kerja apa di rumah na?

Well, selain main dengan anak, saya paling suka nonton korea beberesan rumah. Enggak. Saya orangnya ga rapi-rapi banget kok. Apalagi kalau soal mainan anak-anak. Wuih, lego dan mainan bertebaran dimana-mana. Tapi gapapa, kalau mainan anak kan bisa diberesin ketika mereka tidur aja.

Lagian kalau anak-anak ga suka main namanya bukan anak-anak. Nanti saya malah bingung kalau mereka kebanyakan ngetik kayag saya.

Hanya, saya jadi ga betah kalau rumah saya udah kayag Titanic habis numbur gunung es. Mulai deh saya beberesan, ga nunggu-nunggu staf lagi. Terkadang staf juga bantuin saya kalau dia lagi selow.

Oh dan saya adalah tipe pembuang. Maksudnya saya ga suka menumpuk-numpuk barang ga terpakai di rumah. Kalau sekiranya ga terpakai dan kondisinya udah jelek, ya buang. Kalau masih bagus, ya sumbangkan. Pokoke saya Marie Kondo banget lah *terus yang baca sign out ngahaha jangan dong.

Saya juga punya ketertarikan untuk ngatur-ngatur posisi perabot rumah. Dulu ketika punya kamar sendiri, saya bisa merotasi perabot di kamar saya setiap 6 bulan sekali. Biar apa? biar ga bosan. Kalau sekarang… udah lebih jarang. Tapi masih suka ngatur perintilan interior rumah supaya lebih enak dilihat. Intinya itu sik. Biar di luar rumah terlihat sederhana, tapi di dalemnya harus enak dilihat dan nyaman ditempati *ahzek

There. I’ve said it.

Kalau teman-teman kerjaan rumah yang disukai apakah? mungkin ada yang sukanya gonta-ganti warna genteng atau ngerenovasi rumah seminggu sekali? cerita dong 😀

Back To Top
%d bloggers like this: